Cinta Dalam Taubat

Cinta Dalam Taubat
EP 69 : KEPUTUSAN YANG MENGEJUTKAN


__ADS_3

Asyi melihat Intan yang terbaring di rumah sakit menjadi iba dan merasa bersalah kepadanya. Ditambah lagi dengan sikap suaminya yang tiba-tiba berubah menjadi dingin.


Pikiran gak karuan, uring-uring dan kerja menjadi gak fokus, itulah yang dirasakan Asyi saat ini. Semuanya tertuju pada sikap Salman yang berubah dan Intan yang menjadi lumpuh karena menolong suaminya.


Kedatangan orangtua Intan ke rumah sakit membuat hati Asyi sedikit lebih lega. Ia merasa Intan ada yang jaga tanpa perlu bantuan suaminya yang begitu berlebih kepada Intan. Meskipun ia tau, suaminya hanya ingin membalas budi karena telah menyelamatkan hidupnya.


Namun disisi lain, siapa sih istri yang sanggup melihat suaminya begitu perhatian kepada wanita lain. Ditambah lagi mereka punya masa lalu yang hampir menghantarkan mereka ke pelaminan.


Berbicara dengan cinta masa lalu. Dada Asyi semakin sesak mengingat betapa bodohnya ia bertemu kembali dengan mantannya tanpa sepengetahuan suaminya.


Kesalahan itu adalah kesalahan fatal yang ia lakukan, ingin sekali menjelaskan kepada suaminya. Namun niatnya selalu tertunda karena Salman yang selalu berusaha menghindarinya.


Kini tekad Asyi sudah bulat. Apapun yang terjadi Asyi harus memaksa suaminya untuk mendengar penjelasannya. Urusan dimaafkan atau tidak biarkan itu menjadi urusan belakangan.


//Bi, Mas Salman ada dimana?// tanya Asyi menghampiri bibi. Ia baru saja kembali dari rumah sakit sore tadi.


//Den Salman ada di kamarnya non// ucap bibi.


//Terimakasih bi ya// ucap Asyi. Ia langsung berlari menuju kamarnya. Ia berharap dengan ini ia dapat menyelesaikan semua permasalahan yang ada.


//Bismillah// ucap Asyi membuka pintu kamarnya. Ia terus melangkahkan kakinya, hati begitu deg degan, namun ia mencoba bekerjasama dengan hatinya. Ia berjalan dan melihat ke seluruh kamar namun tidak ia temui Salman. Bahkan ia mencoba berjalan ke balkon, tapi juga tidak di temukan.


Dengan wajah lesunya ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang, dalam lamunannya ia mendengar suara percikan air yang membuat lamunanya buyar. Ia segera bangun dan mendekatkan telingan ke pintu kamar mandinya.


//Ternyata Mas Salman sedang mandi// gumam Asyi sambil tersenyum. Kemudian ia beranjak untuk mengunci pintu kamarnya. Itu salah satu cara agar suaminya tidak bisa lari darinya.


Asyi kembali duduk di sofa dekat ranjangnnya. Tak lama kemudian Salman keluar dari kamar mandinya dengan handuk di pinggangnya yang menutupi bagian bawah.


Salman hanya melihat sekilas Asyi yang sedang duduk di sofa, kemudian ia melangkahkan kakinya menuju lemari untuk mengambil baju dan celananya.


Asyi hanya memerhatikan Salman mengenakan baju. Ia tidak ingin berbicara sebelum suaminya selesai mengenakan bajunya. Karena akan tidak sopan jika harus berbicara hal penting ketika suaminya sedang mood yang tidak baik ditambah lagi saat ia pakaian.


//Udah cukup pandangnya?// ucap Salman merapikan rambutnya sambil melirik Asyi dengan sinis.


//Eh.. Maaf.. Hmm Mas boleh duduk sebentar? Ada hal yang ingin Asyi jelaskan// ucap Asyi lembut.


//Katakan// ucap Salman singkat yang masih berdiri jauh dari Asyi.


