
Rama buru-buru turun ke bawah mengambil tasnya dan beranjak pergi.
//Salman mau kemana?// Tanya Mama
//Ma, Salman buru-buru ada janji sama seseorang// jawab Salman menoleh ke Mama
//Ma, biarkan Abang pergi// timpa Rama mendekati Mama
Salman mengedip mata ke Rama, mendatangi Mama dan Papa untuk mencium punggung tangannya dan beranjak pergi.
//Assalamualaikum// ucap Salman
//Wa'alaikumussalam warahmatullah// jawab semuanya.
Salman pergi meninggalkan mereka.
//Rama, Salman pergi kemana ?// tanya Mama penasaran
//Oh.. Itu.. Abang aja janji sama seseorang, penting sih katanya// Jelas Rama tersenyum
Mama mengangguk kepala.
//Oh ya Rama, tadi kamu ngobrol tentang apa sama si Salman sampai dia terburu-buru gitu// tanya Mama penasaran
//Cuma masalah kerjaan doang Ma// jelas Rama singkat
Mama mengangguk kepala.
//Kalian udah makan ?// Tanya Papa menoleh ke Rama dan Mira
//Udah Pa, sebelum kesini tadi kami udah makan, kebetulan pagi ini Mira masak sedap banget, jadi sebelum kesini makan dulu, kan kasihan kalau gak dimakan makanan sedap kaya gitu// Goda Rama
Mira mencubit pinggang suaminya.
//Au.. Skit dek// jerit Rama dengan suara kecil
//Biarin..// Mira cemberut
Mama dan Papa hanya tersenyum melihat kelakuan anak dan menantunya.
-----
__ADS_1
Di perjalanan Salman terus menghubungi Asyi, tapi tak sekalipun diangkatnya.
Mobilnya terus berjalan ke pesantren.
Tok..tok..tok..
//Assalamualaikum Pak Kiai// Ucap Salman
//Wa'alaikumussalam warahmatullah//
//Nak Salman, ayo masuk nak// ucap Pak Kiai mengajak
//Terimakasih Pak Kiai// Salman beranjak masuk
Pak kiai mengangguk kepala, sembari duduk dengan tangan mempersilahkan Salman untuk duduk.
//Ada gerangan apa Nak Salman sendirian datang berkunjung ke rumah Bapak// tutur lembut Pak Kiai
//Jadi begini Pak Kiai, maksud kedatangan Salman kesini mau menjemput Asyi// jelas Salman penuh harapan
//Menjemput Nak Asyi ? Tapi Nak Asyi tidak ada disini, terakhir kesinipun sama Nak Salman, setelah itu sudah lama tidak berkunjung// Jelas Pak Kiai
Salman lesu dan kepikiran dengan Asyi.
//Jadi gini Pak Kiai, ada seseorang ngirim foto Asyi tidur dengan seorang lelaki ke Mama saya, dan keluarga saya sedang panas dengan berita itu Pak Kiai// jelas Salman lesu
//Kamu sudah tau kejelasan dari masalah itu Nak ?// Tanya Pak Kiai
//Sudah Pak Kiai, saya juga sudah menyuruh anak buah saya untuk menyelidiki foto tersebut// jelas Salman
//Nak, masalah foto itu seberapa kerasnya nak Salman menyelidikinya tetap saja nihil. Semua bukti sudah dihilangkan// jelas Pak Kiai
//Ya Allah, jadi bagaimana caranya saya membuktikan kalau istri saya tidak bersalah// ucap Salman kecewa, mengusap wajah dengan kedua tangan.
//Nak Salman tenang saja, ada satu orang yang bisa membuktikan semuanya// Ucap Pak Kiai penuh harapan
//Siapa Pak Kiai ?// tanya Salman senang bercampur penasaran
//Tunggu sebentar ya Nak// ucap Pak Kiai beranjak pergi
Salman dengan senyum bahagia diwajahnya tak sabaran ingin kembali lagi dengan Asyi.
__ADS_1
//Nah, Nak ini dia// Pak Kiai kembali dengan card di tangannya
Pak Kiai menyerahkan kartunya
//Nak Salman ini kartu nama pengacara Papanya Asyi. Nak Salman bisa menghubunginya, karena cuma beliau yang punya buktinya// ucap pak penuh harapan
//Baik Pak Kiai, Terimakasih banyak// tutur Salman semangat.
