
Azka mengira apa yang di katakan Ans beberapa hari yang lalu hanyalah bualan semata, ternyata tidak. Terbukti pria paruh baya itu mengujungi apartemen Azka untuk kali pertamanya setelah putranya membeli apartemen itu.
"Papi?" kaget Azka.
"Pagi nak, boleh Papi masuk?" izin Ans di jawab anggukan oleh Azka.
Laki-laki itu berjalan lebih dulu menyusul Maminya di dapur untuk mengabarkan Papinya ada di sini.
"Mi, Papi ada di luar, kayaknya mau ketemu Mami. Azka berangkat dulu ada urusan," pamit Azka mencium pungung tangan Tari.
"Nggak mau ngobrol dulu nak sama Papi?" tanya Tari.
"Nggak Mi, malas," jawab Azka.
Sebelum pergi Azka menuju kamarnya untuk mengambil kunci motor, rencananya wekend ini ia akan berlibur bersama Salsa setelah dari dokter untuk memeriksakan kondisi sang kekasih.
Langkahnya berhenti di ambang pintu mendengar suara berat khas Papinya.
"Kamu mau kemana Nak? Papi mau bicara sama kamu," cegah Ans. "Sebentar saja," pintanya.
Jika dulu Azka yang mengemis agar Papinya perhatian dan ada waktu, maka sekarang kondisinya terbalik. Kini Ans yang mengemis waktu dari putranya, dan rasanya tidaklah enak.
Dengan terpaksa, Azka ikut duduk di hadapan Ans bersama Tari di sampingnya. "Ada apa kamu bertamu pagi-pagi seperti ini? Bukannya kau pengusaha sukses yang tidak punya waktu?" sindir Azka.
"Azka sayang, dengarkan Papi dulu," tegur Tari.
__ADS_1
"Papi datang mau jemput kamu dan Mami pulang kerumah. Tapi sebelum itu, temani Papi kerumah Salsa untuk meminta maaf," ucap Ans membuat Azka terdiam.
"Benar itu Ans? Kamu yakin?" tanya Tari tak percaya. Ia tidak menyangka secepat itu Ans berubah, kalapun semuanya benar, ia sangat bahagia.
"Iya sayang," jawab Ans. "Segeralah bersiap-siap!" perintahnya.
***
Sesuai permintaan Ans, Azka mengantar kedua orang tuanya kerumah Salsa. Mami dan Papinya naik mobil sedangkan dirinya naik motor, hingga ia sampai lebih dulu.
"Kirain bakal telat Ka," sambut Salsa di teras depan rumahnya.
Azka tersenyum melihat senyuman kekasihnya, juga gadis itu hari ini sangat cantik memakai dress putih tulang sebatas lutut, sangat kontras dengan kulit putihnya.
"Mama ada?" tanya Azka.
Baru saja akan menjawab, mobil yang di tumpangi orang tuanya mulai memasuki pekarangan rumah Salsa di ikuti dua mobil lainnya.
Melihat Ans turun dari mobil, sontak Salsa menundukkan pandangannya, ia takut, bayangan Ans saat menatapnya saat itu sangatlah menyeramkan.
Kepalan tangan Salsa mulai mengeluarkan keringat dingin, lidahnya terasa kelu hanya untuk menyambut kedatangan orang tua Azka.
"Masuk aja Mi, Pi!" perintah Azka mewakili Salsa yang masih menunduk.
Tari menatap tajam putranya, bisa-bisanya laki-laki itu berkata demikian padahal bukan pemilik rumah.
__ADS_1
"Sayang, apa Mama kamu ada di rumah?" tanya Tari lembut pada Salsa.
"A ... ada tante, silahkan masuk," gugup Salsa masih menunduk.
Baru saja akan membuka pintu, pintu di buka lebih dulu oleh Reni. Wanita itu menyusul kedepan saat mendengar suara motor juga beberapa mobil. Ia tersenyum melihat Tari di ambang pintu.
"Bu Tari, silahkan masuk," ucap Reni.
Reni mempersilahkan masuk tamunya, walau sedikit heran melihat kedatangan orang tua Azka bersama beberapa pelayan membawa buah tangan masing-masing. Jika di hitung mungkin ada sepuluh pelayan.
"Ada tamu kenapa nggak di suruh masuk sayang?" ucap Reni pada putrinya.
"Udah di suruh masuk sama Salsa tante, tapi Tante keburu datang," jawab Azka.
"Gitu, yaudah ayo masuk sayang!" ajak Reni menyusul tamunya.
Azka menarik tangan Salsa yang hendak menyusul Reni. Ia menarik dagu kekasihnya dengan jari telunjuk.
"Jangan nunduk, nanti mahkota kamu jatuh sayang," lembut Azka di sertai senyuman.
Salsa mengejapkan matanya, menatap manik teduh Azka. "Jangan menundukkan pandangan apa lagi merasa takut pada seseorang terlebih sama Papi kalau kamu nggak buat salah."
"Jangan sekali-kali tundukkan kepalamu sepertj itu lagi di depan orangtuaku Sal, aku nggak suka." Azka meraih tangan Salsa kemudian mengenggamnyam. "Jangan takut, Papi nggak bakal ngapa-ngapain kamu selama ada aku," ucap Azka menenangkan.
Walau dalam hatinya ia merasa sedih, karena Kekasihnya takut pada Papinya sendiri.
__ADS_1
...****************...