Cinta Dan Masa Lalu

Cinta Dan Masa Lalu
Part 170


__ADS_3

Mendengar suara decitan pintu, Salsa buru-buru menghapus air mata di pipinya. Tak ingin Azka mengetahuinya sedang menangis. Namun, terlambat laki-laki itu terlalu peka apapun tentang dirinya.


"Kamu nangis kenapa Sal? Sakit banget ya? Aku panggil dokter." Azka berjalan mendekat, kemudian membatu Salsa menghapus air mata di pipinya.


Gadis itu mengeleng, sembari mengenggam tangan Azka yang masih berada di pipinya. "Aku nggak papa Ka," jawab Salsa.


"Nggak papa tapi nangis, emang semua perempuan gitu ya?" tanya Azka dengan wajah datarnya.


"Kalau ada apa-apa cerita sayang, nggak semua orang tau isi hati seseorang," lanjut Azka mencoba membujuk Salsa.


Gadis itu menunduk. "Rambut aku rontok Ka, aku takut botak dan ...."


Azka tersenyum, duduk di pinggir brangkar lalu menarik tubuh Salsa. Menyembunyikan kepala gadis itu di dada bidangnya. "Itu efek samping transplantasi Sal, nggak ada yang aneh. Seiring berjalannya waktu itu semua akan hilang asal kamu rajin berobat dan turuti apa kata dokter."


Azka mengelus pundak Salsa dengan sebelah tangannya. "Lucu nggak sih kalau kamu botak, kayak boneka gitu," gumam Azka mengulum senyum, mendapat bahan baru untuk mengejek sang kekasih.


Jujur saja ia sering kesulitan mencari bahan obrolan saat berdua saja dengan Salsa. Berbeda jika bersama teman-temannya, pembicaraan mengalir begitu saja layaknya air sungai.


Ia meringis kala mendapat cubikan di perut. Sedikit menunduk untuk memperhatikan wajah sang kekasih, dan benar saja gadis itu tengah cemberut terbukti bibirnya manyun hingga 20 cm. Eh panjang amat.


"Jangan mikirin apapaun yang buat kamu stress!" gumam Azka.


Salsa melerai pelukan Azka, ia ingin buang air kecil. "Minggir aku mau ketoilet," lirih Salsa.

__ADS_1


Bukannya minggir, Azka malah mengendong tubuh Salsa ala bridal style ke kamar mandi.


"Azka aku bisa sendiri. Lagian dokter bilang aku harus banyak bergerak biar perut bagian bawah aku nggak kaku."


"Kamu bisa olahraga setelah keluar dari rumah sakit. Ini baru satu hari, kalau jahitannya robek gimana?" omel Azka menurunkan Salsa di kamar mandi.


"Apa bedanya sama kamu pas selesai operasi? Tiga hari udah naik motor aja," gumam Salsa.


"Beda sayang," sanggah Azka.


"Yaudah keluar!"


Azka menuruti keinginan kekasihnya, menunggu di depan pintu. Beberapa menit berlalu pintu kamar mandi terbuka menampilkan Salsa yang berjalan dengan sedikit menunduk.


"Bantu aku jalan aja!"


Azka mengulum senyum, keras kepala kekasihnya sangat mengemaskan minta di gigit. Ia memapah Salsa sampai di berangkar. Membatu gadis itu berbaring.


***


Hari begitu cepat berlalu, tak terasa sudah seminggu Azka di Bandung menemani Salsa di rumah sakit. Dan hari ini hari terakhir kekasihnya di rumah sakit. Semua barang bawaan Salsa sudah siap untuk segera pulang kerumah.


Di antara mama Reni dan Azka. Azka lah yang paling sibuk mengurus ini itu untuk keperluan Salsa. Bahkan laki-laki itu lebih dulu ke bagian administrasi melunasi semuanya.

__ADS_1


Mama Reni yang baru saja bertemu dokter Jesy menatap Azka sembari menghembuskan nafas kasar.


"Tante bakal ngambaliin uang kamu," ucap Mama Reni membuat Salsa yang sibuk duduk di pinggir ranjang lansung mendongak kemudian menatap Azka.


"Kamu yang bayar?"


"Hm."


Azka menatap calon mertuanya. "Nggak usah Tante, Azka ikhlas kok," jawab Azka.


Azka mengendong Salsa naik ke kursi roda dan mendorongnya menuju parkiran. Di sana sudah ada mobil mama Reni menunggu.


Sepanjang ia berjalan di koridor ada saja yang memperhatikan ketua Avegas dengan segala ketampanan yang ia miliki.


"Azka, lama-lama sama kamu kayaknya aku bakal punya penyakit hati deh," lirih Salsa sedikit mendongak untuk menatap Azka yang berdiri di belakangnya.


"Kenapa, hm?"


"Aku nggak suka mereka liatin kamu sampai segitunya."


Azka memperhatikan sekitar dan tidak mendapati Mama Reni di manapun. Ia menunduk kemudian mengecup bibir Salsa yang sangat manis seperti permen.


"Tenang aja, hati aku cuma buat kamu."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2