
Azka sampai di Bandung menjelang mangrib, tanpa istirahat ia melajukan motornya menuju rumah sakit yang di makasud Rayhan.
Ia memarkirkan motornya dengan aman, kemudian memasuki rumah sakit yang lumayan terkenal karena peralatan medis yang memadai. Di lobi ia tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang.
"Sorry gue ... Azka?" beo Rio sedikit kaget melihat keberadaan Azka di rumah sakit ini.
"Bukannya lo keluar Negeri?" tanya Azka penuh selidik. Walau Rio banyak membatunya, bukan berarti Azka tidak membenci laki-laki itu.
Siapapun yang menyukai Salsa adalah musuh bagi Azka.
"Kenapa? Hak gue mau tinggal di mana, kenapa lo yang repot," ketus Rio dan berlalu pergi, ia sedang buru-buru karena permintaan seseorang.
Sementara Azka ia memandangi kepergian Rio dengam sedikit rasa curiga. Namun, segera ia tepis. Azka berjalan menuju meja resepsionis untuk bertanya.
"Ada yang bisa saya bantu Dek?"
"Apa di sini ada pesien beranam Salsa Natasya Anjani?" tanya Azka.
"Tunggu sebentar."
Mbak-mbak resepsionis mulai memeriksa daftar pasien di rumah sakit itu, sekali bertanya tentang penyakit dan yang lainnya sebagai kata kunci.
__ADS_1
"Maaf dek, untuk pasien atas nama tersebut tidak ada," jawab mbak-mbak resepsionis.
"Nama serupa?"
Mbak-mbak resepsinosi itu mulai menyebutkan satu persatu nama yang serupa untuk Azka, hingga pergerakan mulutnya terhenti saat Azka mengangkat tangan.
"Asya Arion, kamar nomer berapa?" tanya Azka.
"Maaf dek, untuk pasien atas nama Asya kami tidak bisa memberitahukan pada orang lain. Pihak keluarga melarangnya."
"Saya pacarnya," jawab Azka dengan percaya diri.
Azka terdiam sejenak, kalau betul Asya Arion adalah Salsa, lalu siapa laki-laki yang di maksud mbak-mbak resepsionis itu.
Ia melirik jam lumayan besar tepat di belakang mbak-mbak resepsionis. Jam 20.14 sebentar lagi waktu besuk habis. Azka nekat menerobos, mencari tahu sendiri di mana letak ruang rawat Salsa.
Azka langsung menuju lantai 6 di mana lantai itu di huni oleh pesien VIP. Langkah Azka terheti melihat Rio menenteng sesuatu memasuki sebuah ruangan. Penasaran akan sesuatu Azka mengikuti laki-laki itu, sedikit mengintip lewat jendela yang kebetulan tirainya sedikit tersingkap.
Rahang Azka mengeras, tangannya terkepal kuat melihat siapa yang ada di ruangan itu, tanpa menunggu waktu Azka menerobos masuk, lalu melayangkan kepalan tangannya tepat di wajah Rio yang sedang tersenyum.
"Azka!" pekik Salsa kaget akan kedatangan Azka secara tiba-tiba di ruang rawatnya.
__ADS_1
"Beraninya lo nyembunyiin pacar gue ban*gsat!" bentak Azka berapi-rapi, menarik leher baju Rio agar bangun.
"Sudah cukup gue beri lo kepercayaan Azka! Kalau lo nggak bisa buat Salsa bahagia, setidaknya jangan sakiti dia sialan!" Rio menatap Azka nyalang, sakin marahnya mata Rio memerah.
Mencengkram erat tangan Azka di leher bajunya kemudian menghempaskannya kasar.
"Berhenti!" tariak Salsa membuat kedua laki-laki itu menoleh.
Azka menghampiri Salsa kemudian duduk di samping brangkar, hendak mengenggam tangan Salsa. Namun segera di tepis oleh gadis itu.
"Jangan kemana-mana, temani aku!" ucap Salsa di tujukan pada Rio yang hendak pergi. Laki-laki itu tidak ingin menganggu waktunya keduanya.
"Biarkan dia pergi Sal, aku udah ada di sini, aku bakal nemenin kamu," ucap Azka menatap wajah pucat Salsa.
"Pergi Azka, gue nggak butuh lo lagi. Kita udah putus dan gue udah punya pacar!" ucap Salsa penuh penekanan.
"Lo-gue? Sal!" tegur Azka tidak terima.
"Rio usir dia, kamu nggak ingin 'kan? pacarmu di sentuh orang lain?" ucap Salsa pada Rio.
...****************...
__ADS_1