Cinta Dalam Taubat

Cinta Dalam Taubat
EP 61 : PAKET


__ADS_3

Di sebuah restoran mewah Asyi dan Salman duduk berdua memesan makanan untuk makan siangnya. Mereka sengaja memiliki tempat yang romantis khusus untuk mereka berdua agar tak ada satupun yang mengganggu mereka.


//Sayang kenapa dari tadi diam aja, ngomong dong// ucap Salman menatap Asyi.


//Mas tau kita bikin kesalahan apa tadi?// tanya Asyi serius.


//Kesalahan? Perasaan Mas belum buat kesalahan fatal hari ini// ucap Salman cuek.


//Ihh Mas ini.. Kita hari ini menjadi bahan pembicaraan orang tau// jelas Asyi kesal.


//Loh bukannya kita setiap hari jadi bahan pembicaraan orang?// ucap Salman santai.


//Iya, tapi hari ini kita kepergok sama karyawan Asyi, Mas// ucap Asyi kesal.


//Jangan pikirkan omongan mereka, mending kita makan.// ucap Salman santai.


//Mas enak bilang gitu. Sedangkan Asyi ? Malu Mas.. Dipergor karyawan sendiri lagi mesum di kantor// jelas Asyi menusap wajahnya.


//Siapa yang ngelarang kita mesum? Toh kita sudah halal, lagian siapa suruh dia masuk gak ketuk pintu// ucap Salman santai.


//Mas ini ya. Ah// ucap Asyi kesal.


//Sayang lihat Mas.// ucap Salman menatap Asyi. Asyi kembali menatap Salman.


//Kalau kita sibuk memikirkan apa kata orang, kita gak bakalan bisa melihat ke depan. Lagian perbuatan kita tadi gak melenceng kok. Sebagai pasangan suami istri, berciuman itu hal yang wajar. Kita halal, siapa yang bisa melarangnya? Tidak ada dosa dari perbuatan kita. Sayang.. ingat gak saat Nabi Muhammad mengajak Aisyah melihat para sahabat berlatih? Saat itu Aisyah meletakkan dagunya di pundak Rasulullah dan menyandarkan wajahnya di pipi Rasulullah, Rasulullah gak melarang, malah senang bisa menemani istri tercintanya dan saat itu juga sebenarnya Aisyah bukan ingin melihat para sahabat berlatih tapi malah ingin menghabiskan waktunya bersama Rasulullah. Jadi sayang jangan malu lagi ya, justru yang harus malu itu ketika tidak punya ikatan yang sah malah bermesraan.// ucap Salman mengusap kepala Asyi dengan lembut.


Asyi menganggukan kepalanya. Kini perasaan Asyi mulai tenang.


Salman memang paling bisa menenangkan Asyi. Semua yang keluar dari lisannya membuat siapapun yang mendengarnya menjadi tenang. Ini salah satu karena pendidikan ilmu agamanya yang diperoleh di pesantren, sehingga pemikirannya lebih bijak.


//Sekarang sayang buka mulut biar Mas suapi// ucap Salman hendak menyuapi Asyi.


Asyi memberi celah sedikit agar bisa makan tanpa melepas cardarnya.


Kini suasana kembali adem. Asyi dan Salman saling suap-suapan hingga makan mereka habis. Setelah membayarnya mereka kembali kembali ke kantor.


Kring..


Salman mengambil earphone bluetooth nya memasangkan di telingannya.


//Assalamualaikum bro// ucap Ari.


//Wa'alaikumussalam warahmatullah// jawab Salman sambil menyetir.


//Man, lo ada waktu gak malam ini?// tanya Ari.


//Ada, kenapa?// tanya Salman penasaran.


//Nanti malam, gua sama istri gua mau undang kalian dinner. Ya lo tau lah, semenjak gua keluar dari perusahaan lo, gua sibuk siapin itu itu untuk memimpin perusahaan. Dan sekarang semua udah clear dan gua sama istri ngundang lo sama istri lo dinner. Ya.. Sebagai ucapan terimakasih gua// jelas Ari penuh harapan.

__ADS_1


//Insyaa Allah kami penuhi undangan kalian// ucap Salman lembut.


//Ok. Kami tunggu ya. Nanti gua share lok. Assalamualaikum// ucap Ari senang.


//Wa'alaikumussalam warahmatullah// jawab Salman melepaskan earphone bluetooth Dari telinganya.


