
"Azka ...." Suara Salsa tercekat karena sentuhan Azka di tubuhnya. "Aku ... aku pengen pipis," alibinya.
"Akhirnya bangun juga." Azka menyeringai, ia tahu dari tadi istrinya pura-pura tidur.
Mana mungkin Salsa begitu cepat terlelap, padahal baru saja mengirim pesan padanya.
"Di pancing dulu baru pulang, nggak ingat apa punya istri di rumah," gumam Salsa.
"Ingat sayang. Aku nggak mungkin lupa punya ratu di istana."
"Pintar banget istrinya Azka, tanpa di suruh udah pakai baju dinas aja," goda Azka menjawil hidung Salsa.
Azka kini berada di atas tubuh Salsa, salah satu tangannya menyanggah agar tidak terlalu menindih gadis dibawahnya.
"Azka!" rengek Salsa. "Besok aja ya," bujuknya.
"Besok sama malam ini sama aja Sal. Ngapain di tunda, Hm? Ujung-ujungnya juga bakal aku dapat."
"Jangan kasar," lirih Salsa.
"Nggak akan sayang."
__ADS_1
Azka mengecup kening sang istri telebih dulu, mengumamkan do'a sebelum melakukan hal lebih pada istrinya.
Bibir itu mulai turun ke mata, hidung dan berakhir di bibir kenyal milik Salsa.
Malam ini Azka akan menjadikan Salsa istri seutuhnya.
"Kalau sakit cakar punggung aku Sal. Jangan berusaha menghentikanku," bisik Azka.
Bibir seksi milik Azka mulai menjelajahi tubuh yang menjadi candu baginya. Mengabsen setiap inci tubuh Salsa hingga ia benar-benar puas. Azka kembali menatap sang istri yang kini mulai mengeluarkan lenguhan padahal dirinya baru pemanasan.
"Buka mata kamu Sal, tatap aku!" perintah Azka dengan nafas tak beraturan.
"Buka sayang!" bisik Azka.
Tepat saat Salsa membuka matanya, belalai Azka menerobos masuk begitu saja, hingga jerintan kecil keluar dari mulut gadis itu. Untung saja Azka dengan cepat membungkan mulut Salsa hingga hanya lenguhan tertahan yang terdengar.
Rasa sakit tak tertahankan Salsa rasakan di bagian bawah tubuhnya, air mata merembes begitu saja membasahi bantal yang ia gunakan. Kuku panjangnya menancap dengan sempurna di pungung Azka.
"Sakit Ka," lirih Salsa.
Azka menghentikan pergerakannya. Mengecup kening Salsa sangat lama. Kelemahan Azka adalah melihat Air mata di wajah gadis yang ia cintai. Membuatnya tak kuasa untuk melanjutkan aktivitas mereka.
__ADS_1
"Mungkin belum saatnya," gumam Azka hendak memisahkan diri, tetapi kaki Salsa keburu melingkar di pingangnya.
"Lakukan apa yang harus kamu lakukan Ka!"
"Tapi aku nggak tega ...."
Salsa langsung meraup bibir Azka rakus, berusaha menghilangkan rasa sakit di bagian bawahanya. Ia tidak ingin mengecewakan Azka. Sudah tugasnya sebagai seorang istri untuk menyerahkan hak suaminya.
Seiring pergerakan Azka di atas tubuhnya, Salsa semakin ngencar menjelajahi mulut Azka hingga tanpa sadar mengigitnya saat rasa sakit tak tertahankan kembali ia rasakakan. Belalai Azka semakin masuk kedalam tubuhnya.
Lama keduanya saling bertukar saliva, membagi kehangatan satu sama lain. Hingga Salsa merasakan seperti di terbangkan keatas awan saat puncak itu datang. Pelukannya di tubuh Azka semakin erat, tubuhnya bergetar hebat sebelum terkulai lemas.
Napas Salsa tidak beraturan begitupun dengan Azka yang kini menyembunyikan wajahnya di antara buah melon Salsa.
Azka memisahkan diri, kemudian menarik Salsa kedalam pelukannya. "Terimakasih sudah menjaganya untukku," bisik Azka, mengecup wajah Salsa yang di penuhi akan keringat.
"Jangan tinggalin aku Ka," gumam Salsa membalas pelukan Azka.
"Nggak akan, kecuali maut yang memisahkan," balas Azka.
...****************...
__ADS_1