Cinta Dan Masa Lalu

Cinta Dan Masa Lalu
Part 190


__ADS_3

Seperti yang di katakan Azka tadi, mereka pindah rumah setelah Mama Reni pulang dari rumah sakit. Azka tak tega melihat sang istri menangis saat berpamitan pada Mamanya.


Di atas mobil, gadis itu masih sesegukan, membuat Azka menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Merubah posisi menghadap Salsa. Menghapus air mata di pipi sang istri.


"Kalau kamu belum siapa pisah sama Mama, kita tinggal di sana aja. Aku nggak tega liat mata kamu merah dan sembab gitu," lembut Azka.


Salsa mengeleng, mengenggam tangan Azka di pipinya. "Aku nggak papa Ka. Emang dasarnya aku cengeng, dikit-dikit nangis nggak jelas." Salsa tertawa.


Kalau boleh jujur Salsa sedih karena harus berpisah dengan Mamanya. Setiap hari yang mengurus kebutuhannya adalah Reni, dan sekarang ia sudah menjadi seorang istri, di mana ia akan memperhatikan suaminya.


Entahlah, mereka sudah lama pacaran dan menuju jenjang pernikahan, tapi dirinya belum siap betul membangun rumah tanggan tanpa di dampingi Mamanya.


Tapi melihat perlakuan Azka beberapa hari setelah mereka menikah, Salsa meyakinkan diri bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ia percaya pada Azka. Laki-laki itu akan mengerti dirinya yang kadang hilang mood tiba-tiba.


"Nggak nangis lagi?" tanya Azka.


Salsa memgangguk. "Janji," jawabnya.


Azka kembali melajukan mobil nya menuju rumah baru mereka. Selama perjalanan, tak sekalipun Azka melepaskan genggaman tangannya di tangan Salsa, padahal gadis itu beberapa kali memperingatkan agar fokus ke jalan saja.


"Sal, pinggang kamu masih sakit?"


"Udah nggak Ka," jawab Salsa.


"Lusa kita try out, udah tau belum?" Azka melirik Salsa sekilas yang sedang bersandar di jok mobil sembari menatapnya dengan senyuman.


"Tau."


"Nanti kita belajar bareng."

__ADS_1


"Uh beruntung deh aku nikah sama kebanggan sekolah," puji Salsa.


"Yang beruntung tuh aku, bisa nikah sama cewek sesabar dan sepengertian kamu."


"Dih, pak ketua nggak mau kalah."


"Sayang," panggil Salsa sedikit menggoda, dirinya paling suka jika Azka salah tingkah.


"Apa ibu ketua?"


"Nggak jadi." Senjata makan tuan, bukan Azka yang baper tapi dirinya hanya karena di panggil ibu ketua oleh suaminya sendiri.


Tak terasa mereka sampai di rumah baru, ternyata di rumah itu sudah ada asisten rumah tangannya dan beberapa orang dengan tugas masing-masing.


Azka mengantar Salsa ke kamar utama di lantai dua. Di atas hanya ada satu kamar yang sangat luas. Di depan kamar terdapat ruangan santai juga Tv lumayan besar.


Tempar Game, juga Gym. Sepertinya lantai dua di khususkan untuk mereka berdua.


"Ada yang lain, asistena rumah tangga, tukang kebun dan yang lainnya di rumah belakang." Santai Azka melepas Hodie yang melekat di tubuhnya."


"Pemborosan," cibir Salsa.


"Bukan pemborosan Sal, aku nggak mau kamu hidup sengsara apa lagi nggak nyaman di rumah sendiri," jawab Azka.


Salsa berjalan menuju balkon, memperhatikan keadaan rumah dari lantai dua. Sunggu ini semua berlebihan untuk Salsa. Bahkan rumah ini lebih mewah dari rumah Mamanya.


"Ada kolam renang," gumam Salsa.


"Kenapa, Hm? Mau berenang?" Kebiasaan baru Azka, memeluk dari belakang dan menciumi leher sang istri.

__ADS_1


"Ngeledek ceritanya? Aku nggak bisa berenang."


"Aku bisa sayang, nanti aku ajarin. Oh iya, tau nggak nganu di kolam tuh asik katanya," bisik Azka membuat tubuh Salsa meremang.


"Auw, sakit Sal," rintih Azka saat Salsa mencubit perutnya.


"Bisa nggak sih, nggak udah bahas anu, aku malu."


Salsa membalik tubuhnya menghadap Azka, menatap suaminya penuh selidik. "Jangan bilang kamu udah pernah nyobain?"


"Ya ampun Sal, ya kali. Nyium cewek aja kamu yang pertama. Aku tau karena pernah nonton ... maksud aku itu, Rayhan yang ngomong."


Njir napa malah ember sih nih mulut.


"Nonton apa Ka? Jangan bilang ...."


"Cuma sekali sayang, dan aku janji nggak akan pernah lagi," jujur Azka.


"Gimana? Seksi nggak? Suka liatnya? Mau di temenin nonton?"


"Sayang, itu aku nggak sengaja nonton. Rayhan yang ngirim, aku kepo yg nonton," lirih Azka di akhir kalimat.


"Serius?"


Azka mengangguk seperti anak kecil.


"Jangan lagi ya Ka, aku nggak mau kamu liatin gituan, apa lagi liat perempuannya," bujuk Salsa.


"Nggak lagi 'kan udah ada kamu."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2