
Senyum bahagia selalu terlihat di wajah Mira. Perjuangan yang melelahkan kini terbayar.
Mira menyelesaikan pendidikannya dalam kurun waktu 3 tahun 7 bulan dengan predikat cum laude di bidang Ekonomi Islam.
Kini Mira menyandang gelar S.E di akhir ujung namanya. Putri Mira S.E
"Terima kasih untuk keluarga saya yang telah mensupport saya selama ini, dan saya ucapkan Terima kasih untuk suami saya baru-baru ini telah menjadi imam untuk saya." Mira mengutarakan rasa terima kasih di atas podium setelah menggenggam penghargaan.
Tepuk tangan terdengar bergemuruh menghantarkan langkah kaki Mira menemui keluarganya yang sudah berdiri menyambutnya.
Ucapan selamat dan cium pipi kanan dan kiri diterimanya tapi ia merasa ada yang kosong. Ia menyapu semua tempat dan bertanya, "Mas Rama sama abang Salman di mana?"
"Happy graduation, istriku." Yang dicari malah datang membawa buket bunga di tangannya. Mera tak berhenti senyum merasakan ciuman dikeningnya lalu mendapatkan buket bunga cantik.
"Thank you so much." Ke dua mata lentik itu sudah berair lalu jatuh buliran air mata haru itu.
"Jangan menangis! Make up nya luntur!"
Mira terkekeh lalu mengusap air matanya.
"Cengeng, selamat ya!" Salman datang mengucapkan selamat padanya.
"Makasih, Abang. Itu bunganya buat Mira ya?" Lirikannya jatuh pada buket yang dipegang Salman.
Salman tersenyum menggeleng lalu menyerahkan buket bunga untuk istrinya, seketika mata hazel itu membelalak.
"Happy birthday, Sayang." Salman menarik tubuh Asyi lalu meluncurkan sebuah kecupan di keningnya. Lantas Asyi meenganga, jujur setelah sekalian lama selain Aina dan keluarga pesantren belum ada orang yang spesial di hatinya yang memberikan ucapan selamat ulang tahun padanya."
Asyi terharu dan meneteskan air matanya.
//Terimakasih Mas// Asyi membalas Pelukan Salman.
//Mas tau darimana kalau hari ini ulangtahun Asyi ?// Asyi melepas pelukannya dan bingung.
//Mas ini suamimu, sudah pantasnya Mas tau kapan ulangtahun mu// Ucap Salman memegang pipi Asyi yang tertutupi cadar.
Semuanya mendekati Asyi dan memberikan ucapan selamat untuknya.
Acara wisudanya berakhir, semua keluarga kembali ke rumah Pak Kiai.
//Assalamualaikuml// Ucap Papa.
//Wa'alaikumsalam warahmatullah// Ucap Aina mendekat
//Loh, ini semua apa ?// Tanya Asyi bingung melihat sekeliling ruangan penuh dengan dekorasi ucapan selamat ulangtahun.
//Selamat Ulangtahun kakak ku// Ucap Aina memeluk Asyi.
Asyi terkejut taj percaya. Kemudian Ummi datang dengan Nasi tumpeng di tangannya.
//Nak, Selamat Ulangtahun ya// Tutur lembut Ummi meletakkan Nasi tumpeng dan segera memeluk Asyi.
//Terimakasih Ummi// Asyi membalas pelukan Ummi dan meneteskan air matanya.
//Sama-sama Nak// Ucap Ummi melepaskan pelukannya dan menghapus air mata Asyi.
__ADS_1
Pak Kiai memimpin doa. Asyi mulai memotong tumpengnya dan diberi ke Salman.
//Terimakasih kasih telah menjadi memilih Asyi sebagai istri Mas dan menjadikan Asyi sebagai makmunnya Mas// Tutur Asyi penuh kebahagian seraya menyuapkan nasi tumpeng untuk suaminya.
// Sama-sama sayang// jawab Salman.
Salman memasukan tangan ke sakunya dan mengambil hadiah untuk istrinya. Kemudian memberikan untuk istrinya.
//Apa ini Mas ?// Tanya Asyi terharu dan bingung.
//Buka lah// Ucap Salman tersenyum.
Asyi membukanya dan terkejut melihat hadiah yang diberikan Salman.
//Kalung ?// Ucap Asyi terharu
Salman mengangguk kepala dan sontak terkejut melihat Asyi tiba-tiba memeluknya.
