
Azka sampai di rumah setelah jam sembilan malam. Laki-laki itu mengikuti balapan liar tanpa sepengetahuan siapapun, bahkan Salsa sekalipun. Azka hanya ingin menenangkan pikiran dengan cara balapan, bahkan uang yang ia menangkan langsung masuk ke kotak amal masjid, perkara halal dan tidaknya itu bukan urasannya.
Azka merebahkan diri di kasur setelah melempar tas sekolahnya asal, menatap langit-langit kamarnya dengan tangan sebagai bantal.
"Kenapa lo bohongin gue Sal? Apa pernah gue marah saat lo jujur?" gumam Azka.
Sama halanya dengan Alana, Azka tak suka kebohonga, ia lebih baik menerima kabar buruk dari pada harus menutupi dengan kebohongan.
Azka meraih benda pipih di sampingnya, mengetik sesuatu dan mengirim pada Salsa.
For Salsa: Gue udah di rumah.
For Azka: Jangan lupa makan, Ka.
Azka senyum tipis membaca sederet pesan Salsa, gadis itu tak pernah kapok memberi perhatian walau Azka sering membalasnya dengan kalimat yang sedikit nyelekit. Bukan apa-apa, ketua Avegas itu masih tidak percaya pada dirinya sendiri tentang kebucinan tingkat dewa yang ia rasakan.
For Salsa: Tanpa lo ingetin gue bakal makan.
For Azka: ๐๐
Tanpa menunggu waktu, Azka segera melakukan Video call setelah melihat emot yang di berikan Salsa.
"Baperan!"
"Siapa yang baperan, orang cuma ngirim emot gitu aja," jawab Salsa di seberang telpon.
"Gue punya waktu, lo mau cerita apa? Gue siap dengerin, atau lo butuh sesuatu?"
__ADS_1
"Azka gue dengar dari Alana, katanya Leo bebas yang semalam? Azka jangan tawuran ya gue takut lo kenapa-napa."
"Hm." Azka terus memandangi wajah tanpa makeup itu.
"Lo nggak mau cerita sesuatu sama gue?" ulang Azka berharap Salsa jujur padanya.
"Gue sayang sama lo, Ka."
"Gue tahu."
"Narsis," cibir Salsa.
"Gimana? Kalung lo udah ketemu belum?"
Salsa menghindari tatapan Azka, ia belum menemukan kalung laki-laki itu.
"Tidurlah!"
Tut
Azka melempar benda pipih itu asal setelah memutuskan sambungan sepihak.
"Siala*n!" maki Azka entah pada siapa.
***
Pagi harinya Azka menjemput Salsa seperti biasa, tapi kali ini laki-laki itu tak mengeluarkan suara sedikitpun walau Salsa sedari tadi bertanya atau membicarakan banyak hal. Rasa kecewa Azka belum juga hilang, bahkan otaknya selalu tidak singkrong mempertanyakan alasan kenapa Salsa berbohong padanya.
__ADS_1
Hingga jam istirahat tiba, Azka belum juga mengeluarkan suara membuat Salsa bingung sendiri akan sikap dingin Azka melebihi siapapun.
"Azka lo mau kemana?"
"Basket," jawab Azka seadanya.
"Ikut boleh?"
"Hm."
Mendapat izin dari Azka, Salsa ikut kelapangan untuk melihat laki-laki itu bermain basket dengan anggota inti lainnya. Sepanjang jalan tak ada lagi istilah pegangan tangan yang selalu Azka lakukan, tangan laki-laki itu setia di dalam seku celananya.
"Semangat Azka!" teriak Salsa dari pinggir lapangan.
"Semamgat kesayangan," gumam Alana entah muncul dari mana. "Teriak gitu dong, biar ayangnya makin semangat," goda gadis berambut indah itu, ikut duduk di pinggir lapangan memperhatikan Dito dan yang lain bermain Basket.
Brugh.
Azka jatuh setelah bola basket menghantam wajah tampan laki-laki itu, banyak pikiran membuatnya hilang fokus di tengah lapangan, padahal ini tak pernah terjadi sebelumnya.
"Azka!" teriak Salsa berlali ketengah lapangan di ikut Alana.
"Lo nggak papa bro?" Keenan mengulurkan tangan membantu Azka berdiri.
"Pak ketu, lo nggak papa kan? Biasanya nggak oleng gitu." Rayhan ikut mendekat bersama anggota yang lain.
...****************...
__ADS_1
Jangan lupa meninggalkan jejak, dan terimakasih untuk dukungan kalian๐