Cinta Dan Masa Lalu

Cinta Dan Masa Lalu
Part 121


__ADS_3

Berkumpul di parkiran sebelum pulang adalah kebiasaan bagi inti Avegas untuk merencanakan, kemana dan mereka akan melakukan apa. Inti Avegas terdiam saat suara berhasil mengalihkan atensi mereka seperti biasa.


"Abang!" Samuel menghela napas panjang mendegar suara menyebalkan itu. Setelah kehadiran Ara di hidupnya tak sekalipun Samuel merasa tenang. Gadis manja itu selalu mengusiknya.


"Hay Ara," sapa Salsa yang kini duduk di atas motor Azka, menunggu sang pacar mengantarnya pulang.


"Kak Salsa," balas Ara dengan senyuman setelah mengeluarkan lolipop di mulutnya.


Tak pernah sekalipun Salsa melihat Ara bersedih. Gadis cantik dan imut itu selalu ceria di mana saja, bahkan saat Samuel membentak, Ara masih bisa menampilkan senyun manis. Mungkin jika Salsa akan menangis atau membentak balik.


"Bang El, Ara mau ...."


"Gue cabut," ucap Samuel kemudian melajukan motornya di atas kecepatan rata-rata meninggalkan Ara di parkiran dengan yang lain.


"Bang, kenapa ninggalin Ara? Ara pulang sama siapa?" teriak Ara berlari menuju gerbang untuk melihat Samuel. Dia berharap tunangannya hanya bercanda, nyatanya motor laki-laki itu sudah hilang.


Salsa manatap ibah pada adik kelasnya itu. "Azka antar pulang Ara gih, kasian tau. Kok Samuel gitu banget sama Ara? Kalau benci kan bisa nolak," ujar Salsa panjang lebar.


"Bukan urasan kita," lerai Azka. Tidak ada yang tahu di balik sikap cuek Samuel ada apa. Mungkin Samuel punya alasan sendiri, mereka tidak berhak menghakimi walau kasian melihat Ara.


"Mau kemana lo?" tanya Azka.


"Mau nyusulin Ara di depan Ka, kasian dia," jawab Salsa.


Para inti Avegas melajukan motor masing-masing ke pagar utama di mana dua gadis cantik berdiri di bawah terik matahari.

__ADS_1


"Ayo pulang bareng gue. Kebetulan gue ada urusan sama Oma di mansion!" ajak Rayhan.


"Udah ikut aja, Samuel nggak bakal marah," ucap Keenan.


Lama Ara terdiam, hingga memilih ikut bersama Rayhan, toh dia juga kenal dengan laki-laki itu. Rayhan sepupu Samuel, dan laki-laki itu sering datang ke Mansion untuk ngerusuh, hampir tiap hari.


Satu persatu inti Avegas meninggalkan sekolah, menyisakan Azka dengan Salsa di depan pagar.


"Mami ada di apartemen sekarang, lo mau kesana?" tanya Azka setelah Salsa berada di atas motor dan memeluk pinggangnya.


"Kalau gue nggak mau?"


"Aku Sal. A-k-u." Azka mengeja kata Aku.


"Salsa sayang, Mami ada di apartemen, kita kesana ya? Aku nggak terima penolakan!" ujar Azka.


"Terus gunanya nanya apa Azka?" kesal Salsa.


"Sekedar formalis aja, biar kesannya aku nggak maksa."


Salsa mengulum senyum, ada-ada saja pacarnya ini. Bertanya dan di jawab sendiri, bahkan tidak memberi kesempatan untuk menolak.


Sepanjang jalan, ada saja bahan untuk bertengkar hingga tak terasa sampai di apartemen Azka. Salsa mengembangkan senyumnya melihat Tante Tari duduk di sofa dengan laptop di pangkuannya.


"Siang tante," sapa Salsa membungkuk untuk mencium punggung tangan Tari begitupun dengan Azka.

__ADS_1


"Bawa teman ternyata," sambut Tari mengelus rambut Salsa. "Duduk sayang!"


"Iya tante."


Hati Salsa sedikit mencelos mendengar Mami Azka hanya mengganggapnya seorang teman. Dan lebih sakitnya lagi, saat Azka pergi begitu saja tanpa meluruskan sesuatu.


"Kenapa diam, Nak?" tanya Tari.


"Ah nggak papa Tante," jawab Salsa berusaha baik-baik saja.


Azka keluar dari kamar dengan pakaian rapi seperti akan pergi. Lalu untuk apa Azka mengajaknya ke sini?


"Mami, Azka pergi bentar ya, titip Salsa," ujar Azka mengecup pipi Maminya.


"Sayang, aku pergi dulu ya," pamit Azka mengacak-acak rambut Salsa tanpa malu pada Maminya.


"Jangan di apa-apain pacar Azka, Mi!" teriak Azka sebelum menghilang di balik pintu.


...****************...


Jangan lupa meninggalkan jejak, dan terimakasih untuk dukungan kalian😘


babang Azka si muka datar


__ADS_1


__ADS_2