Asyi berjalan mendekati Salman. //Mas.. Asyi akui Asyi salah. Tapi semuanya gak yang seperti Mas lihat. Asyi cuma ketemu Rijal untuk menyerahkan kembali cincinnya dan Asyi juga bilang ke dia agar dia gak lagi mengganggu hidup Asyi, karena Asyi sudah punya suami. Gak lebih Mas// jelas Asyi berusaha tidak nangis.


//Udah cukup?// tanya Salman datar.


//Mas harus percaya sama Asyi// ucap Asyi meneteskan airmatanya.


//Mas gak bisa percaya. Mas gak tau berapa banyak kebohongan lagi yang kamu tutupi dari Mas// ucap Salman memalingkan wajahnya.

__ADS_1


//Demi Allah Asyi gak bohong Mas// ucap Asyi bersimpuh di kaki Salman.


//Tidak perlu kamu bersimpuh di kaki Mas, karena itu gak akan bisa menghapus sakit hati Mas karena pengkhianatan kamu// ucap Salman beranjak pergi.


Salman berusaha membuka pintu kamar yang terkunci. Asyi berlari dan memeluk tubuh Salman dari belakang. //Mas.. Asyi mohon maaf karena Asyi telah menutupi semua dari Mas. Tadi semuanya Asyi lakukan demi kebaikan kita. Asyi gak mau sesuatu hal terjadi dengan Mas// ucap Asyi menangis.


//Asyi lepaskan pelukan mu dan kasih kunci kamarnya// ucap Salman lembut.


//Asyi akan lepaskan jika Mas mau maafkan Asyi dan kita kembali seperti semula.// ucap Asyi mengeratkan pelukannya.


//Ok ok ok. Mas maafkan kamu, tapi lepaskan pelukanmu sekarang juga dan kembalikan kuncinya// ucap Salman pasrah.


Asyi tersenyum dan melepaskan pelukannya. Ia merogoh sakunya dan memberikan kunci ke Salman. //Terimakasih Mas//.


Salman mengambil kunci dari tangan Asyi dan segera membukakan pintu kamarnya. Ia masih tidak habis pikir, kenapa istrinya begitu nekad seperti itu.


Salman terus berjalan meninggalkan kamarnya. Asyi merasa sangat bahagia, meskipun ia merasa tindakannya konyol, tapi bisa membawa hasil yang begitu memuaskan baginya.


Hari terus berlalu. Asyi yang tadinya merasa senang karena Salman telah memanfaatkan, namun ekspetasinya tak sesuai dengan realita. Salman masih sangaja bersikap dingin kepadanya. Asyi kerap merasa kesepian, karena Salman jarang pulang ke rumah. Ia sering menghabiskan waktunya di kantor dan rumah sakit. Bahkan semuanya karyawan kantor kerap membicarakan keduanya yang tak lagi terlihat bersama, keromantisan yang dulu terjalin hanya tinggal kenangan. Kini hanya rintihan airmata yang menghiasi hari-hari Asyi. Semua kerabat dekat bahkan keluarga bertanya tentang permasalahan keduanya, namun Asyi menepis berita miring yang terjadi. Ia hanya menjawab suaminya terlalu sibuk dengan pekerjaannya, hingga tidak ada jadwal untuk berlama-lama dengannya.


Semua itu dilakukan untuk menjaga hubungan keduanya, mesri renggang, namun ia tak ingin membuka celah untuk bisa dimanfaatkan pihak ketiga.


Setelah pulang kantor Asyi menyempatkan dirinya ke rumah sakit.


Saat itu kedua orangtuanya Intan sedang menemani Intan di ruangannya.


//Sabar nak, Insyaa Allah kamu bakal sembuh// ucap Mamanya Intan sambil memeluk tubuh Intan.


//Tapi Ma, lihat kondisi aku sekarang Ma. Kaki aku cacat// ucap Intan menangis.


//Apa yang harus mama lakukan nak? Kita ke luar negeri yok, kita obati penyakitmu// ucap Mama.


