
Pesta berakhir dua jam yang lalu, semua orang sudah bubar begitupun Azka dan Salsa yang pulang bersama. Sepanjang jalan, Azka tak mengeluarkan suara sedikitpun walau Salsa terus mengoceh. Api cemburu masih menguasai diri Azka saat melihat Salsa bernyanyi di atas panggung dengan seorang pria yang di kenal sebagai aktor.
"Azka gue mau cerita sesuatu sama lo, tadi gue bahagia banget bisa ketemu ...."
"Nggak usah cerita gue malas dengar cerita lo," potong Azka cepat, fokus menyetir, menatap Salsa saja tidak.
Salsa terhenyak akan perkataan Azka barusan, ada apa dengan laki-laki itu? Belum cukup ia menuruti kemauan Azka untuk tidak mengajaknya bicara di pesta?
"Ka, lo kenapa?" tanya Salsa tak ingin menerka-nerka.
"Siapa cowok tadi?"
"Kak Devan?"
"Nggak usah sebut namanya gue nggak suka." Nada bicara Azka semakin ketus, bukannya marah, Salsa malah mengulum senyum. Jadi Azka jutek seperti ini karena cemburu?
"Dengerin cerita gue kalau gitu," pinta Salsa.
"Gue nggak mood Sal, jadi berhenti bicara!"
Bukannya berhenti, Salsa malah menarik sebelah tangan Azka untuk ia genggam.
__ADS_1
"Dia memang tampan dan gue ngenfas banget sama dia sejak pertama kali debut. Tapi Dia sama sekali nggak bisa nyaingin lo, Ka. Lo laki-laki yang penuh tanggung jawab, perhatian, baik dan tentu saja cinta sama gue. Laki-laki di luar sana nggak bakal bisa geser posisi lo di sini." Salsa meletakkan sebelah tangannya di Dada.
"Ekhem." Azka berdehem demi menetralkan kegugupan yang tiba-tiba melanda.
Akspresi yang semula datar dan dingin kini sedikit adem. Azka tersenyum sangat tipis mendengar pengakuan Salsa yang mampu membuat tulang-tulangnya rapuh seketika.
"Kan adem Ka, liat lo senyum, walau cuma dikit. Sekarang gue boleh cerita sesuatu sama Lo?"
"Hm."
"Mami lo tadi nanya hubungan kita seperti apa, dan gue jawab cuma sebatas teman. Nggak papa, kan?"
Dada Azka bergemuruh mendengar ucapan Salsa, bukan sakit hati Salsa mengakuinya sebagai teman. Tapi ia merasa sakit membayangkan bagaimana perasaan Salsa saat mengatakan itu semua. Harusnya ia menjadi laki-laki gantel yang mengakui hubungan mereka.
"Gue? Entahlah," gumam Salsa.
"Syukurlah kalian tidak pacaran."
Hati Salsa bagai di hantam bongkahan batu besar mendengar kalimat yang di lontarkan Tante Tari setelah ia mengatakan hanya berteman dengan Azka. Kalau saja tidak melihat perjuangan laki-laki itu, Salsa akan mundur. Buat apa hubungan terus berjalan tanpa ada restu?
"Salsa!"
__ADS_1
"Kenapa Ka?"
"Gue janji ...."
"Jangan berjanji sesuatu Ka, itu akan akan jadi hutang yang sangat besar kalau saja lo nggak bisa nepatin suatu hari nanti."
Tak terasa keduanya sampai di halaman rumah Salsa.
"Azka tangan gue," ucap Salsa saat Azka tak melepaskan genggaman tangannya.
"Satu jam," pinta Azka menatap Salsa begitu dalam.
"Huh?"
"Temenin gue tidur!" pinta Azka.
Salsa menelan salivanya kasar, kalimat Azka sangat ambigu di telinganya.
Azka menyandarkan kepalanya disandaran kursi mobil, memejamkan mata sembari mengengam tangan Salsa. Hanya tidur di dekat Salsa membuat Azka begitu nyeyak di tengah masalah yang ia hadapi, apa lagi akan menjelang kelulusan. Tuntutan sang Ayah yang menyuruhnya kuliah di Negara orang, janjinya pada Salsa untuk menangkap pembunuh ayah gadis itu, dan restu yang sedang ia tunggu.
"Kirain Apaan Ka, tidur aja gue bakal nungguin lo," Mengusap kepala Azka.
__ADS_1
...****************...
Jangan lupa meninggalkan jejak😊