//Masalah Asyi bapak serahkan ke Nak Salman ya. Bapak gak bisa melindungi Nak Asyi lagi, banyak sekali penderitaan yang nak Asyi alami selama ini. Karena selain sama Allah Nak Asyi tidak pernah menceritakan masalahnya ke siapapun, termasuk sama Bapak.// jelas Pak Kiai penuh harapan
//Lalu bagaimana Bapak bisa mengetahui penderitaan Asyi selama ini ?// tanya Salman penasaran.
//Bapak dan Papanya Asyi sahabat semenjak kecil, kami dulunya satu pesantren, Papanya Asyi melanjutkan kuliahnya di luar negeri, dan Bapak memperdalam ilmu agama, Alhamdulillah bapak bisa membangun pesantren ini, dan Papanya Asyi juga ikut membantu bapak. Sebelum Papanya Asyi meninggal, dia berpesan untuk membantunya mengembalikan dunia Asyi yang sebelumnya hilang. Asyi itu anak sholeha, dari kecil dia sangat penurut anaknya, tapi dia menjadi liar saat Papanya menikah dengan wanita lain. Sebenarnya saat itu Mamanya sakit kanker, Mamanya merasa bahwa dia tidak mampu lagi mengurus Papanya Asyi, dan punya inisiatif untuk menikahkannya dengan sahabatnya sendiri. Sahabatnya itu janda cerai dengan anak satu, tapi nak Asyi sebelum itu tidak tau kejadian yang sebenarnya sehingga nak Asyi frustasi dan mencoba dunia luar, nak Asyi suka mabuk mabukan dengan niat merusak citra Papa. Bahkan pernah ketika perjodohan nak Asyi bertindak konyol di depan sahabat Papanya hingga Papanya hilang kendali dan mengusirnya dari rumah. Mamanya yang melindunginya ikut mengusirnya. Tak lama kemudian sakit Mamanya menjadi lebih parah hingga meninggal. Saat itu Papanya menyesal telah mengusir istri dan anaknya karena Papanya saat itu terlalu percaya dengan istri mudanya. Kemudian Papanya menyuruh nak Asyi kembali ke rumah, sempat menolak namun nak Asyi kembali ke rumah. Singkat cerita nak Asyi di jebak oleh saudara tirinya sendiri di sebuah hotel, saat itu Papanya sempat drop melihat putri sematawayang nya itu tidur dengan seorang lelaki. Mendengar kasus nak Asyi saat itu, adik Mamanya Asyi tidak percaya hingga menyelidiki semuanya. Setelah mengumpulkan buktinya langsung diserahkan ke pengacara Papanya Asyi saat mengetahui hal tersebut, Papanya menelpon bapak dan menceritakan semuanya dan menyuruh bapak menjaga nak Asyi, tak lama kemudian Papanya meninggal dunia. Jadi sampai sekarang nak Asyi belum tau kalau kasus itu dijebak oleh saudaranya sendiri// jelas pak Kiai
Salman mengangguk kepala.
//Pantesan Asyi sempat menolak saya beberapa kali, ternyata dia mengalami trauma yang mendalam dan dia pikir kalau dia gak suci lagi selama ini// ucap Salman
//Nak Salman, nak Asyi itu sangat rapuh anaknya, nak Salman harus cepat menemuinya// pinta Pak Kiai
//Tapi kemana Salman harus mencarinya ?// tanya Salman bingung
Pak Kiai diam dan memikirkannya
//Oh... Bapak tau, rumahnya Mamanya, iya iya.. Nak Salman coba cari nak Asyi di rumah Mamanya// jelas Pak Kiai.
//Di daerah mana Pak Kiai?// tanya Salman penuh harapan
//Bapak gak tau dimana alamatnya, tapi nak Salman sekarang temui pengacara Papanya Asyi dulu dan cari tau dimana alamat rumah Mamanya Asyi. Bapak rasa pengacara Papanya pasti tau// ucap Pak Kiai lembut
//Baik. Terimakasih banyak Pak Kiai// ucap Salman tersenyum
//Iya, sama-sama nak Salman// jawab Pak Kiai tersenyum
//Saya Pamit dulu ya Pak Kiai, Assalamualaikum// ucap Salman beranjak
Pak kiai mengangguk kepala
//Wa'alaikumussalam warahmatullah// ucap Pak Kiai mengiringi Salman.
Salman dengan segera pergi meninggalkan pesantren.
__ADS_1
Hati Salman kini menjadi lebih tenang dengan senyuman yang terus terlihat di bibirnya.
Kerinduannya terhadap Asyi dan hadiah yang telah dipersiapakan untuk Asyi membuat Salman tidak sabaran menemui Asyi.