
Acara dinner berlangsung dengan nyaman dan banyak sekali canda tawa dari Ari dan Salman.
Setelah dinner mereka kembali ke kediaman masing-masing. Asyi sangat senang melihat suaminya begitu bahagia saat bertemu dengan temannya. Begitu juga dengan Salman, ia merasa bahagia karena Asyi bisa mudah bergaul dengan mereka, meskipun Asyi tak jarang bertemu dengan istri temannya.
Sesampai di rumah mereka langsung ke kamar dan membersihkan diri.
//Mas langsung mandi aja// ucap Asyi sambil membersihkan sisa makeup nya.
Salman tersenyum sambil berjalan memeluk Asyi dan mencium leher Asyi.
//Mas...// panggil Asyi manja.
//Iya sayang// Ucap Salman tersenyum.
//Jangan macam-macam// pinta Asyi menatap Salman melalui cermin.
//Mas mau// ucap Salman manja.
Asyi tersenyum dan memalingkan wajahnya untuk menatap Salman.
//Mau apa Mas?// tanya Asyi lembut sambil memegang wajah tampan Salman yang kini jaraknya sangat dengannya bahkan dahi dan hidung mereka bersentuhan.
//Mas mau kamu// ucap Salman menggendong Asyi.
//Mas mau bawa Asyi kemana?// tanya Asyi menatap Salman sambil mengalungkan tangannya di leher Salman.
Salman hanya tersenyum menatap wajah Asyi dan kembali berjalan dan membaringkan tubuh Asyi di tempat tidur. Kemudian Salman menindihnya dan mengecup kening Asyi.
//Kita belum mandi Mas// ucap Asyi lembut.
//Setelah ini kita mandi ya// ucap Salman tersenyum dan kembali mencium bibir Asyi.
Asyi hanya bisa pasrah dengan keinginan suaminya. Kini mereka melewatinya dengan kenikmatan dan keikhlasan keduanya. Rasa cinta terus mengalir dari keduanya, sikap romantis selalu hadir dalam setiap perbuatan maupun perkataan, sehingga seakan tak ada yang mampu menghancurkan rumah tangga mereka.
Setelah menuntaskan hasratnya, Salman membawa Asyi ke kamar mandi untuk mandi bersama. Tak hanya itu, nafsu keduanya memang tak bisa dilarang. Kini mereka kembali berlabuh dalam hubungan cinta yang halal di atas ranjang. Kedua menikmati hingga mereka benar-benar merasa puas.
Sungguh indah bukan? Bercinta dengan yang halal. Siapa yang hendak melarang? Bahkan semua kenikmatan bernilai pahala.
Azan berkumandang membangunkan keduanya. Dengan segera mereka membersihkan diri dan melaksanakan shalat subuh berjamaah.
Pagi hari setelah sarapan, keduanya berangkat ke kantor seperti biasanya. Salman yang mengantar Asyi ke kantornya, kemudian berjalan menuju ke kantornya Salman.
Pekerjaan itu tidak membuat Salman bosan, bahkan mengantar istri kerja itu hal yang paling disukai Salman.
Ciuman di pagi hari menjadi balasan untuk Salman yang selalu mencintai istrinya.
Sesampai di kantor mereka semua sibuk dengan pekerjaan mereka. Terkadang disela-sela waktu, pesan cinta saling menyemangati keduanya.
Salman mengambil hpnya dan mengirim pesan untuk istrinya.
Pengirim :
//Sayang.. Mas rindu//
Balasan :
//Baru sebentar udah rindu aja//
Pengirim :
//Jadi gimana ni?//
Balasan :
//Ditahan aja//
Pengirim :
//Sesak tau//
Balasan :
//Perlu oksigen?//
__ADS_1
Pengirim :
//Mas rasa iya//
Balasan :
//Suruh sekretaris Mas belikan tabung oksegen//
Pengirim :
//Oksigen mas gak dijual, gimana hayo?//
Balasan :
//Lalu gimana?//
Pengirim :
//Sayang kesini, kasih nafas buatan untuk Mas//
Balasan :
//Itu memang maunya Mas//
Pengirim :
//Jadi gimana dong? Mas gak sanggup tahan lagi ni//
Balasan :
//Kalau begitu Mas buka pintu//
Pengirim :
//Loh kok, buka pintu?//
Balasan :
//Katanya butuh nafas buatan//
Pengirim :
Balasan :
//Ok//
Salman beranjak membukakan pintunya.
//Bapak butuh oksigen?// tanya Asyi mengalungkan tangan di lehernya.
//Sayang, kamu bikin Mas terkejut tau// ucap Salman memegang pinggang Asyi dengan tangan kirinya kemudian menutup pintu dengan tangan kanannya.
//Bapak terkejutkah?// tanya Asyi menatap Salman lebih dekat.
Salman menganggukan kepala.
//Kasihan bapak ini. Mau oksigen?// tanya Asyi lembut.
