
\=\=\=\=
Maafkan Syifa yang tak bisa crazy up. Jujur, Syifa sangat sibuk, tapi tetap meluangkan waktu untuk meng_up episode baru. Jadi jangan kecewa ya.
Jangan lupa dukung terus novel ini. Karena sebentar lagi kalian akan melihat kejutan dari cerita selanjutnya.
\=\=\=\=
Salman dan Asyi turun menelusuri anak tangga, berjalan beriringan menuju ke ruang makan. Disana sudah duduk Mama dengan Papa.
Seperti biasa mereka menunggu anak dan menantunya. Kebiasaan Salman dan Asyi selalu turun belakangan. Meskipun terkadang Asyi yang menyiapkan sarapannya tapi ia tetap kembali ke kamarnya untuk siap-siap ke kantor bersama dengan suaminya.
Asyi seorang wanita yang sangat perhatian terhadap suaminya. Ia mampu mengatur waktunya, antara karier dan keluarga. Sebenarnya ia sangat malas bekerja di kantor, namun karena permintaan tante Faridah dan Salman, ia menguatkan dirinya untuk menerima dan menjalankan perusahaan milik almarhum orangtuanya.
Mama dan Papa tersenyum bahagia melihat Salman dan Asyi berjalan berdampingan. Jujur saja semenjak Intan di rawat di rumah sakit sampai sekarang baru kali ini pemandangan mereka terlihat bersama. Sungguh pemandangan yang sangat indah. Ingin rasanya pemandangan itu sedikit lebih lama. Namun rasanya mustahil, apalagi mengingat hari ini hari pernikahan Salman dengan Intan.
//Ayo duduk, kita sarapan bersama// ucap Mama menatap mereka dengan senyuman bahagia di bibirnya.
Asyi dan Salman tersenyum sambil menarik kursinya dan duduk.
Mereka makan bersama dengan suasana yang sangat hangat.
//Kamu yakin hari ini mau menikah dengan Intan?// tanya Mama menatap Salman dengan tatapan yang sangat serius.
//Iya Ma// ucap Salman penuh keyakinan.
Dag.. Lagi-lagi jantung Asyi berdetak, bukan karena cinta tapi karena sakit, iya.. Sakit hati, luka yang belum sembuh kini semakin parah. Asyi menunduk wajahnya berusaha menahan sakit hatinya, ia mempercepat makannya agar bisa segera pergi meninggalkan mereka. Sungguh ia tak sanggup mendengar percakapan mereka lagi.
//Asyi sudah selesai makan, Asyi pamit ya// tutur Asyi lembut menatap mereka bergantian.
//Loh kenapa buru-buru? Kamu cuma makan sedikit tadi, ayo makan lagi, makan yang banyak// ucap mama lembut penuh perhatian.
//Asyi udah kenyang Ma. Lagian kalau Asyi makan banyak, makin buncit perut Asyi// ucap Asyi sambil tersenyum.
//Ah kamu ini bisa saja. Jangan diet diet dong, nanti dikira tante mu kami gak kasih kamu makan// candaan Mama.
//Tenang saja Ma.// ucap Asyi mengedip matanya.
//Asyi pamit ya Ma// sambung Asyi.
Mama tersenyum lembut sambil mengangguk sedikit kepalanya, menandakan ia mengizinkannya.
__ADS_1
Asyi tersenyum dan membalikkan tubuhnya kemudian ia pergi meninggalkan mereka.
//Ma, Pa.. Salman sudah selesai makan, Salman pamit ya// ucap Salman menarik mereka bergantian.
Papa dan Mama mengangguk kepalanya menandakan mereka mengizinkannya.
Salman tersenyum dan langsung pergi menyusul Asyi.
Sampai di kamar, Asyi langsung pergi ke arah balkon. Ia lebih suka duduk di sana, menghirup udara segar, melihat mentari dan dedaunan yang bergoyang, seakan bisa mengobati sedikit rasa sakit hati yang ia alami.
Salman yang sudah tiba di depan pintu langsung membuka pintu dan masuk ke kamar. Seperti biasanya, ia sudah mengetahui tabiat istrinya ketika hatinya sedang rapuh, ia lebih suka menyendiri di balkon.
Salman berjalan hendak menghampiri Asyi, namun langkahnya terhenti di depan pintu. Salman hanya memandang istrinya yanh sedang duduk sendirian. Jujur, ingin rasanya ia merengguh tubuh Asyi, namun keinginannya harus ia kuburkan, mengingat hari ini ia harus menikah dengan wanita lain. Ia tak ingin membuat istrinya terluka lebih dalam lagi.
Asyi menyadari ada seseorang yang memperhatikan dengan segera ia menoleh kr arah pintu ternyata ia tidak menemukan seseorangpun. Kemudian ia fokus kembali menatap langit yang biru. Ia berharap hatinya bisa secerah hari ini.
