Cinta Dalam Taubat

Cinta Dalam Taubat
EP 77 : SUAMIKU BUKAN SEPERTI SUAMIMU


__ADS_3

Salman dan Intan kelihatan sangat bahagia ketika mereka memilih sepasang cincin kawin. Itu semua jelas terlihat dari aura bahagia yangs mereka pancarkan.


//Mas ini bagus gak ?// Intan menunjukan cincin pada Salman.


//Bagus, coba kamu pakai// ucap Salman tersenyum.


//Pakaikan// ucapa Intan manja.


//Hei, kamu itu belum resmi menikah dengan abang ku, jangan gatal// ketus Mira menatap wajah Intan dengan tajam.


//Maaf, kalau begitu biar ku pakaikan sendiri// ucap Intan dengan mata berkaca-kaca sambil memakaikan cincin.


//Maafkan Mira ya. Kita belum muhrim. Tapi kamu tenang saja, ketika kita sudah menikah, jangankan memakaikan cincin, apapun itu akan aku lakukan untukmu// ucap Salman lembut menatap wajah Intan.


//Benarkah?// tanya Intan menatap wajah Salman penuh harapan.


//Iya// ucap Salman tersenyum.


Dug,, jantung Asyi detak kencang. Sekarang tak menerima dengan apa yang terjadi.


Hatinya bagai disambar petir di siang hari. Air matanya kian memenuhi matanya. Namun ia menahannya dengan melihat ke langit-langit atap agar air matanya tidak tumpah.


//Jangan menangis Asyi, aku mohon jangan menangis. Itu akan membuatmu rapuh dihadapan mereka// bathin Asyi menyemangati dirinya sendiri.


//Kak coba liat ini, bagus gak ?// tanya Intan memperhatikan cincin di jari manisnya.


//Bagus, cantik sekali// ucap Asyi lembut.


//Hanya ini yang bisa aku ucapkan, berpura-pura senang, meskipun hatiku sangat terluka. Membiarkan suamiku menikahi wanita lain// bathin Asyi.


//Karena kak Asyi bilang ini bagus, kita ambil yang ini saja ya// ucap Intan menyerahkan cincin pada Salman.


Salman tersenyum dan mengambil cincinya.


//Kami pilih yang ini ya// ucap Salman pada penjual.


-----


//Baju dan cincin sudah kita beli, sekarang ayo kita pulang// ucap Salman menatap mereka bergantian.


//Yok Mas, lagian kita harus banyak istirahat. Besok kan hari pernikahan kita// ucap Intan tersenyum.


//Iya, ayo kita pulang// ucap Salman tersenyum sambil mendorong kursi roda Intan.


//Abang kami duluan ya// pamit Mira.


//Loh, gak ikut bareng kami aja ?// tanya Intan mentap mereka.


//Kami bukan orang miskin yang harus numpang sama kalian. Meskipun miskin pun ogah satu mobil sama kalian// ketus Mira.


//Ayo kak// Mira menarik tangan Intan.


Asyi langsung berjalan mengikuti Intan.


*Di mobil Intan.


//Mira, tolong antar kakak ke rumah orangtua kakak ya// pinta Asyi lembut.


//Kenapa kakak kesana? Lagian kakak sendirian disana// ucap Mira khawatir.

__ADS_1


//Kakak mau menginap disana Mir, untuk malam ini aja// ucap Asyi penuh harapan.


//Kakak pulang ke rumah kami aja gimana?// tanya Mira melirik Asyi.


Asyi menyernyit mengerutkan keningnya.


//Iya, rumah Mira dan Mas Rama// ucap Mira tersenyum.


//Gak apa-apa Mir, kakak pulang ke rumah orangtua kakak saja. Lagian gak enak juga nanti sama Mas Rama// ucap Asyi menolak lembut.


//Mas Rama ngijinin kok// ucap Mira.


//Tapi..// ucap Asyi dipotong Mira.


Mira langsung menelpon Rama.


//Assalamualaikum Mas// Ucap Mira.


//Wa'alaikumussalam warahmatullah// ucap Rama.


//Mas boleh gak kalau kak Asyi nginap di rumah kita// ucap Mira penuh harapan.


//Boleh, tapi ada apa?// tanya Rama penasaran.


//Nanti Mira jelaskan saat Mas udah pulang kantor// ucap Mira lembut.


//Baiklah. Sekarang adek lagi dimana?// tanya Rama penuh perhatian.


//Ini lagi di jalan sama kakak// ucap Mira.


//Ya sudah, hati-hati ya. Assalamualaikum// ucap Rama.


//Nah, kakak sudah dengarkan, Mas Rama ngizinin kakak nginap di rumah kami// ucap Mira tersenyum.


