Cinta Dalam Taubat

Cinta Dalam Taubat
EP 27 : RAPUH


__ADS_3

//Ma.. Mama gak boleh menghakimi orang seperti itu, meskipun masa lalunya suram, tapi Asyi sekarang menantu kita Ma, istrinya Salman. Sekarang gini Ma, siapa sih yang gak punya dosa di dunia ini ? Semuanya berdosa tapi selama dia mau bertaubat dia lebih baik daripada kita yang sudah tau salah tapi gak mau mengakui kesalahannya// jelas Papa lembut.


//Ah, udahlah Pa. Pokoknya Mama gak mau punya menantu seorang penzina, titik.// Tegas Mama kesal.


//Mama istirahatlah, nanti kalau sudah reda emosinya kita bicarakan lagi.// Ucap Papa tenang


Mama mengangguk kepala.


Mereka beranjak ke tempat tidur dan berbaring.


Mama terlelap tidur sedangkan Papa beranjak ke halaman belakang duduk di kursi sendiri memandang kolam renang dan juga ke langit. Papa memikirkan foto tersebut sembari termenung.


//Bapak// kejut bibi


//Eh bibi// Papa kaget


//Bapak ngapain disini sendirian ? Udara malam gak bagus untuk bapak// tutur lembut Bibi


//Saya tadi sedang berjalan-jalan mencari udara segar. Tapi kayanya benar yang kamu bilang, udara malam gak bagus untuk saya. Kalau begitu saya masuk ya// jelas Papa lembut.


Bibi mengangguk kepala dan Papa berjalan meninggalkan bibi.


Papa masuk ke kamar dan melihat istrinya yang masih tertidur pulas.


Kebingungan dn kegelisan kian mengahantui Papa, namun Papa tidak ingin peristiwa ini berlarut-larut. Papa langsung mengambil hp untuk menelpon seseorang.


//Assalamualaikum// ucap Papa beranjak ke ruang kerja


//Wa'alaikumussalam warahmatullah//


//Gimana Pak ada yang bisa saya bantu?// tanya anak buah Papa bernama John.


//John kali ini saya minta tolong kamu untuk menyelidiki seseorang// Papa penuh harapan


//Baik Pak. Bapak kirimkan fotonya biar saya selidiki// Ucap John


//Baik. Lakukan dengan baik dan kirim laporan ke saya// tutur Papa senang


//Siap Pak//


//Assalamualaikum// ucap papa


//Wa'alaikumussalam warahmatullah// balas John


Tut..tut..tut.. Panggilan berakhir.


Papa mengirim foto ke John dan beranjak masuk.


Papa merebahkan tubuhnya di kasur dan terlelap tidur.


-----


Hari terus berjalan, Asyi masih di rumahnya yang dulu seperti biasa murung tidak terlihat senyum dan rona bahagia di wajahnya.


Bi Ina hanya bisa pasrah pada kenyataan yang ada melihat kepribadian Asyi yang dulu kini telah kembali. Kepribadian Asyi sejak orangtuanya meninggal dimana Asyi sering menyendiri, tidak banyak bicara dan melamun dengan air mata yang terus menerus mengalir di pipinya.


Sontak tiba-tiba berubah tersenyum ketika menerima sebuah panggilan dan kembali sedih ketika selesai berbicara dengan hp.

__ADS_1


Kini Asyi menjadi lebih kurus, karena Asyi tidak memiliki nafsu yang baik. Dia hanya bisa terus menangis, bersimpu dan sujud di sajadah takkala ia tak sanggup lagi menahan semua penderitaannya.


Bibi tak sanggup lagi melihat semua ini, hingga bibi berusaha mendatanginya yang sedang bersimpu di atas sajadah.


//Neng, ayo makan dulu sedikit// Bujuk bibi dengan nampan yang berisi sepering nasi dan segelas air putih di tangannya.


Asyi cuma menoleh bibi dan kembali menatap sajadah dengan tasbis yang melingkar di jarinya dan Alquran yang selalu menemaninya.


//Neng, jangan begini. Ini membuatmu sakit, ini sama saja mencelakai dirimu sendiri// ucap bibi tegas.


Heuk..Heuk (Asyi kembali menangis)


//Maafkan Bi Ina, Neng// tutur Bi Ina menyesal


//Bi antarkan kembali makanannya. Asyi tak selera makan// Ucap Asyi menghapus air matanya.


//Tapi Neng, Neng harus makan walaupun itu sedikit. Kalau Neng seperti ini terus, itu sama saja Neng mendzalimi diri Neng sendiri, dan Neng tau sendiri apa balasan bagi orang yang mendzalimi dirinya sendiri// tutur Bi Inq lembut lembut.


Asyi tertegun dan sadar kalau yang dia lakukan selama ini salah.


//Astagfirullah// Asyi segera sujud memohon ampun kepada Allah.


Kemudian Asyi bangun dan mengambil nampan.