//Iya sayang, mau dicium// ucap Salman manja.
//Ciumlah// ucap Asyi membuka cadarnya.
Salman tersenyum dan hendak mencium Asyi kemudian terhenti saat mendengan suara pintu terbuka dengan segera Salman melepaskan Asyi.
Asyi merasa tertantang, dengan senyum di wajahnya, ia memegang pipi Salman dan mencium bibirnya.
Salman terkejut dengan reaksi istrinya dan melirik sekretaris yang sedang berdiri di depan pintu.
//Sayang, ada sekretaris Mas// ucap Salman.
//Kenapa Mas gak bilang// ucap Asyi melepas tangan di pipinya.
//Jangan balikan wajahmu. Tetap seperti ini, Mas gak ingin wajahmu terekspos// pinta Salman menatap Asyi.
__ADS_1
Asyi mengangguk kepala, kemudian menunduk.
Salman hanya tersenyum melihat Asyi dan kembali menatap sekretarisnya.
//Ada apa?// tanya Salman.
//Pak.. sebentar lagi kita meeting dengan klien// ucap sekretaris.
//Baik, kamu boleh pergi// ucap Salman.
Sekretaris mengangguk kepala dan segera pergi meninggalkan ruang Salman.
Asyi merasa lega dengan segera membalikan wajahnya. Namun tangan Salman dengan nakal tangan Salman meranggul pinggang Asyi.
//Ngapain lagi Mas?// tanya Asyi risih.
//Cium dong// ucap Salman tersenyum.
//Jangan bikin kesalahan yang sama Mas// Ucap Asyi lembut.
Salman tersenyum dan langsung mencium bibirnya Asyi. Mata Asyi membelalak kaget dengan sikap Salman yang spontan. Kemudian Asyi berusaha melepasnya. Namun tangan Salman menekan pundak Asyi agar dapat menciumnya lebih lama. Asyi hanya bisa pasrah, kemudian menutup matanya dan menikmatinya.
Merasa Asyi tak sanggup bernafas lagi. Akhirnya Salman melepas ciumannya dan tersenyum melihat Asyi.
//Thanks sayang// ucap Salman dan mencium kening Asyi.
Asyi mengangguk kepalanya dan memakai cadarnya kembali.
//Ayo ikut Mas meeting// ucap Salman.
//Gaklah Mas, Asyi mau balik ke kantor aja// ucap Asyi menolak.
//Ngapain balik ke kantor. Bentar lagi jam makan siang// ucap Salman mengambil hpnya di meja.
//Tapi Mas mau meeting// ucap Asyi lembut menatap Salman.
//Iya, makanya ayo// ajak Salman menarik tangan Asyi.
//Tapi Asyi bukan bagian dari kantor ini// ucap Asyi menghentikan langkahnya.
//Siapa bikang bukan bagian dari kantor ini? Sayang ini istri CEO, jadi apa salahnya// ucap Salman tersenyum.
//Tapi Mas// ucap Asyi menolak.
//Gak ada tapi-tapi. Sayang ikut Mas ya// perintah Salman.
//Ok. Asyi ikut. Tapi sini biar Asyi rapikan dasi Mas dulu// ucap Asyi menatap Salman.
Salman tersenyum dan membiarkan Asyi merapikan dasinya.
//Udah// Ucap Asyi
//Ayo kita pergi// ucap Salman memberikan lengannya untuk di rangkuk Asyi.
Salman keluar dari ruangannya bersama dengan Asyi kemudian disusul oleh sekretarisnya yang sudah lama menunggu bosnya.
//Bos..bos.. bikin orang iri aja. Oh Tuhan, aku ingin pulang ketemu dengan istri dan anak-anakku// batin sekretaris menatap kemesraan bosnya.
Salman dan Asyi menaiki satu mobil yang di kemudikan Salman, sedangkan sekretaris dibiarkan pergi dengan supir kantor.
Sampai di restoran mereka bertemu dengan kliennya Salman dan membahas beberapa project. Asyi hanya tersenyum menatap keseriusan Salman saat sedang bersama klien, kemudian ia terus fokus pada pembicaraan mereka. Karena sesekali Salman menanyakan pendapat pada Asyi.
//Pak. Terimakasih untuk waktunya// ucap klien sambil berjabat tangan dengn Salman.
//Sama-sama Pak. Senang bekerjasama dengan bapak// Ucap Salman.
//Iya Pak. Istri bapak sangat pintar. Saya percaya dengan kerjasama ini, project kita kali ini akan sukses// ucap klien tersenyum.
//Terimakasih atas pujiannya Pak// ucap Salman.
//Iya. Saya permisi ya// ucap klien.
//Mari saya antar// ucap Salman mengantarkan klien sampai ke mobilnya.
__ADS_1
Salman melihat kliennya telah pergi dan ia segera kembali ke dalam dan menemui istrinya yang sedang duduk menunggunya.