
Mahendra mengantar Faridah pulang ke rumahnya.
//Mau masuk dulu?// tanya Faridah menatap Mahendra.
//Tidak usah, lain kali saja// Mahendra menolaknya dengan lembut.
//Baiklah kalau begitu, aku turun masuk dulu ya// ucap Faridah sembari tersenyum.
//Baik. Aku juga harus pulang//
//Hati-hati//
//Iya. Terima kasih. Jaga kesehatanmu, lusa kita akan menikah//
//Hmm// Faridah tersipu malu.
//Aku pamit ya. Assalamualaikum// ucap Mahendra berjalan ke mobilnya.
//Wa'alaikumussalam warahmatullah// ucap Faridah tersenyum. Ia melihat Mahendra mengemudi mobilnya hingga tidak terlihat lagi, setelah itu ia baru masuk ke rumah dengan hati yang sangat bahagia, jauh dari sebelumnya.
Faridah menrogoh tasnya dan menelpon Asyi. Ia ingin memberitahukan kabar gembira kepada keponakannya.
Drrttt...drttt...
Asyi sedang menyusui anaknya tiba-tiba ponselnya berdering. Ia mengambil ponsel di nakasnya ia melihat nama tante Faridah yang tertera.
//Assalamualaikum// ucap Faridah.
//Wa'alaikumussalam warahmatullah// ucap Asyi.
//Nak, tante ada berita bagus// ucap Faridah cengengesan.
//Berita bagus apa?// tanya Asyi bingung.
//Lusa om Mahendra akan menikahi tante// ucap Faridah tersenyum bahagia.
//Benarkah tante? Tante gak bohong kan ?// tanya Asyi memastikan.
//Tante gak bohong. Om Mahendra melamar tante di taman, dan lusa insyaa Allah kami akan menikah// jelas Faridah tersenyum sumringah.
//Subhanallah tante, Asyi sangat-sangat bahagia. Akhirnya harapan Asyi melihat tante bahagia dengan lelaki yang tante cintai akan segera terwujud// ucap Asyi penuh keharuan.
//Iya sayang. Kalau begitu tante akhiri dulu ya. Assalamualaikum// ucap tante Faridah lembut.
//Iya tan. Wa'alaikumussalam warahmatullah// ucap Asyi tersenyum sumringah.
Salman mengernyitkan keningnya menatap wajah Asyi yang tersenyum sendirian.
//Ada apa?// tanya Salman penasaran.
Asyi menidurkan Sulaiman di box bayi kemudian ia duduk di sofa bersama Salman.
//Mas tau, tante Faridah mau nikah// ucap Asyi cengengesan.
__ADS_1
//Nikah? Sama siapa?// tanya Salman masih bingung dan penasaran.
//Om Mahendra// ucap Asyi tersenyum bahagia.
//Hah? Kamu yang benar sayang?// tanya Salman membulat matanya.
//Iya. Benar banget// ucap Asyi sembari mengangguk kepalanya.
//Ah, mana mungkin. Kenapa bisa secepat itu?// Salman masih tidak percaya dengan ucapan Asyi karena kalau dilihat dari sikap tante Faridah gak mungkin secepat itu ia akan menerima Mahendra kembali.
//Mas, tatap mata Asyi. Apa ada kebohongan di mata Asyi?// tanya Asyi lembut sambil mengarahkan pandangan Salman dengan kedua tangannya.
//Gak bohong. Tapi Mas masih gak percaya// ucap Salman menatap Asyi lembut.
//Tapi itulah kenyataannya. Dan insyaa Allah lusa mereka akan menikah// ucap Asyi lembut.
//Hah? Lusa? Secepat itukah?// pekik Salman kaget.
//Syuutttt.. Jangan gede gede suaranya, anak kita sedang tidur// ucap Asyi menutup mulut Salman dengan jari telunjuknya.
//Ok..ok..ok.. Tapi kenapa seperti itu? Apa yang terjadi?// cerocos Salman memelankan suaranya.
//Asyi juga gak tau. Mungkin mereka sudah terketuk pintu hatinya dan kembali bersama lagi. Tapi satu hal yang pasti, mereka akan segera menikah dan itu kebahagian terbesar// ucap Asyi sambil tersenyum.
//Iya juga sih.. Yang paling penting itu kebahagian tante Faridah. Mungkin dengan bersatunya mereka kembali akan membuat mereka memperbaiki kehidupan masa lalunya menjadi lebih indah lagi. Iya kan sayang// ucap Salman lembut.
//Iya Mas// ucap Asyi tersenyum bahagia.
Asyi memeluk tubuh Salman, ia berharap tidak ada yang memisahkan mereka kecuali kematian.
-----
Hari pernikahan Faridah dan Mahendra.
