
Asyi dan Mira berjalan menelusuri setiap tempat di mall. Mira berencana ingin menghibur Asyi dengan berjalan-jalan di mall.
//Kak kita kesana yuk// Mira menunjukan sebuah butik.
//Ngapain kita kesana?// tanya Asyi menatap Mira.
//Udah ikut aja// Mira menarik tangan Asyi.
//Hufff// Asyi menghela nafasnya. Ia memang gak bisa menolak ajakan adik iparnya. Dari semenjak di pesantren sampai sekarang, Asyi memang paling gak bisa nolak keinginan Mira. Ia sangat menyayangi Mira layaknya seperti adik kandungnya sendiri.
Asyi mengikuti Mira ke sebuah butik.
//Selamat datang nona, ada yang bisa saya bantu// ucap salah satu karyawan butik.
//Saya mau cari gaun muslimah kekinian// ucap Mira mentap karyawan.
//Mari nona saya antarkan// ucap karyawan lembut.
Mira menarik tangan Asyi untuk ikut bersamanya.
//Silakan dilihat, jika ada yang berkenan kabari saya// ucap karyawan lembut dengan senyuman di bibirnya.
Mira segera melihat seluruh gaun yang terpajang disana.
//Mba tolong gaun yang itu dong// Mira menujukan ke arah gaun yang terpajang di manekin.
//Baik// ucap karyawan segera melepaskan gaun pada manekin.
//Ini nona// ucap karyawan menyerahkan gaun pada Mira.
//Makasih Mba// ucap Mira tersenyum.
//Nah, kakak coba pakai ini// ucap Mira menyerahkan gaun ke Asyi.
//Loh, kenapa harus kakak?// tanya Asyi bingung.
//Udah kakak coba pakai terus sana// ucap Mira mendorong Asyi ke kamar ganti.
//Baiklah// ucap Asyi melas.
Asyi segera menggantikan bajunya dengan gaun pilihan Mira.
//Kenapa coba disuruh pake ini?// bathin Asyi bingung.
//Nah kakak udah siap, gimana?// tanya Asyi berdiri di depan Mira.
//Subhanallah kakak canti banget// ucap Mira matanya membelalak melihat gaun yang dikenakan Asyi.
//Ah masa iya// ucap Asyi melihat gaun yang ia kenakan.
//Udah kakak buruan ganti balik bajunya// ucap Mira mendorong Asyi ke kamar ganti.
//Huuff anak ini, tadi minta cepat-cepat pakai, sekarang suruh buka// ucap Asyi kesal.
//Udah kakak ganti terus// ucap Mira tersenyum.
__ADS_1
Asyi mengganti pakaiannya kemudian ia keluar dan memberi gaunnya ke karyawan tersebut.
//Mba saya mau yang ini dan ini// Mira menunjukan jarinya ke arah baju.
//Baik. Mari ikut saya// ucap karyawan menuju kasir.
Mira dan Asyi berjalan mengikuti karyawan butik tersebut.
Mira melakukan pembayaran dengan kartu kreditnya.
//Ini untuk kakak// Mira menyerahkan belanjaanya.
//Hah, kok untuk kakak?// tanya Asyi bingung.
//Iya dong, itu untuk kakak dan ini untuk Mira. Nanti kita pakai di acara nikahan abang Salman. Pokoknya kita harus cantik, gak mau kata kalah cantik sama si pelakor itu// ucap Mira.
//Huss gak boleh ngomongin orang begitu, dia punya nama sendiri. Jangan panggil orang pelakor// ucap Asyi.
//Lah emang iya, dia itu pelakor pe_re_but_la_ki_or_ang// ucap Mira.
//Ah terserah kamu deh// ucap Asyi beranjak pergi.
//Kak tunggu// ucap Mira mengejar Asyi.
Mira asik melihat barangnya tanpa melihat Asyi yang sedang berdiri dengan mata membelalak dan air mata yang seketika turun di sela bulu matanya.
Brak.. Mira menabrak Asyi. Seketika Asyi sadar dari lamunannya dan menghapus segera air matanya.
//Astagfirullah, maaf kak gak sengaja// ucap Mira.
//Iya gak apa-apa. Ayo cepat kita jalan// ucap Asyi mempercepat langkahnya.
//Kakak kenapa sih?// tanya Mira berlari menyusul Asyi.
//Gak apa-apa kok. Kakak lapar// ucap Asyi berbohong.
//Hah..ok kita cari makan dulu sebelum pulang// ucap Mira.
//Kak Asyi// panggil Intan dari jauh.
Asyi yang tidak ingin menoleh langsung mempercepat langkahnya.
//Kak, kaya ada yang panggil kakak tadi// ucap Mira.
//Kamu salah dengar kali// ucap Mira.
//Kak Asyi tunggu// ucap Intan terus menghampiri Asyi.
//Kak itu Intan dengan abang// ucap Mira.
//Udah kita cepat jalan// ucap Asyi mempercepat jalannya.