//sekali lagi terimakasih Mas, Asyi sangat menyukainya// Ucap Asyi sambil memeluk erat suaminya.
//Iya sayang. Nanti balasnya di ranjang ya// Bisik Salman tersenyum menggoda Asyi.
Asyi langsung melepas pelukannya dengan wajah merah merona.
Pesta ulangtahun yang sederhana dengan keluarga lengkap membuat Asyi tersenyum bahagia.
Asyi yang duduk sendiri jauh dari mereka sontak membuat kembali meneteskan air matanya.
Salman melihat istrinya duduk termenung dengan air mata membasahi cadarnya.
Asyi menghapus kasar air matanya
//Gak kenapa kenapa kok// Ucap Asyi menatap Salman seolah olah tak terjadi apa-apa.
//Ayo ikut Mas// Salman menarik tangan Asyi.
//Kita kemana Mas ?// tanya Asyi bingung
//Ikut aja// ucap Salman berjalan memegang tangan Aayi dan Asyi mengikutinya.
//kok kita ke kamar Mas?// Tanya Asyi bingung.
Salman melepas tangan Asyi dan menutup pintu kamar.
//Sekarang cerita sama Mas, kenapa kamu menangis ?// Ucap Salman penasaran.
//Gak ada apa apa kok, ini cuma terharu aja// Asyi berusaha menutupi
//Kalau begitu tatap mata Mas// pinta Salman
Asyi tak berani menatap kedua mata Salman.
//Mas tau kamu menutupi sesuatu dari Mas. Ceritakan semuanya, Mas akan menjadi pendengar yang baik untukmu// jelas Salman penuh harapan.
Asyi menangis dan memeluk erat suaminya.
__ADS_1
//Maafkan Asyi Mas. Asyi menangis karena rindu sama orangtua Asyi. Dulu Asyi selalu merayakan ulangtahun dengan mereka tapi beberapa tahun ini mereka gak ada. Asyi rindu mereka Mas. Asyi hanya sendiri// Ucap Asyi menangis dalam pelukan Salman.
//Sayang jangan nangis, walaupun orangtua kamu sudah meninggal tapi kan ada Mas yang selalu ada untukmu, kamu gak sendiri kok, di luar mereka selalu ada untukmu. Jangan menangis lagi ya.// Tutur lembut Salman membelai Asyi.
Asyi kembali menangis dan mengeratkan pelukannya.
//Jika kamu mau nangis, nangis lah dalam pelukan Mas, jangan nangis di tempat lain. Karena Mas gak akan biarkan orang lain melihat air mata mu// Ucap Salman lembut.
Asyi tertegun dan menghentikan tangisannya.
//Terimakasih Mas// Asyi tersenyum dan melepas pelukannya.
Salman mengangguk kepala dan menghapus lembut airmata Asyi.
//Sekarang sayang tidur ya, Mas temani kamu// Ucap Salman menggendong istrinya ke ranjang.
Salaman melepaskan hijab Asyi.
Cup..cup.. dan mencium kening Asyi lalu menidurkan Asyi dipelukannya sambil membelai rambutnya.
Kini Asyi tertidur dalam pelukan Salman. Salman mengambil hpnya dan mengirim pesan untuk Mira.
"Mira, kakak lagi bersama abang. Tolong jangan ganggu kami ya"
Mira membuka pesan narsis dari abangnya.
//Pesan dari siapa Dek ?// tanya Rama melihat Mira mayung bibirnya.
//Ini abang Salman, narsis minta ampun// jelas Mira
//Biarin aja, lagian mereka sama kaya kita juga// goda Rama
Mira tersenyum melirik Rama dengan tajam.
//Nanti malam giliran kita ya// bisik Rama menggoda Mira.
Mira menaikan alisnya dan tersenyum tipis.
Rama mencubit hidung Mira.
//Mas, sakit tau// ucap Mira mengelus hidungnya.
Rama tersenyum hendak mencubit kembali
//ho..ho..ho..// Mira menutup wajahnya dengan tangannya.
Rama tersenyum dan mencium tangan Mira yang menutup wajahnya.
//Mencari kesempatan// ketus Mira.
//Sama istri sendiri, siapa yang larang// Ucap Rama tersenyum tipis.
//Iya lah// Mira tersenyum memalingkan wajahnya.
__ADS_1