Semua keluarga dan kerabat dekat kedua mempelai datang memenuhi kediaman Faridah.
Suasana haru bercampur bahagia kini dirasakan semuanya.
//Saya terima nikah dan kawinnya Faridah Bramansyah binti Bramansyah dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan berlian 20 karat di bayar tunai// ucap Mahendra dengan lancar satu tarikan nafas.
Sah.. Sahut semuanya.
Air mata bahagia menetes di pipi Faridah. Seakan semua kebahagian ikut berpihak kepadanya.
Faridah mencium punggung tangan Mahendra dan dibalas dengan kecupan di keningnya.
//Aduduh.. Orangtua gak mau kalah saing dengan kali yang muda-muda// Goda Ari sambil tersenyum bahagia.
//Kamu sirik aja// ucap Faridah tersenyum malu.
//Hahaha// semua orang ikut menertawakannya.
Faridah dan Mahendra berjalan ke taman. Karena mereka memilih di taman rumahnya mengingat dulu mereka juga mengadakan pesta pernikahan di taman.
__ADS_1
Semua orang memberi ucapan selamat dan doa kepada kedua mempelai.
//Selamat ya tan. Asyi ikut bahagia// ucap Asyi memeluk erat tubuh Faridah.
//Terimakasih sayang// ucap Faridah membalas pelukannya.
Salman tersenyum bahagia dan memberikan ucapan selamat dan doa untuk mereka.
//Tan.. Selamat ya. Cepet cepet dapat momongan// ucap Rama sambil menyalami Faridah.
//Kami ini sudah tua, kalian yang harus beri kami cucu// ucap Mahendra menggoda Rama.
//Itu pasti om. Iya gak Dek// ucap Rama mengiyakan pada Mira.
//Insyaa Allah// ucap Mira tersenyum.
//Om. Jangan bikin tante Faridah hamil ya// ucap Ari sambil memberi selamat kepadanya.
//Loh kenapa?// tanya Mahendra bingung.
//Kasihan Sulaiman jika punya paman yang masih bayi// ucap Ari berlagak serius.
//Kamu ini suka sekali godain orang tua// ucap Faridah memukul lengan Ari.
//Hehehe.. Maaf ya tan. Tapi Ari serius loh// ucap Ari dengan wajah serius.
Keysha yang berada di belakangnya langsung menjewer telinga suaminya.
//Adududuh yang, sakit// jerit Ari kesakitan.
//Ini hukuman untuk Mas yang suka ganggu orangtua// ucap Keysha geram.
//Iya deh gak lagi. Lepasin dong yang, berharga banget ni telingaku// ucap Ari memanyungkan bibirnya.
Keysha melepaskan tangannya dari telinga Ari. Semuanya ikut menahan tawa melihat tingkah mereka.
Semuanya ikut bahagia dengan pasangan mereka masing-masing.
Rijal datang menghampiri Asyi dan Salman.
//Asyi, Salman, maafkan aku. Maafkan atas semua kebodohanku. Aku menyesal telah membuat kalian terluka. Jujur saja, aku memang masih mencintaimu Asyi, tapi aku harus menerima kenyataan kalau cinta itu tak seharusnya memiliki. Sekarang Salman aku ikhlaskan Asyi untukmu, tolong jaga dia. Jangan buat dia bersedih// tutur Rijal penuh penyesalan.
//Rijal.. aku sudah memaafkanmu. Semoga Allah mempertemukanmu dengan wanita yang lebih baik dariku.// ucap Asyi lembut penuh perhatian.
//Rijal.. Akupun juga sudah memaafkanmu. Aku janji, aku akan berusaha menjaga Asyi dna membahagiakannya segenap jiwa aku. Aku juga berterima kasih kepadamu, dengan usahamu aku bisa belajar untuk bagaimana mempertahankan hubungan ini// ucap Salman sambil bersalaman dengan Rijal.
//Terima kasih... Terima kasih telah memaafkanku.// ucap Rijal tersenyum bahagia.
Inilah yang dinamakan cinta dalam taubat. Selalu ada cinta saat kita bertaubat. Begitu juga dengan kehidupan Asyi dan Salman, ketika Asyi memilih mendekatkan dirinya kepada Allah dan bertaubat atas segala kesilapan yang dulu pernah ia lakukan. Kini Salman menjadi cintanya, labuhan hatinya, kekasihnya dunia dan akhirnya.
Begitu juga dengan Mahendra yang menyesali semua kesilapannya, Allah kembalikan cinta pertamanya.
Tiada yang sia-sia jika kita mau bertaubat kepada Allah, tidak dia yang kita harapkan, tapi Allah gantikan yang terbaik untuk kita. Jika masa lalu itu yang terbaik untuk kita, maka Allah akan kembalikannya kepada kita.
__ADS_1
~TAMAT~