//Tunggu Asyi, apa kamu gak dengar Intan memanggil mu?// ucap Salman kesal sambil mendorong kursi roda Intan.
//Huff// Asyi menghela nafasnya dan berhenti. Ia mencoba tenang kemudian memalingkan wajahnya menatap Salman.
__ADS_1
//Maaf, Asyi harus buru-buru// ucap Asyi lembut sambil tersenyum dalam balutan cadarnya.
//Kak, kenapa harus buru-buru?// tanya Intan menatap Asyi.
//Maaf Intan, Asyi sangat lapar, Asyi sama Intan udah 2 jam lebih disini, jadinya perut ikut protes// ucap Asyi menatap Intan.
//Kalau begitu ayo kita makan bersama// ucap Intan melirik ke Asyi, Mira dan Salman bergantian.
//Gak bisa Intan. Kami buru-buru// ketus Mira.
//Ayo dong// rengek Intan.
Asyi menatap wajah datarnya Salman dengan penuh kesedihan di hatinya.
//Baiklah kalau begitu// ucap Asyi sambil menatap wajah Salman dan kembali menoleh ke Intan yang sedang duduk di kursi roda.
//Kak// Mira menarik tangan Asyi sambil menggeleng kepalanya.
//Gak apa-apa Mir, kita cuma makan siang aja kok// ucap Asyi tersenyum menatap Mira.
//Kalau begitu ayo kita pergi// ucap Intan sangat senang.
Asyi mengikuti Intan yang di dorong suaminya menuju sebuah restoran.
Asyi hanya melihat kelakuan suaminya yang begitu perhatian terhadap calon istri barunya.
Meskipun sangat sesak di dalam dada, namun harus ditahan, terkadang Asyi memegang dadanya untuk lebih sabar melihat suaminya dengan wanita lain.
Entah apa yang terjadi bila mereka benar-benar menikah. Seakan cadar ini menjadi lautan air mata. Luka di tubuh mudah diobati, tapi luka di hati susah untuk diobati, apalagi racun selalu merkeliaran di depan mata. Kemana obat hendak dicari.
Kalau bukan karena Allah sebagai satu-satunya harapan, sungguh tidak ada yang bisa memberikan penawar atas rasa sakit di hati ini.
Harapanku kepada Mas Salman hanyalah fatamorgana. Bisa dilihat tapi tak bisa disentuh, meskipun seluruh tubuh ingin menyentuhnya.
Ku letakkan hati ini kepada Allah, semuanya tergantung kepada-Nya. Ku coba mengikhlaskannya meskipun hati sulit untuk itu. Rasa cemburuku begitu kuat, tapi berdosakah aku bilang mencemburui suami hamba sendiri?
Mengapa cinta begitu rumit? Kata orang cinta itu indah. Tapi kenapa cintaku begitu menyakitkan? Manis diawal sakit diakhir.
Apakah cinta terukir karena tetesan air mata? Ataukah karena sebuah rasa indah yang terjadi bila awal pertemuan.
Wallahu'alam.. Hati dan jiwa ini telah ku serahkan pada Allah. Sungguh lelah bila melihat dan memikirkan tentang suamiku. Semakin ku pandang semakin sesak di qalbu.
Semoga saja rencana Allah lebih baik daripada realita yang ku pandang sekarang ini.
Janjimu adalah janjiku. Jika kamu berjanji ingin membawa ku ke jannah, ku mohon hentikan cara ini Mas. Perjalanan ku kesana akan dipenuhi dengan kerikil tajam sifat pencemburu ku terhadap wanita lain yang ingin memiliki mu.
Beri aku sedikit ujian untuk menguji kesetiaan dan kesabaran ku dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Tapi jangan kau berikan aku ujian wanita lain disisimu. Sungguh aku tak sanggup melihatnya. Meskipun aku harus berpura-pura tenang dan menerima semuanya, tapi hati ini tetap tak bisa berbohong.
Mas, datanglah kepadaku. Rasakan detak jantungku. Sentuh hatiku agar kamu bisa merasakan betapa hancurnya hatiku ini melihatmu bersama yang lain.
\=\=\=\=\=
Wah para readers, Terimakasih atas dukungan kalian. Kalian memang paling terbaik. Sampai-sampai tangan author gatal-gatal pingin lanjut up lagi.
Ada yang nanya ini kisah pribadi atau imajinasi. Author bocorin ya, cerita ini imajinasi author sendiri. Kalian tau, bukan hanya kalian saja yang sedih, author sendiri juga ikut sedih menulis cerita ini.
__ADS_1
Terus dukung novel ini ya. Like, Comment dan Vote!! Bikin tangan author gatal-gatal dengan dukungan kalian. Biar author cepat-cepat up lagi up lagi.
Dan jangan lupa tulis komentar kalian tentang perasaan kalian saat membaca novel ini dan hikmah apa yang bisa kalian ambil. 👌🏻👇🏻