//Gak usah ke luar negeri, disini fasilitasnya sudah lengkap. Intan harus rajin terapi biar bisa cepat jalan// ucap Papa Intan mengelus rambut Intan.


//Sampai kapan Pa? Sampai aku mati? Siapa yang mau sama aku Pa? Gak ada Pa..// ucap Intan frustasi.


//Aku yang akan bertanggung jawab Om, tan// ucap Salman yang baru masuk dan berjalan menghampirinya.


//Kamu mau menikah dengan anak tante?// tanya Mamanya Intan menatap Salman seolah ia gak percaya.


//Iya // ucap Salman menatap keduanya.


//Tapi kamu sudah punya istri Salman, gak mungkin kamu menikahi anak om// ucap Papanya Intan menatap Salman dan sesekali menoleh ke Intan.


//Jika Intan bersedia, Salman jadikan dia istri kedua Salman// ucap Salman serius.

__ADS_1


Asyi yang baru sampai di pintu mendengar ucapan Salman membuat hatinya hancur. Perlahan-lahar ia berjalan mundur dan pergi. Ia masih gak percaya dengan apa yang terjadi. Airmatanya turun bercucuran membasahi cadarnya. Tubuhnya semakin lemas dan tak sanggup lagi berjalan.


Brukk.. Asyi ambruk dan terjatuh di lantai. Suster yang melihatnya langsung mengangkat tubuhnya ke atas brankar dan segera mereka bawa ruang dokter.


Di ruangan Intan.


//Kamu jangan main-main Salman. Jika istrimu tau, dia pasti terluka dan gak mau menerima pernikahan ini// ucap papanya Intan serius.


//Saya gak main-main om, jika diizinkan Salman akan bertanggung jawab, dan Salman akan jelaskan ke istri Salman// ucap Salman serius.


//Pa, izinkan saja// ucap Mamanya Intan lembut.


Papanya Intan menatap wajah Intan. Intan hanya memberi anggukan kecil sebagai isyarat bahwa ia setuju dengan ide Salman.


//Baiklah, Papa setuju// ucap Papa Intan.


Mama Intan dan Intan tersenyum bahagia. Salmanpun ikut tersenyum.


Di ruangan lain.


Asyi perlahan membuka matanya. Ia melihat sekeliling ruangan. Tenyata ia barusa saja sadar dari pingsannya.


//Ibu sudah bangun// ucap dokter lembut sambil tersenyum.


//Apa yang terjadi dengan saya dok?// tanya Asyi menatap dokter.


//Ibu tidak apa-apa, hanya saja ibu terlalu lelah dan banyak pikiran, sehingga tidak bagus untuk ibu hamil// ucap dokter tersenyum.


//Hamil?// tanya Asyo kaget.


//Iya, ibu hamil sudah 3 minggu// ucap dokter.


//Asyi hamil 3 minggu? Bagaimana ini? Mas Salman mau menikah lagi, dan anak ini?// bathin Asyi bingung.


//Dok, boleh tolongin saya?// tanya Asyi menatap dokter dengan serius.


//Tolongin apa bu?// tanya dokter penasaran.


//Tolong dokter jaga rahasia kehamilan saya dan tolong jangan sampai ada satupun yang tau// ucap Asyi serius.


//Loh, kenapa bu? Bukannya ini berita bagus?// tanya dokter kaget.


//Iya bu, tapi saya ingin memberikan kejutan untuk suami saja dok// ucap Asyi berusaha menutup kenyataan yang ada.


//Baiklah, ini saya tulis resep untuk menguatkan kandungan ibu// ucap dokter sambil menulis resap obar.

__ADS_1


// Biak dok//Ucap Asyi.


//Sayang, kamu yang sabar ya. Jangan bikin mamamu kesusahan nak ya. Jangan minta macam-macam. Karena papamu sedang ada masalah, mama gak ingin membuatnya marah// bathin Asyi sambil mengelus perutnya dengan airmata yang menetes dari sela bulu matanya.


__ADS_2