
"Tunggu di sini, gue mau masak dulu!" perintah Giani setelah itu berjalan ke dapur.
Bukannya mendengarkan Rayhan malah ikut kedapur menemui Giani. Duduk di meja pantri memperhatikan calon pacarnya menyiapkan bahan-bahan makanan.
Merasa diperhatikan, Giani menoleh dan mendapati Rayhan tengah bertumpu dagu di atas meja. Ia mendengus kesal. "Ngapain ngikutin gue? Dibilangin tunggu di ruang tamu aja," gerutu Giani.
"Gue punya kaki untuk berjalan, dan gue punya mata untuk menatap. Jadi stop nyalahin gue kalau ngikutin lo apa lagi mendangin lo. Itu bukan kemauan gue, tapi kemauan anggota tubuh gue," jawab Rayhan santai, membuat Giani semakin kesal.
"Lanjutkan sayang, gue lapar!" pinta Rayhan saat Giani terus menatapnya tajam. "Gue tau, gue tampan." Pedenya.
Kesal akan sikap Rayhan, Giani menyiapkan bahan-bahan makan dengan kasar, bahkan ia memotong sayuran asal hingga benda tajam itu mengiris jari lentiknya.
"Auww," rintih Giani.
Rayhan langsung beranjak menghampiri Giani, menarik tangan mungil yang hendak masuk kemulut gadis itu. "Udah gue bilangin hati-hati masih aja ngeyel," ujar Rayhan menghisap jari lentik Giani untuk menghentikan keluarnya darah.
"Lo nggak ngomong tadi," protes Giani memperhatikan Rayhan yang kini menghisap jarinya.
"Anggap aja gue ngomong, jangan protes. Hilangkan romantisnya," gurutu Rayhan.
__ADS_1
Tanpa sadar sudut bibir Giani tertarik membentuk setengah lingkaran. Untuk pertama kalinya ada seorang cowok yang membuat seorang Giani tersenyum setelah rumah tangga orang tuanya hancur. Seandainya Rayhan bukan playboy ia mungkin akan mempertimbangkan perasaanya. Sayangnya laki-laki itu mendapat julukan Casanova SMA Angkasa.
Kenapa lo mau sama gue Ray, padahal selama ini gue galakin dan cuekin lo? Ayah gue adalah pria baik-baik dahulu, tapi sekarang berubah hanya karena wanita. Dan lo pada dasarnya sudah bermain perempuan, nggak ada jaminan lo nggak bakal permainin perasaan gue.
"Kecantikan lo bertambah berkali-kali lipa saat tersenyum Gi. Sering-sering, biar gue tambah sayang," ucap Rayhan.
Giani sontak menarik tangannya dari genggaman Rayhan, berdiri membelakangi laki-laki itu. Mencoba menghilangkan kegugupan dengan mencuci bahan-bahan makanan, padahal bahan-bahan itu sudah ia cuci tadi.
Giani tersentak saat Rayhan memegang kedua pundaknya. "Lo mau ngapain?" tanya nya, menodong dengan seyuran ditangan.
"Gemes banget calon pacar gue." Rayhan tertawa, mengiring tubuh Giani duduk di kursi. "Biar gua yang masak, lo duduk manis menunggu aja. Ck!" Rayhan berdecak menyadari tatapan tak percaya Giani. "Gini-gini gue jago masak."
Untuk pertama kalinya Rayhan mendapat nilai positif di mata Giani. Rayhan berhasil membuktikan perkataannya. Masakan yang dibuat laki-laki itu sangat enak. Giani menyiapkan makanan di atas meja makan untuk mereka berdua.
"Ambilin nasi dong, biar kayak orang-orang." Menyodorkan piring kosong pada Giani.
"Emang lo hewan?"
"Panggeran," jawab Rayhan.
__ADS_1
"Dih!" Walau begitu, Giani tetap mengambilkan nasi untuk Rayhan dengan porsi dua orang. "Habisin atau lo nggak boleh lagi kerumah gue!"
"Kalau gue habisin, bisa kerumah lo tiap hari? Makan bareng sama calon mama mertua?"
"Nggak!"
"Deal ya." Mengulurkan tangan dengan senyuman, walau tahu Giani tidak akan setuju.
Rayhan sesekali melirik ponsel Giani diatas meja, ia sudah lama mengincar ponsel gadis itu. Merasa ada kesempatana, Rayhan langsung menyambarnya, untung ponsel itu tidak di kunci.
"Rayhan!" tegur Giani dengan mulut penuh makanan.
"Jangan blok gue lagi, ujar Rayhan mengembalikan ponsel Giani setelah membuka blok dirinya.
...****************...
Jangan lupa meninggalkan jejak, dan terimakasih untuk dukungan kalian😘
Maaf kan diriku karena nggak up kemarin😊🙏, selamat membaca kesayangan dedek.
__ADS_1