
Mendengar suara motor berhenti di depan rumahnya, Salsa berjalan kemudian membuka pintu dan mendapati Azka berdiri dengan seragam lengkap di sertai jaket berwarna hitam kebanggaan Avegas.
"Ayo masuk sarapan sama Mama dulu," ajak Salsa menarik tangan Azka menuju meja makan, di sana mama Reni menyiapkan nasi goreng.
"Udah datang ternyata. Salsa nggak mau makan karena nunggu kamu datang," ucap Mama Reni membuat Salsa tersipu, apa lagi Azka menatapnya dengan wajah datar.
"Mama," tegur Salsa cemberut dan itu sangat mengemaskan di mata Azka.
"Emang benar 'kan?"
"Tapi nggak jujur juga," lirih Salsa mengaduk-aduk nasi gorengnya.
"Makan Sal, keburu telat!" perintah Azka.
Pagi ini adalah pagi terbahagia yang Azka rasakan, sarapan bersama pacar tercinta juga calon mertua yang nerima apa adanya. Tak peduli Azka ketua geng motor, yang penting laki-laki itu mencintai putrinya, begitupun sebaliknya.
Seandainya Papi Azka bisa menerima Salsa seperti yang di lakukan Mama Reni, maka Azka adalah laki-laki paling bahagia. Sayangnya itu hanyalah angan semata, sampai sekarang hubungan mereka masih di tentang oleh Ans tanpa alasan.
Usai sarapan keduanya berangkat sekolah dan datang tepat waktu tanpa ada drama kemacetan di jalan. Azka membantu Salsa melepas helmnya setelah itu berjalan beriringan menuju kelas.
Tak ada lagi wajah dingin yang di perlihatkan Azka. Kini wajah ketua Avegas itu sediki berseri.
"Azka, lo nggak malu di tatap sama yang lain?" bisik Salsa berusaha melepaskan genggaman tangan Azka.
Bukanya mengendur, Azka malah semakin erat mengenggam tangan Salsa. "Biar semua orang tau, lo cuma milik gue," jawab Azka.
"Gitu ya?" Salsa mengulum senyum sembari menduduk hanya untuk memperhatikan tangan mereka saling bertaut.
__ADS_1
Ternyaya tangannya sangat kecil, hingga hampir tak terlihat dalam gengaman Azka.
"Kalau begitu, harusnya seperti ini." Salsa berhenti melangkah.
"Kenapa?"
Bukannya menjawab, Salsa malah melepas genggaman Azka, kemudian menempelkan telapak tangannya di telapak tangan besar Azka. Jari-jarinya menerobos sela jari-jari Azka kemudian menguncinya. "Biar kesannya nggak dipaksa," ucap Salsa dengan senyuman.
Azka ikut mengunci jari Salsa, kemudian mengecupnya sekilas. "Seperti ini bukan?" tanyanya, di jawab anggukan oleh Salsa.
"Masih pagi woi, udah ngebucin aja, ingat dunia bukan milik lo berdua," tegur Dito berjalan beriringan dengan Keenan.
"Sirik aja lo!"
"Hargai yang jomblo napa pak Ketu," celetuk Rayhan dan Ricky dari belakang.
"Maklum, sekarang ketua kita jadi murid teladan."
"Perubahan itu penting," balas Azka. "Ganggu aja kalian." Azka menarik Salsa menjauhi para teman-teman laknatnya.
Bel pelajaran berbunyi lima menit yang lalu, ponsel Azka mulai ribut karena ulah inti Avegas.
Rayhan: Bolos kuy!
Dito: *Iku*t
Ricky: kuy lah, malas banget gue masuk di kelas pak Alvi, tegang mulu bawaannya.
__ADS_1
Keenan: Nggak ikut gue
^^^Awas aja kalau ada yang bolos, gue patahin leher kalian satu persatu! :Azka^^^
Samuel: Tumben @Azka
^^^Udah mau lulus sekali-kali sadar biar nggak ngecewain orang tua :Azka^^^
Rayhan: Anjir merinding gue😱 @Azka
Ricky: Daebak🥱@Azka
"Siapa?" tanya Salsa.
"Siapa lagi. Mereka ngajakin bolos berjamaah," jawab Azka menyimpan ponselnya di saku celana.
"Lo mau bolos?"
"Kalau lo ngizinin."
"Jangan pergi!" pinta Salsa. "Gue egois."
"Sering-sering egoisnya gue suka," ucap Azka mengacak-acak rambut Salsa.
"Tetap aja tanpa ekpresi," gerutu Salsa.
...****************...
__ADS_1
Jangan lupa meninggalkan jejak, dan terimakasih untuk dukungan kalian😘