
Halo teman-teman. Kami infokan kepada semuanya novel yang kalian tunggu-tunggu sudah hadir di lapak hijau.
Yang cinta dengan Mera dan Rico kuy ke sana
———
Selamat datang di cinta dua hati.
Warning!
Ada adegan lucu, romance, sedih. Siapkan hati kalian.
———
Cantik sekali kamu hari ini. Apa aku boleh menggandeng tanganmu?” puji Alvin mengulurkan tangannya.
Mera tersenyum melewatinya, berhenti saat saling berada di samping Alvin, lalu berbisik, “Jangan biarkan kita menjadi topik utama hari ini!”
“Aaakhh … bagaimana kalau aku menjadikanmu Ibu Presma?” Alvin membalikkan badannya, lalu mengejar Mera.
“Kalau Kakak bisa menggantikan pak Jokowi jadi presiden, aku langsung mengatakan yes.”
“Gak mungkin dong, Mer. Itu terlalu tinggi. Biarkan aku menjadi pacarmu dulu.”
“No. Bersama Kakak membuat posisiku terancam. Banyak wanita yang mengejar Kakak."
“Lalu bagaimana dengan kamu sendiri? Bukankah status kamu sekarang membuat hati pria haredang?”
“Itu urusan mereka.”
"Will you marry me! Kakak janji akan menjaga kamu seumur hidup."
"Kalau Kak Rico mati, jadi hantu jagain aku?"
"Belum pun nikah udah doain mati aja."
"Kali aja."
"Kalau bisa sih gitu, jadi kamu gak bisa macam-macam, Kakak tarik kaki kamu. Tapi kali ini Kakak serius, mau kah kamu menikah dengan Kakak?"
———
Bab 1
Semua orang berkata OSPEK itu tempatnya pembullyan mahasiswa baru. Semula bagi seorang gadis yang baru saja melepaskan seram sekolahnya merasa sedikit tertantang dengan apa yang dikatakan saudara-saudaranya mengenai OSPEK.
Tidak sesuai dengan kabar burung yang beredar, suasana OSPEK terlihat sangat monoton. Semua mahasiswa baru diminta berkumpul di lapangan dan mendengarkan segala arahan dari para senior dan juga Rektor yang bertugas menyampaikan ceramah singkat sebagai pembukaan acara OSPEK, serta diikuti dengan berbagai pertunjukan seni budaya. Sungguh membosankan. Bisa disimpulkan, OSPEK hanya sebagai tempat saling berkenalan satu sama lain dan juga menukar nomor WhatsApp dan berbagai sosial media lainnya.
__ADS_1
Hanya sebuah kesimpulan sebelah pihak. Kini OSPEK yang sebenarnya sudah berlangsung, tak kala ketiga wanita cantik datang dengan santai hendak masuk ke dalam barisan yang sudah lama terbentuk.
“Hei, sini kalian!” teriak senior. Wajah putihnya tampak arogan. Semua orang tersentak, terutama mereka yang telat berkumpul. Mereka berjalan pelan menemui sumber suara.
“Kalian tau kalian ini telat?” tanya Sheila, salah satu senior yang bertugas memandu acara OSPEK kali ini. Mereka kompak menganggukkan kepala.
“Sekarang kalian harus dihukum.” Semua mata tertuju pada mereka sedangkan ketiga gadis itu sukses membelalak kedua matanya.
“Kalian lari keliling lapangan!” titah Sheila menatap serius. Lagi-lagi mereka dibuat tersentak oleh ucapan Sheila.
Salah satu senior bertubuh tegap datang menghampiri mereka. “Shei, gak boleh kayak itu sama maba! Sekarang belum saatnya untuk kita bersikap tegas terhadap mereka,” ujar Roji, salah satu laki-laki yang cukup terkenal di kampus karena masuk dalam struktur pemerintahan kampus.
“Lo diam aja. Biar semuanya gue yang atur,” tegas Sheila tak menggubris ucapan Roji, bagaimana tidak, ia juga memiliki posisi yang cukup penting di dalam susunan pemerintahan dibawah Presiden kampus. Selain itu dia memiliki hubungan khusus dengan presiden kampus.
“Tapi lu gak bisa seenaknya, hari pertama bukan saatnya menghukum mahasiswa baru. Jika lu mau, lu bisa lakuin besok, bukan hari ini,” tegur Roji kembali. Ia sama sekali tidak tega melihat ketiga gadis cantik yang sudah dilirik dari jauh harus buru-buru menerima hukuman. Dibalik itu ia juga ingin terlihat seperti sosok pahlawan.
“Lo ngatur gue?” Sheila berkacak pinggang. Menatap Roji dengan tajam.
“Shei!”
“Roji, gue ini pacarnya presma, jadi lo jangan atur-atur gue,” potong Sheila bersikap congkak. Semua orang yang mendengar membentuk bibir bulat mengucapkan kata O sambil menganggukkan kepala. Lain halnya dengan Mera dan kedua temannya yang baru saja ia kenal, mereka saling menyenggol tangan memberi kode ketidaksukaan terhadap Sheila yang terlalu sombong hanya dengan status pacar presiden mahasiswa.
Roji berdengus kasar, ia ingin sekali membalas ucapan Sheila dengan mengatakan dirinya sebagai sahabat presiden mahasiswa, tapi ia tidak ingin melihat wanita yang keras kepala di depannya semakin murka dan siap-siap beradu mulut tanpa mengenal kata lelah.
“Sekarang kalian tunggu apalagi? Cepat lari!” teriak Sheila menatap tegas pada ketiga wanita itu. Dengan berat hati mereka membalikkan badan, kemudian berlari ke arah lapangan yang lumayan jauh dari posisi fakultas kedokteran saat ini.
