
"Aku mau novel itu, tapi nggak nyampe." Tunjuk Salsa pada novel bagian atas.
"Makanya jadi cewek tinggi dikit," ejek Azka.
"Kalau cewek tinggi, gunanya cowok tinggi apa Azka?" Salsa membalik perkataan Azka hingga laki-laki itu kebahisan kata-kata.
Benar yang di katakan Salsa. Cowok tinggi tidak akan berguna jika semua cewek ikut tinggi, buktinya sekarang, Salsa tidak akan memanggil Azka kalau saja dia tinggi.
"Lebih gampang ngebantin," gumam Azka.
"Kamu mau banting aku Ka?"
"Umpama Sal, ya kali. Kecuali kamu selingkuh."
"Aku di banting?" tanya Salsa.
"Selingkuhan kamu aku banting, tepat di depan kamu langsung," jawab Azka sedikit memepetkan tubuhnya ke rak buku untuk mengambil buku yang di inginkan Salsa.
Hingga gadis itu sedikit mundur merapatkan tubuhnya ke rak buku. Itu saja hidung Salsa menyetuh lengan bagian dalam Azka. Satu kata.
Wangi, khas aroma tubuh Azka yang selalu membuatnya nyaman.
Setelah mendapatkan buku itu, Azka sedikit menunduk sembari memberikannya pada Salsa.
Ia menarik dagu Salsa agar menatapnya padahal susah payah gadis itu mengalihkan perhatian.
"Jangan nunduk, aku nggak suka!" ucap Azka.
__ADS_1
Saat Salsa mendongak, tatapan Azka malah tertuju pada bibir pink milik Salsa.
"Manis," gumam Azka.
"Huh?"
"Kamu makin hari, makin jelek Sal."
"Sebahagia kamu Ka. Aku ikhlas di hina mulu," gerutu Salsa.
"Kejadian apa yang terlintas di otak kamu saat posisi kita seperti ini apa?" tanya Azka.
"Saat aku jadi murid baru di sekolah. Kamu itu nyebelin suka maksa orang, apa lagi pas di perpus waktu itu."
"Ingat?" Azka menaikkan alisnya.
"Permisi kak, saya mau ambil buku itu," ucap salah satu pengunjung membuat Salsa terkesiap, dan mendong Azka agar menjauh darinya.
Detik itu juga, pengunjung itu mendapat tatapan tajam dari Azka, di untungkan laki-laki itu memakai kaca mata jadi tidak ada yang menyadarinya.
Puas memilih, Salsa mengajak Azka ke kasir untuk membayar.
"Cuma itu? Nggak mau nambah lagi?" tanya Azka. Pasalnya Salsa hanya mengambil dua buku novel saja.
"Ini aja, next time beli lagi kalau udah habis baca. Lagian uang aku nggak cukup."
"Yang nyuruh kamu bayar siapa, Hm?"
__ADS_1
"Nggak ada. Tapi 'kan ini punya aku, jadi aku yang bayar Ka. Aku nggak mau di bayarin sama kamu. Aku punya uang sendiri."
"Sal!"
"Udah deh diam, mending kamu tabung uangnya!"
Salsa maju kedepan untuk menyerahkan dua buku yang ia pegang pada kasir.
"Cuma ini kak?" tanya sang kasir ramah. "Ada tambahan?"
"Azka ...." Salsa mengenyit saat tak mendapati Azka di belakangnya, malah orang lain. Padahal ia ingin bertanya apa Azka juga beli sesuatu biar sekalian.
"Nggak ada kak, itu aja," jawab Salsa.
Setelah membayar dan hendak pergi, Salsa di kagetkan dengan kedatangan Azka tiba-tiba di sampingnya. Ia melongo tidak percaya melihat buku di dalam troli, jika di hitung-hitung ada puluhan novel di sana, dengan berbagai genre dan judul.
"Tolong di paketin dan kirim ke alamat ini." Menyerahkan kertas not yang ia minta dari kasir sebelah untuk menulis alamat.
Azka menarik tangan Salsa pergi setelah menuntaskan pembayaran.
"Mau jalan lagi?"
"Ngapain beli novel sebanyak itu Ka? Aku cuma bercanda tadi mau beli 100 novel," protes Salsa dengan wajah cemberut.
"Udah terlanjur kebeli, nggak bisa di balikin lagi. Terima aja," ucap Azka santai. Padahal baru saja mengeluarkan uang dengan jumlah besar.
...****************...
__ADS_1