Cinta Dalam Taubat

Cinta Dalam Taubat
EP 12 : KECELAKAAN


__ADS_3

Berharap Maira tak ikut, ternyata sulit untuk dihindari.


Mira memilih mobil putihnya di garasi, menyuruh kakak ipar dan adiknya masuk, lalu mereka berjalan ke sebuah mall.


Sampai di sana mereka tak langsung berbelanja, melainkan pergi ke wahana permainan, mereka bermain game bersama, kemudian makan dan ditutup dengan shopping. Semuanya sudah tersusun rapi oleh Mira sehingga Asyi dan Maira hanya mengikutinya saja.


Berbelanja memang menjadi hobi bagi wanita. Mondar mandir memilih baju yang ingin dibeli, bahkan setelah mereka tau Salman memberikan black card untuk Asyi, mereka tidak segan-segan meminta Asyi untuk merogoh kocek dengan nominal yang tinggi.


Asyi berharap Salman tidak akan marah padanya setelah menenteng begitu banyak paper bag di tangannya.


Sambil tertawa bahagia, Mira tidak sengaja tersenggol dengan seorang pria, sepatu yang tinggi membuat kakinya terpeleset dan jatuh.


"Aww ..." Mira terjatuh.


"Astagfirullah, maaf Mbak!" Lelaki itu berjongkok menatap Mira.


"Mira, kamu baik-baik saja?" Mira mengangguk kepala mengulurkan ke dua tangannya yang disambut Asyi dan menuntunnya bangun.


"Aww ... sakit!" pekik Mira.


"Makanya pakai flat shoes aja, ngapain pakai high heel," cerocos Maira mengeluarkan flat shoes dalam paper bag nya. Meletakkan di lantai, lalu Mira memakainya.


Lelaki itu mengutip semua belanjaan Mira, lalu menyerahkan pada Maira.

__ADS_1


"Maaf ya! Saya kurang hati-hati," ujarnya merasa bersalah.


Belanjaan mereka semakin penuh, ditambah dengan Asyi yang harus memapah Mira.


"Biar saya bantu!" Asyi kebingungan, Maira mengambil paper bag dari tangan Asyi menyerahkan pada lelaki itu.


"Mas bantuin kami bawakan barang saja ya!"


Lelaki itu mengangguk kepala, membawakan belanjaan mereka sampai ke mobil.


"Mbak, ini siapa yang setir?" tanya Mira menatap Asyi. Ia tau Maira tidak bisa menyetir.


"Biar saya saja yang setir," tawar Lelaki itu.


"Terima kasih. Nggak usah repot-repot. Saya bisa menyetir kok," tolak Asyi dengan lembut.


Jantung mereka berdegup kencang saat Asyi mengambil alih setir. Mereka hanya mengetahui Asyi seorang wanita kalem, tidak bisa menyetir mobil dan hanya berdiam diri di pesantren. Ternyata salah, mereka salah menduga, mobil sport itu dikemudikan dengan sangat mahir, melesat begitu cepat, masuk ke dalam halaman rumah sakit.


Begitu selesai kaki Mira diperban, kini mereka langsung menuju ke rumah. Tak ada lagi singgah di mana-mana seperti rencana semula.


Salam terucap seiring masuk, semua orang kaget melihat kaki yang semula baik-baik saja kini berubah dengan di perban. Pertanyaan demi pertanyaan terlontarkan layaknya seperti sedang menginterogasi Mira.


Salam kembali terdengar dari dua pria yang sangat dihargai di rumah itu.

__ADS_1


"Papa, kaki Mira terkilir," rengek Mira melas menunjukkan kakinya yang diperban.


"Dih, cuma sakit dikit dong, manja," cibir Salman.


"Dikit apaan? Lihat ni! Kaki aku sampai di perban," ucap Mira berdecak sebal.


"Mas!" Asyi mengambil tas kerja Salman, menarik tangannya menuju ke kamar. Ia tidak ingin membuat Mira semakin emosi.


...****************...


Sampai di kamar, Asyi menutup rapat pintu, lalu membantu Salman melepaskan bajunya.


"Mas, capek ya seharian kerja?"


"Iya, Sayang. Hari ini begitu banyak pekerjaan yang harus Mas handle, mungkin beberapa hari kedepan Mas akan sibuk terus dan nggak bisa sering nemanin kamu," jelas Salman.


"Nggak apa-apa Mas. Mas kerja mencari nafkah untuk keluarga. Aku nggak boleh egois nahan Mas di sisiku sepanjang waktu," mengambil baju lalu meletakkan di keranjang kotor.


"Pengertian banget sih?" Salman mengikuti Asyi dan memeluknya dari belakang.


"Mas, mandi sana! Bau tau!" Asyi segera melepaskan pelukan Salman.


"Mau dicium istri," celotehnya manja.

__ADS_1


"Udah sana, mandi!" Asyi mendorong punggungnya hingga berhasil masuk ke kamar mandi.


Tersenyum sendiri, Asyi semakin dihinggap benih-benih cinta di hatinya.


__ADS_2