Cinta Dan Masa Lalu

Cinta Dan Masa Lalu
Part 208


__ADS_3

Salsa barbalik kala mendengar Azka memanggilnya, ia tersenyum dan berlari menghampiri sang suami.


"Jangan tinggalin aku Ka. Aku nggak tau gimana hidup aku tanpa kamu," rengek Salsa dalam pelukan Azka yang sedari tadi tersenyum sembari mengelus pundaknya.


"Sayang, aku nggak bakal kemana-mana. Aku akan tetap berada di samping kamu. Jadi jangan sedih apa lagi nangis." Azka mencium puncuk kepala Salsa.


Salsa mengangguk, ia menarik agar Azka duduk di bangku yang entah di mana. Namun, laki-laki itu menolak, melepaskan genggaman tangan Salsa.


"Jangan pergi!" rengek Salsa dengan mata berkaca-kaca. "Aku janji bakal jadi istri yang baik Ka. Aku nggak bakal marah-marah lagi."


"Papa mau ketemu aku sayang." Mengelua puncuk kepala Salsa sayang. "Walau aku jauh, percaya hatiku cuma buat kamu. Aku selalu ada di samping kamu."


"Azka." Dada Salsa mulai sesak, tak kuasa menahan air matanya.


"Istrinya Azka yang paling cantik nggak boleh nangis apapun yang terjadi." Mengelus pipi Salsa. "Jangan sedih saat aku pergi, kamu perempuan kuat. Jaga diri baik-baik, jangan terlalu percaya sama orang lain baik orang terdekat kamu sekalipun!"


Azka tersenyum sangat manis. "Saat aku pergi dan kamu menemukan cinta yang baru. Jangan lupain aku ya! Tetap ingat aku."


Air mata Salsa semakin deras mengalir mendengar penuturan suaminya. "Sampai kapan pun, nama kamu akan selalu disini Ka." Menepuk dadanya yang terasa sesak. "Mau puluhan laki-laki yang singgah, tak mampu mrngantikan kamu. Cintaku hanya untukmu, kalaupun kamu pergi aku harus ikut."


Azka membenamkan bibirnya di puncak kepala Salsa sangat lama, hingga menimbulkan kehangantan yang terasa nyata.

__ADS_1


"Aku nggak punya waktu banyak sayang. Jangan pernah berubah sama orang tua aku. Gantikan posisi aku di hati mereka. Sehat selalu."


"Azka!"


Azka tak menoleh lagi, langkah laki-laki semankin menjauhinya.


"Azka!" tariak Salsa berbarengan ia membuka matanya. Ruangan serba putih, itulah yang ia lihat pertama kali. Ia mengendarkan pandangannya dan mendapati Reni menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Suami aku mana Ma? Aku dimana?" tanya Salsa.


Reni langsung memeluk tubuh putrinya. "Yang sabar sayang," bisik Reni.


"Apaan sih Ma." Salsa melerai pelukan mamanya. "Suami aku mana? Kenapa mama malah nangis? Aku cuma nanya suami aku di mana!" teriak Salsa histeris.


Salsa tidak mendengarkan panggilan mamanya. Ia melepas jarum infus begitu saja dan berlari sekuat yang ia bisa menuju ruangan ICU. Di depan sana ia melihat inti Avegas duduk dengan keadaan kacau. Tari yang menangis histeris juga Alana.


Langkahnya berheti di depan ruangan ICU bertepatan dokter keluar mendorong brangkar dengan seseorang di atasnya di tutupi kain hingga kepala.


"Suami aku mana!" bentak Salsa.


Alana langsung memeluk tubuh sabahatnya yang bergetar hebat dengan tangisan pilu. "Azka ninggalin kita," lirih Alana membuat Salsa semakin syok.

__ADS_1


Ia memandangi seseorang yang ada di atas brangkar saat dokter membuka kain penutup itu. Hatinya bagai di iris sebuah belati melihat wajah pucat Azka yang sedang ternyum dengan menutup mata.


Ia mendorong Alana, kemudian mendekati berangkar. "Sayang bangun, kamu nggak kangen sama aku?" tanya Salsa meraba wajah dingin Azka dengan tangan bergetar.


Apa yang di lakulan Salsa membuat orang yang berada di sana tak kuasa untuk menahan tangis. Terutama anggonta inti yang di hinggapi rasa bersalah sangat besar. Mereka tidak pernah nyangka Azka berbuat nekat menemui Leo setelah tawuran malam itu selesai. Ia mengira Azka benar-benar pulang kerumahnya.


Salsa memeluk tubuh Azka sangat erat, menguncang tubuh dingin nan kaku itu. "Kenapa kamu tega ninggalin aku secepat ini Ka?"


"Kita bahkan baru saja fitting gaun pengantin. Kita belum lulus dan ngadain resepsi biar semua orang tau aku milik kamu."


"Azka bangun sayang! Siapa yang bakal ngajarin aku saat ujian nanti?" betak Salsa. "Kamu jahat Ka, pergi nggak ngajak-ngajak aku. Aku benci sama kamu."


"Maaf nona, kami harus membawanya pergi!" tegur dokter.


"Jangan bawa suami aku pergi kemanapun!" bentak Salsa pada dokter.


"Udah sayang, kasian Azka!" Reni menarik Salsa untuk menjauhi brangkar. Memeluk tubuh Salsa walau gadis itu terus membrontak, tak membiarkan Azka di bawa pergi oleh pihak rumah sakit.


"Mama, mereka mau ngambil suami aku," adu Salsa pada Mamanya. "Azka milik aku Ma."


"Tenangkan diri kamu sayang."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2