
Azka memarkirkan motornya dengan aman di garasi kemudian masuk ke rumah mewah milik ayahnya tanpa memencet bel seperti biasa. Amarah menguasai dirinya untuk saat ini. Kalau sampai Ans melukai Salsa sedikit saja, maka jangan salahkan dirinya jika memukul pria paruh baya berhati iblis itu.
"Salsa!" Suara Azka mengelegar setelah sampai di ruang tamu, membuat wanita paruh baya dan seorang gadis yang berada di dapur menoleh.
Salsa pamit sebentar pada Tari untuk menyusul Azka. Tidak mungkin ia menyahut dan berteriak di rumah orang. Sebernarnya Salsa sedikit terkejut karena Azka datang kerumahnya.
"Tante Salsa ...."
"Iya nak," jawab Tari sebelum Salsa menyelesaikan kalimatnya.
"Salsa!" Teriak Azka untuk kedua kalinya. Bukan Salsa lagi yang muncul, melainkan Ans juga ikut muncul dengan wajah arogannya.
"Azka, aku disini. Kenapa?" tanya Salsa menghampiri Azka.
Sontak Azka berbalik dan meneliti pakaian Salsa dari atas sampai bawah. Ia menghampiri kekasihnya, mebalik tubuh gadis itu ke kanan dan kekiri, memastikan Salsa baik-baik saja.
"Kamu kenapa Ka? Aku bukan boneka."
"Kamu nggak Papa?" tanya Azka khawatir.
"Aku nggak papa. Lagian ini rumah kamu, bukan hutan di mana ada binatang buas yang akan menerkam." Salsa tertawa walau sedikit garing, karena hanya dirinya yang tertawa. Ans yang duduk di sofa memperhatikan keduanya memasang wajah datar. Sementara Azka menatapnya sangat tajam.
Azka senyum sinis. "Rumah ini jauh lebih menyeramkan dari hutan asal kamu tau."
"Azka!" suara Ans mengintrupsi.
"Kita pulang!" Menarik tangan Salsa tanpa memperdulikan panggilan Papinya.
__ADS_1
"Tapi aku belum pamit sama Tante Tari," jawab Salsa.
"Pulang lah sayang!" perintah Tari dari dapur.
"Salsa pamit Tante."Mencium punggung tangan Tari, sebelum pergi ia sempat melirik Ans.
***
Sepanjang perjalanan pulang, Azka tak mengeluarkan sepatah katapun. Ia kecewa, marah, segala emosi campur aduk dalam hati dan pikirannya. Ia tersentak saat tangan mungil melingkar di pingangganya.
"Maaf aku bohongin kamu," lirih Salsa. "Aku nggak bermasuksud!"
"Diamlah, aku nggak mood bicara!" ucap Azka dingin, melajukan kecepatan motornya di atas rata-rata.
"Azka aku nggak mau pulang. Aku mau ngabisin waktu sama kamu. Kita ke apartemen kamu aja gimana?" tawar Salsa semakin mengeratkan pelukannya.
"Tubuh kamu wangi banget Ka. Aku nyaman," gumam Salsa.
Sesampainya di aparteman, ia memeluk erat tubuh Salsa. Sangat erat membuat gadis itu kesusahan untuk bernapas.
"Azka aku sesak," lirih Salsa.
"Plis jangan berbuat sesuatu yang membahayakan diri kamu Sal. Kamu nggak tau Papi aku gimana?" ucap Azka.
Salsa mengelus rambut Azka yang kini menyembunyikan wajah di ceruk lehernya. "Papi kamu baik Ka. Dia peduli sama masa depan kamu. Dia juga nggak ngapa-ngapain aku. Intinya nurut aja sama Papi kamu dan semua akan baik-baik aja," jawab Salsa.
"Papi ngomong apa aja sama kamu?"
__ADS_1
"Banyak, ternyata Papi kamu nyenengin orangnya."
Azka mendongak, menatap manik Salsa begitu dalam. Namun, gadis itu seakan menghindari tatapannya.
"Tatap aku!" perintah Azka.
"Salsa!"
"Aku lapar belum makan dari pagi Ka. Kita masak bareng mau? Kamu mau makan apa?" tanya Salsa hendak beranjak tetapi Azka menariknya.
"Pesan aja!" dingin Azka meraih ponsel di atas meja kemudian memesan makanan.
Salsa yang berada di pangkuan Azka tersenyum sangat manis. "Aku baru nyadar ternyata pacar aku setampan ini. Jadi nggak rela kalau ada yang ngambil."
"Aku cuma milik kamu, kalau kamu lupa Sal."
"Tentu saja, kamu cuma milik aku." Salsa kembali memeluk Azka.
"Aroma rubuh kamu nenangin Ka. Aku sampai nggak rela ngelepasin pelukan ini," gumam Salsa kini gantian ia yang menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Azka.
"Azka kamu nggak sibuk hari ini? Kamu mau nemenin aku sampai malam? Mama nggak ada di rumah aku kesepian."
"Azka ganteng, aku beruntung punya kamu."
Azka diam saja mendengarkan celotehan Salsa dalam pelukannya. Semakin Salsa bersikap manja padanya, rasa takut kehilangan kian besar di hatinya.
"Katakan padaku Sal, papi ngomong apa aja sama kamu!" paksa Azka.
__ADS_1
"Dia cuma minta aku harus memastikan masa depan kamu dengan versi terbaik," jawab Salsa. "Dia sangat menyangi kamu Ka."
...****************...