//Baiklah. Terima kasih ya// ucap Asyi tersenyum.


-----


Di kediaman Mira.


//Kak kita udah sampai// ucap Mira membuat seatbelt nya.


Asyi membuka seatbelt dan turun bersama Mira.


//Wah, besar sekali rumah kalian// ucap Asyi.


Mira tersenyum dan membuka pintu rumahnya.


//Ayo kak, masuk// ucap Mira menuntun Asyi.


//Benar-benar mewah ya// ucap Asyi melirik seluruh sudut rumah.


//Ini semua Mas Rama kerjaan Mas Rama kak, mulai dari design rumah, interior, pokoknya semuanya deh kak. Mira cuma dikasih kunci rumah// ucap Mira tersenyum.


//Ayo kakak duduk disini// Mira menuntun Asyi duduk di sofa.


Asyi tersenyum dan mengikuti arahan Mira.


//kakak mau minum apa?// tanya Mira.

__ADS_1


//Sebenarnya kakak butuh kasur untuk merebah tubuh kakak// ucap Asyi menatap Mira penuh harapan.


//Kenapa gak bilang dari tadi. Ayo ikut Mira// ucap Mira menarik tangan Asyi.


Asyi berjalan mengikuti Mira ke lantai atas.


//Nah, ini kamar untuk kakak.// ucap Mira membuka pintu kamar.


//Untuk kakak? Kakak boleh tinggak disini selamanya dong?// goda Asyi.


//Boleh dong, kalau abang ngizinin// ucap Mira tersenyum.


//Walaupun gak ngizinin kakak tetap akan tinggal disini// ucap Asyi tersenyum.


//Bagus tu kak. Setidaknya Mira gak kesepian lagi di rumah yang besar ini// ucap Mira.


//Memangnya disini gak ada pembantu?// tanya Asyi penasaran.


//Ada kak, Mas Rama mempekerjakan 4 orang pembantu, 2 orang lagi pulang kampung dan 2 orang lagi di dapur.// jelas Mira.


//Katanya kesepian, masa 4 orang pembantu belum cukup untuk menemani adik ipar kakak ini// ucap Asyi mencubit lembut pipi Mira.


//Mereka sibuk sama pekerjaan mereka kak, gak ada yang bisa dengerin curhat Mira// ngeluh Mira.


//Ah kamu ini, meskipun sudah nikah. Tapi masih saja seperti anak kecil// ucap Asyi.


Mira tersenyum menatap Asyi.


//Kok bisa ya Mas Rama begitu betah sama kama, kalau kakak mah udah lama minggat// goda Asyi.


//Ihh kakak// Mira kesal.


//Hehehe kakak cuma bercanda// Asyi tertawa.


//Biar Mira kaya anak kecil, Mas Rama gak bakal ngeduain Mira// ucap Mira keceplosan.


Mendengar ucap Mira membuat Asyi bersedih dan memalingkan wajahnya.


//Kak, maafin Mira. Mira gak bermaksud// ucap Mira bersalah namun terpotong oleh ucap Asyi.


//Kamu gak perlu bersalah begitu, lagian benar yang seperti kamu bilang. Sebaik apapun kita dan seburuk apapun kita, kita tidak bisa lari dari takdir. Dan ini takdir yang kakak harus terima// jelas Asyi lesu menatap Mira.


//Kakak maafkan Mira// ucap Mira menyesal.


//Kamu gak salah Mir. Hanya saja takdir begitu kejam kepada kakak// ucap Asyi lesu.


//Tapi kak// ucap Mira lagi-lagi terpotong.


//Mungkin inilah jalan yang harus kakak tempuh untuk mendapatkan surga-Nya Allah// ucap Asyi tersenyum.


//Sekarang kakak mau istirahat// ucap Asyi berjalan ke kasur.


//Baiklah kakak, nanti kalau butuh apa-apa panggil Mira// ucap Mira.


//Terima kasih Mir// ucap Asyi tersenyum.


//Sama-sama kak, Mira keluar dulu ya// ucap Mira beranjak pergi.


Melihat pintu kamarnya kembali tertutup. Asyi merebahkan tubuhnya di kasur. Ia mengingat semua kejadian yang baru saja ia lewati. Dadanya terasa sesak saat ia memikirkan semua yang telah terjadi. Meskipun orang lain berkata jangan memikirkan apa yang terjadi karena itu akan membuatmu bertambah beban, tapi nikmatilah apa yanh terjadi. Tapi hal itu sangat sulit untuk ku, tanpa memikirkannya pun terus saja bayangan mereka menghantui diriku.

__ADS_1


__ADS_2