Cinta Dan Masa Lalu

Cinta Dan Masa Lalu
Part 124


__ADS_3

"Kenapa dia telpon kamu?" tanya Azka dengan suara dinginnya.


Salsa merebut ponselnya di tangan Azka kemudian kembali meletakkannya di meja. "Katanya tadi kamu mau tidur Ka. Ayo, aku bakal nemenin kamu."


"Angkat!" perintah Azka, jangan lupakan tatapan tajam laki-laki itu.


Salsa menelan salivanya kasar, rasanya untuk berbicara saja tidak bisa. Dia tahu pacarnya sangat cemburuan.


"Kamu nggak dengar aku ngomong apa? Angkat teleponnya Salsa!" suara Azka semakin tinggi.


Salsa langsung memeluk Azka agar tidak emosi. Ini juga kesalahannya. "Maaf, aku nggak seharusnya nyimpan nomor Kak Devan. Aku chat dia cuma mau nanya apa dia masih butuh model," lirih Salsa sejujurnya.


Rahang Azka mengeras, giginya bergemeletuk. Bukan lagi api cemburu yang menyulut hatinya, melainkan rasa marah mendengar penjelasan Salsa barusan.


"Jadi model? Pekerjaan? Siapa yang nyuruh kamu bekerja Salsa!" Azka lepas kendali.


Luruh sudah airmata Salsa, apalagi saat Azka menurunkannya dengan kasar dari pangkuan laki-laki itu. "Angkat teleponnya, dan katakan apa yang seharusnya kamu katakan!"


Tubuh Azka bergetar sakin hebat emosi menguasai dirinya. Mata laki-laki itu memerah.


Tidak punya pilihan lain, dan tidak ingin Azka semakin marah. Salsa menjawab panggilan Devan dengan tangan gemetar.


"Kamu kenapa Sal? Kamu menangis? Suara kamu beda. Oh ya, aku ada pekerjaan cocok buat kamu. Teman aku butuh ...."


Prank

__ADS_1


Salsa terperanjat saat Azka membanting gelas di atas meja hingga pecahannya berserakan di lantai, di untungkan tidak mengenai kakinya.


"Aku nggak butuh pekerjaan lagi kak. Makasih untuk bantuannya. Maaf aku block nomor kak Devan." Salsa buru-buru memutuskan sambungan telepon kemudian memblokir nomor Devan.


Salsa adalah gadis terbodoh karena memblokir kontak Devan. Aktor terkenal yang digilai banyak perempuan termasuk dirinya walau hanya sebatas kagum. Sangat sulit mendapatkan kontak aktor terkenal seperti Devan.


Dia mendapatkan kontak Devan dari Alana setelah pertemuannya di pesta pernikahan gadis itu. Devan kebetulan adalah sahabat Pak Alvi.


Salsa beranjak, kemudian langsung memeluk tubuh bergetar Azka. Menenggelamkan wajahnya di dada bidang laki-laki itu. "Maafkan Aku," lirik Salsa. "Aku nggak bakal ngelakuin hal seperti itu lagi, maaf udah mancing emosi kamu."


Lama keduanya dalam posisi berpelukan, hingga tubuh Azka mulai rileks sedikit demi sedikit amarah Azka mulai turun.


Apapun yang menyangkut Salsa selalu membuat Azka hilang kendali secara tiba-tiba. Dia membalas pelukan Salsa tak kalah erat, membenamkan bibirnya di puncak kepala gadis itu.


"Kamu nggak salah Ka. Aku yang salah, harusnya aku izin dulu ke kamu. Jangan pernah membandingkan dirimu dengan siapapun! Kamu sempurna di mata aku. Kamu segalanya, kamu perisai dan kebahagiaan aku. Aku ngerti kenapa kamu bersikap seperti ini, jadi jangan minta maaf," ucap Salsa.


Salsa mendongak untuk menatap Azkan yang lebih tinggi darinya. "Kamu nangis?" tanya Salsa mengusap air mata di pipi Azka.


"Nggak! Kamu kira aku cewek cengeng kayak kamu dibentak dikit aja nangis." Menghempaskan tangan Salsa pelan.


Bukannya tersinggung Salsa malah tersenyum. "Gengsi digedein," cibir Salsa mencubit perut Azka.


Salsa lega Azka lebih cepat meredam emosinya atau apartemen laki-laki itu akan hancur. Satu kata untuk dirinya 'bodoh' selalu merasa takut juga menangis saat Azka membentaknya. Padahal dia tahu Azka punya kepribadian IED.


Semarah apapun Azka, dia tidak pernah bermain fisik pada Salsa. Azka kembali mendekap gadis yang sedang tertawa itu.

__ADS_1


"Kamu kerja buat apa? Tugas kamu cuma istirahat dan nemenin aku."


"Aku mau bantu Mama, Ka. Setidaknya membiayai pengobatan aku sendiri." Jujur Salsa.


"Gajinya berapa?"


"Dua juta tiga kali pemotretan," jawab Salsa.


"Aku bayar kamu 5 juta satu kali pemotretan." Salsa mendongak ingin memastikan kalimat itu benar-benar keluar dari mulut Azka. "Jadi model lingerie di kamar aku," lanjutnya. Tanpa melepas pelukannya, dia meraih ponselnya di atas meja.


"Mau ngapain?" selidik Salsa.


Azka memperlihatkan layar ponselnya. "Telepon Rayhan, buat beli kamera sama lingerie," jawabnya tanpa ekspresi.


Sontak, Salsa merampas ponsel Azka. "Ais, jangan Gila Ka."


"Kenapa? Kamu butuh uang sampai rela jadi model 'kan?" Azka menaikkan salah satu alisnya.


"Nggak!"


"Gadis pintar." Azka senyum tipis mengacak-acak rambut Salsa.


...****************...


Jangan lupa meninggalkan jejak, dan terimakasih untuk dukungan kalian😘

__ADS_1


__ADS_2