Sedangkan Salman yang mengetahui Asyi curiga dengannya ia segera bersembunyi di belakang pintu. Ia tak ingin ketahuan istrinya kalau dari tadi ia memperhatikan Asyi.
Kring.. suara ponsel Salman yang berada di sakunya berdering, sehingga membuatnya panik.
//Mas.. Mas..// panggil Asyi berulang kali menatap ke arah sumber suara.
//Ini Intan ngapain telpon pagi-pagi// protes Salman melihat nama kontak di hpnya.
//Huff// Salman menghela nafas dan menjauh untuk menganggkat telpon.
Asyi berjalan mencari sumber suara ternyata tidak juga ia temui.
//Apa jangan-jangan aku halu ya?// Asyi mengernyit keningnya.
//Aduh sadar Asyi, kamu gak boleh halu pagi-pagi begini// Asyi menepuk lembut kedua pipinya.
Asyi berjalan ke arah nakas untuk mencari hpnya. Pasalnya dari semalam ia belum juga memegang hpnya.
//Eh dimana ya hp aku?// bathin Asyi bingung.
Asyi terdiam sebentar mencoba mengingat kembali.
//Hah.. Di dalam tas, dan tasnya ada di walk in closet// ucapannya Asyi berjalan ke walk in closet.
Tiba-tiba kaki Asyi terhentikan saat melihat Salman sedang berbicara dengan seseorang di telponnya di walk in closet. Asyi memiringkan kepalanya untuk mendengar lebih jelas.
__ADS_1
//Iya. Aku akan siap-siap. Setelah itu aku akan berangkat kesana. Iya..iya.. Sebentar lagi kita akan resmi menjadi pasangan suami istri, kamu yang sabar ya// tutur Salman penuh perhatian pada Intan.
Tita-tiba mata Asyi menitih air matanya. Ia tak sanggup mendengar ucapan cinta dari mulut Salman kepada wanita lain.
//Sebegitu senangnyakah kamu Mas?// bathin Asyi. Ia mencoba menutup mulutnya agar tidar terdegar suara isakan tangis yang keluar dari mulutnya.
Asyi mundur perlahan-lahan dan segera melangkahkan kakinya ke kamar mandi. Disana ia berdiri di bawah shower, lalu ia nyalakannya. Ia menangis sejadi-jadinya di bawah guyuran air shower. Hatinya sangat berat menerima kenyata. Ia selalu saja berusaha kuat, tapi hasilnya nihil. Hatinya tetap saja tidak bisa dikelabui.
Ia mencoba menenangkan dirinya dengan air yang terus membasahi tubuhnya. Tiba-tiba ia teringat dengan calon bayinya, dengan segera ia raih handuk kimono. Setelah itu ia beranjak keluar. Ia berjalan ke walk in closet dan mengambil setelan baju yang dibelikan Mira kepadanya.
//Kamu mau kemana memakai baju itu?// tanya Salman menghampiri Asyi.
//Hari ini pernikahan Mas, jadi setidaknya Asyi juga harus cantik, biar orang gak mengira kalau Mas nikah lain karena istrinya jelek// ucap Asyi dengan nada santai.
//Hmm// balas Salman cuek.
//Mas ngapain masih berdiri disana? bukannya sebagai calon mempelai harus siap-siap terlebih dahulu?// nyinyir Asyi menatap sinis Salman.
Salman tak menghiraukan ucapan istrinya. Ia rasa istrinya sedang cemburu makanya ngomongnya suka nyinyir. Ia mengambil setelan bajju tuxedo dan memakainya.
Asyi hanya melirik dari jauh, ternyata suaminya benar-benar sangat tampan. Tapi sayang, ia tak bisa lagi memilikinya sendiri. kini ia mau tidak mau harus berbaginya.
Salman menghampiri Asyi yang sedang berisik dengan sedikit makeup agar terlihat natural.
//Ada yang ingin kamu katakan?// tanya Salman menatap Asyi melalui cermin.
//Gak ada// ucap Asyi singkat.
//Benaran gak ada?// tanya Salman menatap Asyi dengan serius.
Asyi mengambil nafas dalam-dalam dan melepaskannya dengan perlahan. Kemudian ia berbalik dan menatap wajah Salman.
//Kamu tampan// ucap Asyi menatap wajah Salman kemudian ia kembali menatap dirinya melalui cermin.
//Ini bukan saatnya bercanda. Katakan saja, apa yang ingin kamu katakan atau apa keinginanmu// ucap Salman kembali menatap dengan serius.
Asyi membalikkan tubuhnya, kemudian ia berdiri. Ia mendongak dan menatap kedua mata Salman.
//Aku ingin kamu batal menikah, bisa kamu lalukan? gak kan? sudahlah, jangan bertanya lagi// ucap Asyi menatapnya dengan sinis dan pergi meninggalkan Salman.
Mata Salman menbelakak mendengar ucapan istrinya yang begitu sinis, seperti orang asing. Karena sebelumnya ia tidak pernah mendengar ucapan istrinya seperti ini.
__ADS_1