Cinta Dalam Taubat

Cinta Dalam Taubat
EP 70 : SEKUAT ITUKAH AKU


__ADS_3

Hari terus berlarut. Salman menyampaikan hasratnya untuk menikahi Intan kepada keluarganya. Ia mengumpulkan seluruh keluarganya di ruang keluarga.


//Ada apa nak kamu mengumpulkan kami semua disini?// tanya Papa menatap Salman.


//Salman ingin menikahi Intan// ucap Salman menatap semua orang.


Semua mata yang mendengar ucapan Salman kian membelalak. Rasa tak percaya dengan apa yang diucapkan Salman menyelimuti semua orang, tapi tidak dengan Asyi.


Asyi hanya diam membisu dan menundukan wajahnya. Ia berusaha tidak menatap wajah suaminya, karena akan membuatnya begitu rapuh dan tak bisa menahan bendungan airmatanya. Ia berusaha menenangkan hatinya, meski sesak terasa di dada, hatinya begitu ngilu. Jujur, meski Salman seorang lelaki yang mampu dan pantas untuk menikah lebih dari satu, namun hati Asyi tetap tidak rela jika harus berbagi suami yang sangat ia cintai selama hidupnya.


Sontak terlintas bayangan mamanya yang begitu ikhlas dimadu, bahkan mamanya mencarikan sosok wanita lain untuk papanya agar bisa merawat papanya ketika mamanya telah tiada. Namun Asyi tidak sebaik dan setegar mamanya, meskipun balasan Allah surga bagi wanita yang ridha suaminya menikah lagi.


Apa salah jika Asyi mengharapkan seperti Khadijah? Seorang wanita yang sangat dicintai suaminya (Rasulullah), yang tidak pernah dipoligami, bahkan cintanya tetap berlabuh di hati Rasulullah meskipun Khadijah telah tutup usia.


Dan apakah Asyi salah ingin menjadi seperti Fatimah azzahra putri dari Rasulullah yang selama pernikahannya tidak pernah merasakan poligami? Meskipun banyak tawaran pernikahan kepada suaminya dari banyak wanita dan bapak-bapak yang ingin menjodohkan anaknya kepada Ali.


Asyi tidak bisa hidup seperti Sarah istri Nabi Ibrahim yang rela berbagi suami dengan wanita lain (Siti hajar).


Asyi yang tak sanggup menahan bendungan airmatanya kini menetes keluar dari sela bulu mata lentiknya, dengan segera ia menghapus airmatanya.


Tanpa disadari sepasang mata menatap Asyi semenjak Salman bersuara. Ia tak kuasa melihat kakak iparnya begitu terpukul dengan berita yang begitu menyakitkan. Meskipun ia seorang lelaki, tapi ia tau bagaimana sakitnya berbagi orang yang kita kasihi.


//Salman apa kamu bercanda?// tanya Mama meninggikan suaranya. Membuat lamunyan Asyi membuyar. Ia menatap Mama sekilas lalu menunduk wajahnya kembali.


//Gak Ma. Salman serius// Ucap Salman lembut.


//Salman, kamu tau resiko poligami?// tanya Papa menatap Salman dengan tajam.


//Iya tau pa// ucap Salman menunduk kepalanya.


//Kalau kamu tau kenapa kamu mau berpoligami?// tanya Papa kesal sambil memajukan tubuhnya.


//Sabar Pa// ucap Mama mengelus punggung Papa.


//Maaf Pa, tapi Salman harus melakukannya Pa// ucap Salman menatap Papa dan kembali menunduk wajahnya.


//Jelaskan sama Papa, apa alasan mu?// ucap Papa menurunkan nada suaranya.


//Papa lihat Intan sekarang, dia cacat. Dan itu semua karena dia menolong Salman. Salman merusak masa depan dia Pa. Gak ada lelaki yang mau sama wanita cacat seperti itu Pa// jelas Salman menatap Papa.


Semuanya senyap tak bisa lagi berkata apa-apa. Namun Rama mencoba berargumen.


//Bang, gimana kalau kita beri perawatan intensif untuk dia dan abang gak perlu menikahinya// jelas Rama.


//Iya Mira setuju//


//Sudahlah Mas Rama, Mira. Biarkan Mas Salman menikahi Intan// ucap Asyi membuat semua mata tertuju padanya, seakan tak percaya dengan ucapan yang baru saja keluar dari mulut seorang wanita bercadar itu.


//Tapi kak, bagaimana dengan kakak?// tanya Mira mengernyit alisnya.

__ADS_1


//Kakak senang selama Mas Salman senang// ucap Asyi menahan tangisannya. Meskipun hatinya sudah dari tadi menangis.


//Kak jangan ditutupi, kalau gak ikhlas bilang aja, biar Rama cekal pernikahan mereka// ucap Rama kesal.


//Mas Rama, sudah cukup. Bukankah islam menghalalkan poligami?// tanya Asyi menatap Rama.


//Iya, tapi// ucap Rama terputus.


//Bukankah surga balasan untuk wanita yang meridhai suaminya menikah lagi?// sambung Asyi


//Tapi kak// ucap Mira.


//Mas Salman sudah mampu untuk menikah lebih dari satu wanita, dan akan berdosa bila Asyi menolak niat baik dari Mas Salman// ucap Asyi menatap Salman yang masih menundukan wajahnya.


Semuanya terharu mendengar ucapan yang keluar dari mulut wanita bercadar tersebut. Seolah tak percaya, tapi itulah kenyataannya. Ketegeran yang ia miliki membuat orang kagum kepadanya.


Mama menghampiri Asyi kemudian memeluk tubuh Asyi. Ia bermaksud menguatkan Asyi, karena ia tau betapa rapuhnya hati menantunya mendengar keputusan dari putranya itu.


