
Azan berkumandang membuat Salman harus menyelesaikan tidur nyenyaknya. Mencium istrinya sekilas hingga Asyi membukakan mata.
"Mas."
"Bangun, Sayang!" titah Salman lembut dan membelai rambut istrinya.
Asyi beranjak bangun, kakinya turun ke lantai, lalu berdiri.
"Aww, "jerit Asyi.
"Kenapa, Sayang?" tanya Salman menghampirinya.
"Perih dikit."
Salman menggendong istrinya ke kamar mandi dan mandi bersama. Sambil membaca niat dalam hatinya, Nawaitu ghushla liraf'il hadatsil akbari 'an jami'il badaani likhuruu ji maniyyi minal innaabati fardhal lillahi ta'ala.
Usai mandi mereka bersiap-siap untuk shalat berjamaah, seharusnya mereka shalat bersama dengan keluarganya, tapi kali ini harus melaksanakan shalat berdua di kamar karena Asyi yang merasa tak nyaman.
Tok ... Tok ...
"Kak, Mbak, cepat turun! Semuanya nungguin kalian di mushalla," ucap Maira dibalik pintu.
Salman meminta Asyi duduk, dan dia berjalan untuk membuka pintu. "Kakak sama Mbak shalat di kamar. Kalian shalat aja di bawah, jangan tungguin Kakak!"
"Mbak Asyi nghak apa-apa kan Kak?" tanya Maira khawatir.
"Nggak kok, tuh lihat Mbakmu lagi duduk!" Salman membukan pintu lebih lebar seraya menunjukkan ke arah Asyi.
"Oh, ok. Maira duluan ya." Maira merasa lega, lalu beranjak pergi.
Salman menutup pintu kamarnya, lalu kembali mendekati Asyi.
Mereka melaksanakan shalat subuh berdua di kamar dengan suasana hati yang bahagia.
Asyi mencium punggung tangan Salman dan dibalas kecupan dikening Asyi.
"Sayang, tidur lagi ya! titah Salman menggenggam tangan istrinya.
"Nggak mau, kita harus turun. Akad nikah jam 9 dimulai, aku harus membantu mereka," tolak Asyi lembut.
"Jangan, Sayang! Kamu masih sakit. Biar semuanya mereka yang selesaikan," tutur Salman perhatian.
"Taβ" Salman meletakkan jari telunjuk di bibir ranum istrinya. "Nggak ada tapi-tapi."
Asyi hanya mengangguk dan melepaskan mukenahnya.
Salman segera menggantikan seprei baru, lalu menggendong Asyi dan membaringkan di kasur.
__ADS_1
Salman ikut tidur memeluk istrinya, karena semalam menjadi malam yang panjang dengan adegan intim membuat mereka tak cukup tidur.
...****************...
Prosesi akad akan segera dimulai, namun tidak terlihat Salman dam Asyi di bawah.
"Maira, panggil kakak sama istrinya," titah Sara.
"Baik, Ma." Maira segera pergi ke kamar Salman.
Berdiri di depan pintu dengan tangan terarahkan mengetuk daun pintu.
Tok ... Tok ...
"Kak ... Mbak ... cepat! Sebentar lagi mau akad, semuanya nunggu kalian."
Suara Maira yang keras membuat Salman dan Asyi terkejut, tangan Salman segera meraba-raba nakas untuk mencari jam.
"Kak, Mbak!"
Salman seakan melompat dari kasur berlari membukakan pintu.
"Apa sih?" tanya Salman berdecak sebal.
"Kakak, baru bangun?" tanya Maira melotot.
"Iya," Salman mengucek matanya.
"Ya Allah, jam segini masih tidur. Sekarang cepat siap-siap! Kami semua udah lama nungguin kalian," cerocos Maira kesal.
Salman menutup pintu, lalu berjalan menemui Asyi yang masih terbaring di kasur.
Maira berlangkah turun dan duduk mendekati mamanya.
"Gimana Maira? Mereka sudah siap?" tanya Sara dengan nada suara yang hanya mampu di dengan Maira.
"Boro boro siap, mereka baru bangun,Ma."
"Hah, mereka baru bangun?" Sara membelalak mulutnya menganga.
"Iya Ma, aneh tuh orang. Subuhnya shalat di kamar dan sekarang baru bangun, entah apa yang mereka lakukan semalam."
Bibir menganga itu berubah menjadi senyuman.
Selang beberapa saat, Salman turun dengan memapah Asyi dan duduk di samping mamanya.
"Nah, Ma. Panjang umur mereka, baru aja kita omongin udah nongol aja," ketus Maira.
__ADS_1
"Ngomongin orang di belakang dosa loh," sahut Salman tersenyum kecil.
"Biarin," ucap Maira sinis.
"Memangnya kalian ngapain sih selama? Bikin orang lelah menunggu kalian, udah subuh sholat di kamar dan sekarang bangun telat lagi," cerocos Maira dengan gamblang.
"Ini urusan orang dewasa, kamu anak kecil nggak boleh tau," Salman menyeringai.
"Iih ngeselin," Maira memanyunkan bibirnya.
"Apa semalam kamu melakukan sesuatu sama istrimu?" bisik Mama tersenyum.
"Apa sih, Ma?" ucapa Salman tersenyum malu.
"Wah bentar lagi Mama bakal dapat cucu dong," goda Sara.
"Tenang aja, Ma. Lagi proses kok ini."
Sara cengengesan melihat Salman dan Asyi, menimbulkan rasa curiga. "Mas, Mama kenapa senyum-senyum terus? Memangnya kalian ngomong apa?"
"Mama tadi nanya apa Sayang hamil?" jawabnya asal-asalan.
"Mas jawab apa?" Asyi penasaran.
"Iya," mengangguk polos.
"Ngapain bohong sih sama Mama?" Asyi kesal dan mencubit pinggang suaminya.
"Au ... Sakit tau," jerit Salman menahan suaranya.
"Biarin," Asyi memanyunkan bibirnya
"Jangan cemberut gitu lah! Mama tadi cuma nanya apa kita semalam bercinta," bisik Salman terbuka.
Asyi terkejut. "Aduh Mas, jangan bilang Mas jawab iya, bikin malu.".
"Udah santai aja, duluan mereka lagi daripada kita," bisiknya tersenyum.
"Udah cukup bisik bisiknya," ketus Maira tak dihiraukan
"Pagi-pagi marah-marah, cepat tua nanti mau? ledek Salman
Semuanya terdiam saat Rama mengucapkan "Saya terima nikah dan kawinnya Mira Al Farisyi bin Yusuf Al Farisyi dengan mas kawin tersebut tunai."
Sah ...
Mira dan Rama sungkeman dengan orangtua Rama dan Orangtua Mira dan juga Salman.
__ADS_1
Semuanya memberikan ucapan selamat dan doa kepada pengantin baru.
Hanya sebentar, tak sampai 5 menit dalam menjawab akad. Kini yang panjang adalah resepsi pernikahan.