
3 Bulan Kemudian
"Maass" Teriak Amel dikamar mandi
Faiz yang berada di dapur berlari ke kamar, setelah Amel berteriak, ia takut terjadi apa - apa dengan Istrinya
"Sayang kamu kenapa, buka pintunya?"
Amel membuka pintu kamar mandi dengan mat berkaca - kaca "Hiks.. Hiks Mas"
"Ada apa sayang kenapa kamu menangis, kamu jatuh atau kenapa?" Ucap Faiz setengah panik
Amel kemudian memperlihatkan testpack kepada Faiz "Aku hamil Mas"
Faiz mematung mendengar perkataan istrinya, ia tidak bisa mengekspresikan rasa bahagianya.
Amel yang melihat suaminya itu langsung memukul dada suaminya "Mas, kamu nggak senang aku hamil"
Faiz tersadar "Haaa, kamu tadi bilang apa sayang"
"Hiks...Hiks.. Aku kira kamu bakalan senang dengan kehamilan aku Mas ternyata kamu Hiks.. Hiks.. Sudah lah Mas, kamu pergi aja aku bisa rawat anak aku sendiri" Ucap Amel ingin masuk kembali ke kamar mandi
Faiz memegang pergelangan tangan istrinya "Kamu mau kemana sayang, enak aja kamu mau rawat sendiri anak itu,"
"Tapi kamu nggak senang aku hamil kan Mas"
Faiz kemudian menarik tubuh Amel kedalam pelukannya "Siapa bilang aku ngga senang, justru aku nggak tau aku harus bagaimana sayang saking bahagianya, aku merasa orang paling beruntung di dunia ini bisa menghamili kamu"
Amel memukul bahu suaminya yang masih dalam pelukan Faiz "Ya iyalah, kamu kan suami aku Mas, jadi wajar kamu hamilin aku"
Faiz melonggarkan pelukannya lalu menghapus air mata istrinya "Jangan nangis lagi yah, dan terima kasih kamu udah beri aku kebahagiaan"
"Jadi Mas terima anak aku?"
"Anak aku juga, orang aku yang kerja keras goyang di atas kamu"
"Dasar kamu yah Mas"
"Sekarang kamu siap - siap kita ke Rumah Sakit cek baby kita"
"Tapi kamu harus kekantor"
"Urusan kamu dan anak kita lebih penting dari pada urusan kantor"
Amel mengangguk kemudian mereka bersiap - siap menuju Rumah Sakit
Sesampainya di Rumah Sakit mereka langsung masuk ke ruang pemeriksaan
"Selamat Nyonya, Tuan usia kandungan nya sedih menginjak 8 minggu"
__ADS_1
Amel dan Faiz tersenyum melihat pemeriksaan USG "Yang kayak biji asam itu yah anak saya yah Dok"
"Mas kok ngomong biji Asam"
Dokter kemudian tersenyum "Iya Tuan, ini dia"
Setelah mereka selesai pemeriksaan, Dokter memberikan beberapa arahan kepada calon orang tua itu.
"Dok boleh saya nanya nggak dok?"
"Oh silahkan Tuan?"
Faiz menggaruk kepalanya yang tidak gatal "Itu Dok apa bisa kita melakukan hubungan suami istri Dok?"
Seketika waja Amel seperti kepiting rebus karena ulah suaminya yang tidak tau malu itu, bisa - bisanya ia membuat pertanyaan seperti itu.
"Dokter kemudian tersenyum "Karena janinnya kuat boleh kok Tuan tapi pelan - pelan yah"
Faiz seperti mendapat angin segar "Ohh syukurlah, Terima Kasih yah Dok"
Faiz tidak henti - hentinya tersenyum bahkan mereka sekarang berada dalam mobil, Faiz terus menggenggam tangan Amel dan sesekali menciumnya.
"Sayang kita makan dulu yahh?"
"Iya Mas aku juga udah lapar banget"
"Kamu mau makan apa sayang?"
"Oke demi istri dan anakku apapun permintaannya akan aku kabulkan"
Malam harinya, setelah mereka makan malam, Faiz dan Amel bersiap - siap untuk tidur, Amel terus saja mencium dada Faiz sekali - kali menghisap putingnya, mungkin itu hormon kehamilannya
"Sayang jangan gini dong, aku kan jadi kepengen"
"Tapi aku ingin sekali menghisapnya Mas, lagian kata dokter kita nggak boleh ngelakuin dulu tunggu beberapa hari" Amel terus menghisap ****** Faiz
"Bisa kok tapi pelan - pelan"
"Aku nggak mau Mas, aku cuma mau ini" Ucap Amel kembali menghisap dada Faiz
"Tapi sayang punyaku dibawa udah tegang banget"
Amel menggeleng "Itu urusan kamu Mas pokoknya aku nggak mau"
"ya kalau nggak mau nggak usah mainin dada aku, kan dibawa jadi tegang"
"Jadi kamu marah Mas" Mata Amel mulai berkaca - kaca, Faiz jadi merasa bersalah
"Nggak marah kok sayang, ya udah kamu lanjutin aja ***** nya sambil aku peluk"
__ADS_1
Amel kembali tersenyum dan kembali menghisap ****** Faiz, sedangkan Faiz hanya bisa menahan hasratnya yang dibuat oleh istrinya
Hingga pagi Amel masih saja memainkan dan menghisap dada Faiz, Amel merasa nyaman sekali tidurnya
"Hoaammmm" Amel kemudian membuka matanya lalu melihat Faiz yang masih terlelap
"Gantengnya suamiku, Cup" Amel mengecup sekilas bibir Faiz
"Sayang jangan menggodaku" Ucap Faiz suara serak bangun tidurnya
"Pede banget kamu Mas, siapa juga menggoda mu lagian itu ucapan terima kasihku karena semalam aku nyusu"
"Apapun akan aku lakukan demi kalian"
"Udah ah, aku mau mandi"
Amel kemudian bangun dan langsung menuju kamar mandi setelah Amel selesai mandi iya kemudian membangunkan Faiz yang masih terlelap
"Mas ku sayang bangun, ini udah jam berapa nanti kamu telat kantor"
"Hmm 5 menit lagi sayang"
Amel terus menepuk bahu Faiz "Mas bangun ih, aku udah siapin kamu air cepettan Mas"
"Iya sayang" Faiz kemudian bangun dan menuju kamar mandi sedangkan Amel ke dapur untuk membuat sarapan untuk Faiz
"Sayang pasangkan dasiku" Ucap Faiz
Amel kemudian menata makanan mereka, kemudian menuju Faiz untuk memasangkan dasinya
"Sudah siap Mas ku"
"Kok aku makin ganteng yah,"
"Ya iyalah orang aku service kamu dengan baik"
Faiz terkekeh " Iya sayang, ya udah yuk makan"
"Mas kita belum kabari Mommy dan Mama kalau aku hamil"
"Aku pulang siang, kita ke rumah mama dulu terus nanti nginap nya di rumah Mommy"
"Emang boleh Mas"
"Ya boleh lah, aku sengaja nggak ambil rapat hari ini biar kita bisa ke rumah orang tua kita kasi kabar gembira ini"
"Aku makin cinta deh sama kamu Mas"
"Bahkan cintaku lebih besar dari mu sayang"
__ADS_1
Faiz kemudian berangkat kekantor, sedangkan Amel beres - beres apartemen, awalnya Faiz tidak setuju kalau Amel melakukan pekerjaan rumah dan berniat untuk memperkerjakan asisten rumah tangga, tapi Amel ngotot nggak mau bahkan Amel sampai menangis, Faiz hanya pasrah dengan keputusan istrinya.