//Kamu menantu mama yang paling baik nak// ucap Mama yang masih memeluk Asyi sanbil mengulus pundak Asyi.


Asyi mengeratkan pelukannya sesekali ia menatap langit-langit untuk menahan bendungan airmatanya.


//Terimakasih Ma// ucap Asyi melepaskan pelukannya.


Mama mencium kening Asyi dan kembali duduk di samping Papa.


//Jadi kapan kamu akan menikahinya?// tanya Papa menatap Salman.


//Dua hari lagi?// tanya Papa kaget.


Salman mengangguk kepalanya.


//Bagaimana bisa secepat ini dan apa orangtua Intan sudah mengetahuinya?// tanya Papa menurunkan nada berbicaranya.


//Sudah Pa, kami sudah berbicara beberapa yang lalu di rumah sakit. Dan mereka semuanya setuju Pa// ucap Salman menatap Papa sekilas lalu menundukan wajahnya kembali.


//Baiklah kalau begitu, nanti malam kita rumahnya// ucap Papa beranjak pergi meninggalkan mereka.


Mama menyusul Papa. Mira yang gak tahan dengan tangisannya akhirnya memutuskan ke toilet. Salman bergegas pergi meninggalkan rumah dan Asyi duduk menyandarkan tubuhnya yang lemas di sofa.


Rama melihat Asyi yang begitu rapuh akhirnya memutuskan berbicara dengan Asyi.


//Katakan pada Rama kalau kakak gak ikhlas// ucap Rama menatap Asyi.


//Sudahlah Mas Rama. Jangan tanyakan lagi, lagian Asyi sudah menjawabnya tadi di depan semuanya// ucap Asyi memejamkan matanya.


//Kakak bisa menipu semua orang disini, tapi gak dengan Rama kak, Rama tau kakak pasti terpukul dengan keputusan abang kan ?// tanya Rama mendesak.


//Asyi gak tau. Lagian Asyi sudah tau hari ini bakal terjadi. Dan Asyi sudah mendengar niat Mas Salman sejak di rumah sakit// jelas Asyi yang masih memejamkan matanya karena merasa sedikit pening.

__ADS_1


//Lalu kenapa kakak gak bilang ke Rama? Maunya kakak cerita biar Rama bantu kakak// ucap Rama kesal.


//Mas Rama. Cukup! Ini takdir yang harus Asyi lalui. Meskipun sakit, tapi Asyi harus ikhlas.// jelas Asyi melirik Rama sekilas lalu memejamkan matanya kembali.


//Kenapa kakak begitu tegar hah?// tanya Rama mulai kesal.


//Mama. Iya mama. Mama Asyi lebih tegar dari Asyi. Bahkan mencarikan sosok wanita lain untuk Papa. Sedangkan Asyi hanya menerima saja keputusan tanpa harus buang-buang tenaga mencari wanita lain untuk Mas Salman// ucap Asyi berusaha kuat.


Mulut Rama terdiam tanpa bisa berkata-kata lagi.


//Ya sudah Mas Rama, Asyi ke kamar dulu// ucap Asyi berusaha bangun dari duduknya.


Mata Asyi serasa berkunang-kunang karena kepalanya sangat pening dari tadi.


Brukk.. Asyi terjatuh dengan segera Rama menangkap tubuh Asyi sehingga tubuhnya tak menyentuh lantai.


//Mama.. Mira..// teriak Rama sambil membaringkan tubuh Asyi di atas sofa.


//Ada apa Mas teriak-teriak?// tanya Mira menghampiri Rama.


//Iya ada apa?// tanya Mama menyusul menghampiri Rama.


//Asyi pingsan Ma, Mira// ucap Rama panik.


//Ya Allah, apa yang terjadi nak?// tanya Mama duduk di samping Asyi yang masih terbaring.


//Telepon dokter// pinta Mama panik.


Dengan segera Rama mengambil hp di sakunya dan menghubungi dokter, belum sampai terhubung Asyi mulai sadar dan membuka matanya perlahan-lahan.


//Sayang apa kamu sakit ?// tanya Mama penuh perhatian.


//Gak apa-apa Ma, cuma kelelahan aja// ucap Asyi berusaha bangun.


//Jangan bangun dulu. Rama cepat telpon dokter// pinta Mama menatap Asyi kemudian menoleh ke Rama.


//Gak usah Ma, Asyi udah baikan kok// ucap Asyi.


//Tapi nak tubuh mu lemas banget// ucap Mama khawatir.


//Asyi hanya lupa minum obat tadi pagi Ma// ucap Asyi lembut.


//Obat? Kamu taruh dimana obat, biar mama minta tolong Mira ambilkan// ucap Mama khawatir.


//Ada di kamar Ma, biar Asyi langsung ke kamar aja. Asyi bisa minum obat di sana sambil istirahat// ucap Asyi lemah.


//Baik kalau begitu biar Mama bantu// ucap Mama.


Asyi berusaha bangun dan dibopong oleh mertua dan adik iparnya Mira menuju tangga hingga masuk ke kamarnya.

__ADS_1


Sampai di kamar Asyi menyandarkan tubuhnya di kasur dan segera ia minum obat yang tadi pagi ia letakkan di samping lampu tidurnya. Setelah mememinumnya ia kembali merebahkan tubuhnya. Mertuanya menyelimuti tubuh Asyi sampai dada dan pergi bersama Mira meninggalkan kamar tersebut.


Melihat semuanya telah pergi dan kini hanya tinggal Asyi seorang diri di kamar, tak ingin menahan rasa sakitnya kini Asyi mengeluarkan rasa sakitnya dengan butir airmata yang membanjiri pipinya. Sampai ia terlelap dalam genangan airmata yang terus mengalir di pipinya.


__ADS_2