//Ada apa Mas?// tanya Asyi menoleh ke Salman.


//Ini.. Ari sama istrinya ngundang kita dinner malam ini. Sayang ikut ya// ucap Salman melirik Asyi.


//Insyaa Allah Mas// ucap Asyi tersenyum.


Salman menghentikan mobilnya di depan pintu masuk kantor Asyi. Salman segera keluar dan membuka pintu untuk Asyi.


//Terimakasih Mas// ucap Asyi tersenyum sambil keluar dari mobil.


//Sama-sama sayang// ucap Salman.


//Asyi masuk dulu ya// Ucap Asyi.


//Hati-hati sayang// ucap Salman.


Asyi melangkahkan kakinya masuk ke kantor dan menganggukan kepalanya kepada semua karyawan yang memberi hormat kepadanya.


Salman yang telah masuk ke mobil tiba-tiba turun dan menghampiri Asyi.


Asyi memalingkan wajahnya dan melihat Salman yang sedang berlari menghampirinya.


//Kenapa Mas lari-lari?// tanya Asyi bingung.


//Sayang kelupaan sesuatu gak tadi ?// tanya Salman tersenyum.


//Lupa? Coba Asyi cek dulu// ucap Asyi melihat isi tasnya.


//Bukan kelupaan itu// ucap Salman tersenyum.


//Lalu apa juga ?// tanya Asyi semakin bingung.


Cup.. Salman mencium kening Asyi.


//Lupa itu sayang// ucap Salman tersenyum.


Asyi mengerutkan dahinya seolah tak percaya dengan Salman yang tega berlarian menghampirinya hanya kebiasaannya mencium kening istri ketika pergi.


Pemandangan itu membuat semua mata tertuju pada mereka dan banyak yang membicarakan tentang mereka.


//Oh my God! Romantis banget// ucap salah satu karyawan dengan mata terbelalak.


//Wow.. Andai aku punya suami kaya suaminya bu Asyi//

__ADS_1


//Bikin iri deh//


Asyi merasa semua karyawan menatapnya dan berbicara tentangnya dengan segera Asyi menunduk wajahnya.


//Mas, cukup! Kita lanjut di rumah lagi. Lihatlah semuanya orang membicarakan kita// bisik Asyi risih.


//Iya sayang. Mas pamit ya. Assalamualaikum// ucap Salman pergi meninggalkannya.


//Wa'alaikumussalam warahmatullah// ucap Asyi menatap punggung Salman sampai tak terlihat lagi baru kemudian kembali ke ruangannya.


-----


Asyi duduk di ruangnya dengan senyuman di bibirnya yang tertutup cadar melihat beberapa foto candid dia bersama suaminya.


Tok..tok..tok..


Asyi terkejut kemudian meletakkan hpnya di atas meja.


//Masuk// ucap Asyi.


Sekretaris masuk dengan membawa sebuah paket di tangannya.


//Bu ini ada sebuah paket untuk ibu// ucap Sekretaris menyerahkan paket untuk Asyi.


//Siapa yang kirim ?// tanya Asyi sambil menerima paket tersebut.


//Saya tidak tau bu. Tadi ada seorang kurir yang mengirimnya// jelas sekretaris.


//Baik. Kamu boleh pergi// ucap Asyi.


Sekretaris mengangguk kepala dan berpergi.


//Siapa yang kirim paket ini?// ucap Asyi penasaran dan membolak balikan paket mencari nama pengirim.


//Loh kok gak ada nama pengirimnya?// ucap Asyi bingung.


//Apa jangan-jangan Mas Salman ya?// ucap Asyi tersenyum.


//Mending Asyi telpon deh// ucap Asyi meraih hp di mejanya.


//Eh.. Jangan, mending dibuka dulu, baru deh bilang makasih// ucap Asyi meletak kembali hpnya.


//Kira-kira apa ya isinya?// ucap Asyi penasaran.


Asyi membuka bungkusan paketnya dan menemukan sepujuk surat.


//Ada-ada saja Mas ini. Kirim paket dengan sebuah surat. Mas.. Mas.. romantis banget sih// Ucap Asyi geram sambil mencium suratnya dan meletakkannya di sampingnya, kemudian membuka isi paketnya.


Mata Asyi kini membelalak melihat isi paket yang dikirim tanpa nama pengirim. Membuat jantungnya seolah berhenti dan air mata Asyi turun dari sela-sela bulu matanya. Seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

__ADS_1


__ADS_2