“Kenapa presma bisa suka sama dia? Muka kayak mayat hidup, tubuhnya malah tulang semua, tinggal diambil bikin sop tulang, makan,” tambah Arini ikut mencebiknya.
“Cocoknya kita panggil siapa? Badut apa mak kunti?" tanya Mera menatap mereka.
"Kunti deh cocok," sahut mereka kompak seraya terkekeh mengingat wajah Sheila yang terlalu putih seperti mayat hidup.
Dari jauh seorang laki-laki memakai baju almamater datang menghentikan langkah mereka. “Apa yang sedang kalian lakukan?”
“Lari,” jawab Mera singkat terus berlari.
Laki-laki yang sedang memakai masker kembali menemuinya. “Siapa yang menyuruh kalian lari?” tanyanya penasaran.
Mera berdengus kasar lalu menghentikan langkah kakinya. “Kak, kami lagi dihukum, tolong jangan tambah hukuman dengan Kakak halangi jalan kami,” sarkas Mera menatap Alvin yang tengah berdiri tepat di hadapannya.
“Kalian melakukan kesalahan apa?” tanyanya mengerutkan kening.
“Kami dihukum sama senior yang katanya pacar presma gegara kita telat masuk dalam barisan,” jawab Arini mewakili.
Alvin menganggukkan kepala, ia sudah paham dengan wanita yang disebut itu. “Kalian sebaiknya istirahat aja!” titah Alvin lembut. Melihat mahasiswa yang cantik bercucuran keringat membuatnya tak tega, selain itu hari pertama menjadi tidak etis untuk langsung dihukum. Bagaimanapun hari pertama hanyalah hari pengenalan kampus saja.
“Kak, jangan menyulitkan kami! … Udah deh, sana minggir, kita gak mau kena semprot sama mak kunti itu lagi,” ujar Mera berdecak sebal.
“Gua yang tanggung jawab. Kalian istirahat aja!”
__ADS_1
“Tapi—.”
“Udah, sebaiknya kita istirahat, capek tau,” ucap Nelly bersikutan dengan lengan Mera. Mera menoleh pada temannya yang memasang wajah melas serta anggukan kepala untuk menerima tawaran dari seniornya itu.
“Kak, senior yang tadi pacarnya presma loh, kalau terjadi sesuatu sama kita, kita bersumpah akan cari Kakak dan bikin perhitungan,” ancam Mera tak peduli ia berbicara dengan siapa saat ini.
“Mer, dia senior kita loh,” bisik Arini.
“Gue gak peduli, lagian dia bukan senior yang bertugas mengawasi kita, jadi santai aja,” ujar Mera santai karena ia sudah merekam semua wajah senior yang bertugas mengawasi jalannya OSPEK kali ini.
Alvin terkekeh melihat wanita yang sangat menarik di depannya itu. Ia bahkan berani mengancam dirinya. Mera dan teman-temannya mencari tempat yang dingin, lalu duduk untuk berteduh sambil mengibas-ngibas wajahnya dengan tangan.
“Kalian mau Kakak belikan minum?” tawar Alvin kembali mendekat.
“Boleh Kak,” jawab Nelly dengan cepat. Mera langsung memelototinya.
“Gak usah repot-repot, Kak,” tolak Mera menatap kedua mata Alvin yang tengah berdiri di depannya.
“Kalian tunggu di sini! Kakak belikan minum untuk kalian.” Nelly dan Arini tersenyum menganggukkan kepala membiarkan Alvin pergi tanpa mencegahnya.
“Kalian ini kenapa sih? Gak takut kalau dia punya niat buruk ke kita dia malah mempersulit kita?” Mera menatap kedua temannya dengan serius.
“Seharusnya kita bersyukur kalau punya kenalan senior. Lagian dia baik kok, apa salahnya kalau kita manfaatkan dia untuk meringankan hukuman kita,” jawab Nelly dengan santai.
“Nah, gue setuju. Bila perlu kita godain tuh senior tadi biar dia nempel sama kita, yah setidaknya selama OSPEK kita bisa lebih santai, hitung-hitung anak emas gak boleh ada yang sentuh kita,” tambah Arini sependapat dengan Nelly.
“Level kalian rendah, kakak tadi palingan cuma senior level rendah, ujung-ujungnya kayak senior siapa tuh yang tadi ngebela kita?”
“Roji.”
“Hmmm … dia kan kalah juga sama mak kunti itu.”
“Terus rencana lo apa dong?”
“Lo lihat itu!” Mera tersenyum memandang foto presiden mahasiswa yang ada di baliho. Nelly dan Arini mengikuti arah matanya dengan kebingungan. “Kita mulai dari dia. Gue bakalan rebut dia dari tangan si mak kunti itu,” sambung Mera menyeringai.
“Hah, lo yakin?” Nelly dan Arini tersentak kaget, buru-buru serentak menoleh pada Mera dengan mata yang membulat sempurna.
Mera dengan penuh percaya diri menganggukkan kepala. “Gue bakalan taklukin si presma itu. Ingat satu hal, pintu laki-laki itu ada di matanya, kalau penampilan gue lebih menarik dari badut itu, auto dia akan milih gue, dan mak kunti itu … bye, bye, hahaha,” kekeh Mera.
———
Kenapa thor pindah ke sana kenapa gak di sini aja?
Demi semuanya antara Halu dan Real seimbang, syifa pilih di sana. Kalo permasalahan di koin, kalian bisa ikuti sampai bab yg gratisan, berapa? bisa sampe belasan mungkin.
Yang bisa ikuti yuk ke sana, yg gak bisa tolong jgn di hujat, hati aku terlalu rapuh kayak peyek 😂
Happy reading
__ADS_1