//Terimakasih Bi, selain Mama Bi Ina lah yang selalu menguatkan hati Asyi di rumah ini ketika Asyi sedang rapuh// Ucap Asyi meletakkan nampan dan memeluk erat Bi Ina.


//Neng, serapuh apapun Neng, tetap jangan pernah menghukum diri Neng seperti ini. Allah memberi cobaan sesuai dengan kesanggupannya. Allah yakin Neng ini kuat, sanggup memikul beban seberat ini// jelas Bi Ina membelai Asyi.


//Sekarang Neng makannya, keburu dingin nanti makannya// Tutur Bi Ina melepaskan pelukannya dan menghapus air mata Asyi dengan lembut.


Asyi mengangguk kepala. Bi Ina seperti biasa selalu menyuapi Asyi takkala Asyi sedang badmood.


//Meskipun Neng udah besar dan sekarang sudah menjadi istri orang, tapi Neng tetap Bi Ina anggap seperti anak Bi Ina sendiri// Jelas bibi menyuapi Asyi.


Asyi hanya tersenyum, karena setelah Mamanya meninggal, hanya Bi Ina satu-satu orang yang bisa mengerti Asyi sebelum akhirnya ia tinggal di pesantren.


Asyi dan Bi Ina tidak ada jarak seperti orang lain, bahkan keduanya seperti Ibu dan anak.


Kini Asyi makan dengan lahap sampai habis.


//Alhamdulillah, akhirnya Neng bisa makan// tutur lembut Bibi memegang pipi Asyi.


//Iya bi, semua berkat bibi// tutur Asyi lembut.


//Kalau begitu bibi tinggal ke dapur ya//


Asyi mengangguk kepala, dan bibi langsung beranjak meninggalkan Asyi.


Ting tong (Suara pesan dari hp Asyi).


Asyi beranjak dan mengambil hp nya, ternyata sebuah pesan dari Salman.


//Sayang, besok Mas pulang. Tunggu Mas di rumah ya 😘//


Asyi kembali meneteskan air mata dan hpnya terjatuh dari tangganya tanpa ia sadari.


//Ya Allah, apa yang harus hamba katakan padanya?// Gumam hati Asyi terisak isak.

__ADS_1


Bibi kembali ke kamar Asyi dan melihatnya sedang menangis.


//Neng ada apa ?// tanya Bi Ina khawatir sembari mendekatinya.


Bi Ina melihat hp Asyi terjatuh dan mengambil.


//Ternyata ini yang membuat Neng menangis// tutur Bi Ina sembari membaca pesan Asyi.


//Jangan nangis lagi Neng, sini duduk sama Bi Ina// pinta Bi Ina merangkul Asyi duduk bersamanya.


//Neng tenangkan diri dulu, tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan// tutur lembut bibi menggenggam tangan Asyi.


//Asyi bingung Bi, apa yang harus Asyi katakan padanya ?// tanya Asyi bingung sembari menatap Bi Ina


//Neng katakan yang sejujurnya, pasti suaminya Neng ngerti// tutur Bibi lembut.


Asyi manggeleng kepala //Gak Bi, Asyi gak bisa jujur sama Mas Salman// Asyi penuh keraguan.


//Neng istirahat dulu, nanti kita pikirkan caranya ketika Neng tenang//


Asyi merebahkan dirinya di atas kasur dan bibi menyelimutinya.


Kini Asyi tertidur pulas dan bibi kembali ke dapur.


Di dapur Bi Ina menelpon seseorang.


//Nyonya, semuanya sudah saya lakukan sesuai dengan perintah Nyonya, namun belum ada kemajuan// jelas Bi Ina


//Lakukan yang terbaik, sebulan lagi baru saya bisa pulang ke Jakarta setelah menyelesaikan urusan saya disini// Jelas Nyonya.


//Baik Nyonya//


Tut..tut..tu..


Bi Ina melihat kiri kanan langsung memasukan hp nya ke saku dan kembali beraktivitas.


-----


Di rumah Mama, Intan selalu mengunjunginya dengan membawakan berbagai buah tangan untuk Mama.


//Tan, udah beberapa hari ini, kok Asyi hak keliatan tan?// tanya Intan melirik ke seluruh ruangan.


//Dia udah pergi dari rumah ini// tutur Mama sinis


//Loh, kok bisa Tan ?// tanya Intan penasaran.


//Dia keluar dari rumah ini karena dia sendiri//


//Udahlah jangan bahas dia lagi, mending kita makan ini aja// Ucap Mama memberikan potongan kue


Intan hanya mengangguk dan mencicipi kuenya.


//Wow, ini enak banget Tante// tutur Intan sembari menikmati kue.


Mama tersenyum //Ini Tante yang bikin khusus untukmu//


//Tersanjung banget, Makasih loh Tante// Ucap Intan bahagia.

__ADS_1


//Sama-sama Nak// Mama tersenyum sembari memakan kuenya.


Keakraban mulai terjadi antara Mama dan Intan


__ADS_2