Cinta Dan Masa Lalu

Cinta Dan Masa Lalu
Part 94


__ADS_3

Mendapat persetujuan dari Keenan, Salsa langsung menghambur kepelukan laki-laki itu. Menangis sejadi-jadinya, sudah lama ia ingin memeluk Keenan mencurahkan seluruh rasa yang selama ini ia pendam.


"Menangislah sepuas yang lo mau Sal, gue bakal nemenin lo disini," ujar Keenan mengelus punggung Salsa yang bergetar, sesekali mengecup puncuk kepala Salsa.


"Kenapa selama ini lo jauhin gue Iyan? Lo nggak tau gimana rindunya gue? Saat Papa meninggal gue nunggu kedatangan lo, tapi yang datang cuma Papa Dilan dan Mama Rianti," lirih Salsa.


"Maaf, gue nggak sanggup liat lo nangis waktu itu Sal, terlebih gue yang buat ayah lo meninggal. Seandainya gue datang tepat waktu bersama yang lain, mungkin sekarang ...."


"Gue udah bilang semua ini bukan salah kalian, Papa meninggal memang karena ajal, tentang kecelakaan itu hanya perantara menuju kematian!" Sanggah Salsa cepat. "Lo maukan kayak dulu lagi? Jadi abang gue dan jangan menghindar lagi," pintanya menatap manik Keenan yang begitu teduh menenangkan hati.


Keenan mengangguk walau merasa sakit Salsa memintanya menjadi seorang abang, padahal rasa yang ia punya melebihi itu. Tapi apa daya, Azka dan Salsa saling mencintai. Ia bodoh karena menyia-nyiakan waktu yang ada hanya karena sebuah penyesal.


"Jangan pernah menyerah karena sekarang lo punya Abang dan pacar yang sangat sayang sama lo!" pinta Keenan.


Salsa kembali memeluk Keenan begitu erat. Memeluk Keenan, sama seperti memeluk ayahnya. Rasa rindu yang menggunung di hati kian menipis berada di pelukan laki-laki itu.


***


Dari jarak jauh seorang laki-laki mengepalkan tangan melihat kemesraan sahabat juga pacar yang ia cintai. Dia adalah Azka, sengaja ke Bandung setelah membuka pesan dari Salsa yang mengatakan akan berkunjung ke rumah kerabatnya.

__ADS_1


Dengan langkah lebar Azka menghampiri kedua manusia berbeda gender itu.


"Jadi ini kerabat yang lo maksud?" Pertanyaan Azka membuat Salsa menoleh.


"Azka," gumam Salsa melerai pelukannya lalu berdiri menghampiri laki-laki berwajah datar dengan tatapan sangat tajam.


Bugh


Tubuh Keenan sedikit terhuyung karena pukulan Azka. Ketua Vages itu menarik kerah baju wakilnya. "Jadi ini urasan penting yang lo maksud?" tanya Azka penuh tekanan.


"Azka udah ...."


"Diam!" bentak Azka menepis tangan Salsa begitu kasar.


"Jadi ini artinya sahabat? Bertemu diam-diam dengan pacar sahabatnya sendiri? Ba*ngsat lo Keen!" Azka kembali memberi pukulan.


"Azka udah," lirih Salsa mulai ketakutan sendiri apa lagi hari mulai gelap.


"Munafik lo!" maki Azka.

__ADS_1


Azka melangkah pergi setelah memukul Kenan, tak sedikitpun ia melirik Salsa.


"Azka gue bisa jelasin semuanya," pinta Salsa menarik tangan Azka, mencegah laki-laki itu pergi dalam keadaan emosi.


Azka menepis tangan Salsa, melempar kalung berliontin angsa putih tepat di hadapan gadis dengan mata sembab itu.


"Enyelah dari hidup gue!"


Bruk


Salsa jatuh terduduk di atas pasir mendengar kalimat menyakitkan Azka. Apa lagi melihat kalung yang ia cari di lempar. Ia memandangi kalung itu.


Jadi ini yang buat lo marah sama gue? Maaf ka, gue nggak mau lo kecewa, karena nggak bisa janga pemberian lo.


"Sal lo nggak papa, Kan?"


"Keen, Azka nggak marah sama gue, dia cuma emosi aja, besok baik lagi," ujar Salsa penuh harap, tak ingin mempercayai kemarahan Azka.


"Kita pulang!"

__ADS_1


...****************...


Jangan lupa meninggalkan jejak, dan terimakasih untuk dukungan kalian😘


__ADS_2