Cinta Dan Masa Lalu

Cinta Dan Masa Lalu
Part 114


__ADS_3

Sinar matahari masuk menyinari ruang rawat Salsa, membuat gadis itu terbangun karena silau di matanya. Ia melirik jam dinding, hampir jam delapan tetapi Azka masih tidur di samping brangkar


Dengan susah paya ia bangun, lalu bersandar di atas brangkar dengam bantal sebagai penyanggah. Sama seperti semalam, Salsa mengelus lembut rambut Azka yang semakin hari semakin panjang.


"Azka udah pagi, lo nggak ke sekolah?" tanya Salsa.


Merasakan sentuhan di kepalanya, Azka mengeliat, perlahan-lahan membuka mata dan hal pertama yang ia lihat adalah senyuman penenang dari orang yang ia cintai.


"Pagi," sapa Azka dengan muka bantal.


"Buruan mandi Azka, ntar lo telat kesekolah!" perintah Salsa.


Azka menghembuskan nafas panjang, berjalan ke sofa untuk mengambil paper bag yang dibawa Rayhan semalam, kemudian masuk ke kamar mandi.


Apa paginya akan semenyengakan hari ini jika menikah dengan Salsa? Untuk membayangkannya saja, Azka sudah salah tingkah.


Mendengar pintu kamar mandi berdecit, Salsa menolah dan mendapati Azka siap dengan seragam sekolahnya. Ia menelan salivanya kasar melihat ketampanan Azka. Demage laki-laki itu bertambah berkali-kali lipat padahal hanya mengosok rambut yang basah dengan haduh kecil.


"Ngapain geliatin sampai segitunya?" tanya Azka.


"Siapa yang ngeliatin, geer banget," jawab Salsa.

__ADS_1


Azka mengedikkan bahu acuh, menyambar tasnya di sofa lalu menghampiri Salsa sembari memasang jam tanganya.


"Lo mau ngapaiin?" Salsa mendorong dada Azka.


"Ada debu di rambut lo," alibi Azka, kembali menegakkan tubuhnya.


Sialan, hampir aja gue kecolongan.


Azka mengumpat dirinya sendiri, hampir saja ia ketahuan sering mencium kening gadis itu saat berangkat sekolah. Lebih tepatnya mencuri ciuman saat gadis itu koma.


"Debu?" beo Salsa mengelus rambutnya sendiri.


"Maaf," sasal Salsa mengambil kalung pemberian Azka.


"Hm."


Salsa memandangi kepergian Azka dengan bibir mengerucut. Azka seperti mempunyai kepribadian ganda. Kadang cuek dan dingin, kadang cerewet, kadang juga manja. Sepertinya ia sebagai pacar harus peka.


***


Dengan kecepatan di atas rata-rata Azka melajukan motornya di jalan raya agar tidak telat sampai disekolah. Namun, berusaha sekeras apapun ia tetap telat karena berangkat jam delapan pagi, pagar setinggi dua meter itu sudah tertutup rapat.

__ADS_1


"Kamu lagi kamu lagi!" Azka menoleh dan mendapati guru dengan kepala buncit menghampirinya. Dia adalah guru Bk baru penganti pak agus, namanya pak Bambang.


"Dari rumah sakit pak, tau sendiri pacar saya sakit," jawab Azka tanpa ditanya.


"Ini ke tiga kalinya kamu telat selama seminggu, ikut saya keruang beka!" tegas pak Bambang.


"Nggak perlu repot-repot pak, saya langsung kelapangan aja. Hormat sampai jam istirahat, Kan?"


"Pintar kamu!" puji pak Bambang mengelus kumis tebalnya. Pak Bambang jauh lebih lunak dari pak Agus sialan itu.


Resiko telat salah satunya mendorong motor sampai parkiran, dan itu semua dilakukan oleh Azka. Berani berbuat berani bertanggung jawab itulah motto Azka. Ia tahu dirinya salah, dan dengan senang hati ia menerima hukuman sesuai peraturan sekolah.


Berdiri ditengah lapangan sembari menghormati bendera, membuatnya menjadi pusat perhatian bagi kaum hawa, juga anggota Avegas di depan kelas masing-masing. Banyak siswa yang menghampiri Azka untuk memberi air minum. Namun, bukan Azka namanya jika menerima pemberian orang lain begitu saja.


"Kak minum dulu!" ucap adik kelas memberikan sebol air minum.


"Gue bisa beli sendiri, lo kira gue miskin?"


...****************...


Jangan lupa meninggalkan jejak, dan terimakasih untuk dukungan kalian😘

__ADS_1


__ADS_2