
Tidak ada cedera serius yang Azka derita hingga ia bisa pulang lebih awal dari rumah sakit. Mami Tari terus membujuk anaknya untuk tinggal di bersama sampai masa penyembuhan selesai, tetapi Azka menolak dengan keras. Laki-laki itu tidak ingin tinggal bersama Papinya.
"Berhentilah nyuruh Azka pulang Mi! Azka bukan anak kecil. Azka cuma patah tulang di tangan nggak bakal terjadi apa-apa!" tegas Azka menolak tawaran Maminya
"Azka, Mami khawatir sama keadaan kamu, kita pulang ya," bujuk Tari.
"Nggak akan! Mulai hari ini Azka nggak bakal menginjakkan kaki di rumah itu lagi. Azka nggak mau serumah sama orang asing," lirih Azka di akhir kalimat.
"Papi kamu cuma kelepasan sayang, dia nggak benar-benar marah."
Azka senyum sinis. "Kalau Papi anggap Azka sebagai anaknya maka dia sekarang ada di sini! Bukan di luar Negeri mengurus pekerjaan yang nggak seberapa itu!" suara Azka meninggi emosi kembali menguasai dirinya.
Salsa langsung mengenggam tangan Azka yang terkepal dengan getaran hebat "Tenangin diri Kamu! Yang ngajak kamu bicara Mami kamu, bukan orang lain," peringatan Salsa lembut.
__ADS_1
Azka mencoba untuk meredam emosi dalam dirinya. Beberapa hari yang lalu sebelum kecelakaan, ia sempat bertengkar dengan ayahnya karena membahas masa depan. Di mana masa depan yang Azka rencanakan jauh berbeda dengan masa depan yang Ans rencanakan.
Berbeda pendapat membuat anak dan ayah itu bertengkar hebat. Hingga Ans tega mengusir anaknya dari rumah.
Tanpa Ans tahu bahwa putra semata wayangnya mengidap penyakit kepribadian IED. Dimana orang yang mengidap penyakit itu tidak boleh hidup dalam tekanan.
"Maafkan Mami nggak bisa beri kamu keluarga yang harmonis seperti Alana sayang." Tari langsung memeluk Azka. "Lakukan apapun yang kau mau. Sekarang Mami akan selalu mendukungmu. Jangan dengarkan apa yang dikatakan Papi kamu," lirih Tari sembari memeluk putranya.
Sepeninggalan Mami nya, Azka diam seribu bahasa tanpa ekspresi. Padahal sebelum wanita cantik itu datang wajahnya berseri-seri karena baru pulang dari rumah sakit.
Salsa duduk di sofa kemudian merentangkan tangan agar Azka memeluknya. "Tidak ada hidup yang sempurna. Semua orang mempunyai masalahnya masing-masing. Aku nggak tahu masalah apa saja yang kamu alami dengan Papimu, tapi percayalah itu semua demi kebaikan kamu," ucap Salsa mengelus rambut Azka yang kini bersandar di pundaknya dengan tangan melingkar di pinggang.
"Nggak ada Ayah yang menginginkan anaknya sangsara, begitupun dengan Papi kamu. Dia menyayangimu Azka percaya deh, hanya saja dia memperlihatkan kasih sayangnya lewat kekerasan."
__ADS_1
"Kamu belain Papi?" tanya Azka yang kini berada dalam pelukan Salsa, tubuh gadis itu selalu membuatnya nyaman dan tenang di tengah masalah dan kecemasan yang ia hadapi.
Kekayaan tidak menjamin kebahagiaan itulah yang Azka tangkap dari hidupnya. Beberapa orang mengatakan uang dan kekuasaan adalah segalanya, tapi tidak untuk Azka. Ia mempunyai kekuasaan juga kekayaan tetapi tak pernah merasakan kebahagiaan di rumahnya sendiri.
Azka hanya bisa merasakan kebahagiaan saat berada didekat Salsa.
"Aku nggak bela Papi kamu Ka. Aku cuma jelasin dengan sudut pandang yang berbeda agar kamu tahu kalau Papi kamu sebenarnya sayang sama kamu," jawab Salsa.
"Coba sekali aja turutin kainginan Papi kamu!"
"Berhenti memihak siapaun Sal. Kamu hanya boleh memihak aku! Jangan nyuruh aku untuk nurutin keinginan Papi, karena kamu nggak tahu apa yang dia inginkan." Azka mendongak agar bisa melihat wajah cantik Salsa. "Apapun yang terjadi, please jangan tinggalkan aku," lirihnya.
...****************...
__ADS_1
Jangan lupa meninggalkan jejak, dan terimakasih untuk dukungan kalian😘