
Cahaya terdiam mendengar permintaan suaminya, sungguh ia bingung mau jawab apa. Jika menyetujui dia pasti ngga bisa tidur nyenyak bersama suaminya dalam suatu tempat tidur, karena satu-satunya yang pernah mejadi teman tidurnya adalah sang mama sewaktu sakit. Belum lagi kalau Chandra udah mau minta hak nya sebagai suami Menolak juga ia takut jadi dosa karena menolak permintaan suaminya.
Akhirnya setelah berpikir beberapa saat, ia pun menoleh ke arah chandra.
" Kita boleh tidur bareng tapi dengan satu syarat, abang ngga boleh melewati batas bantal guling yang akan di letakkan di ntara kita, karena sejujur nya Aya belum siap untuk jadi istri Abang seutuhnya" Ujar Cahaya
meski sedikit kaget dengan permintaan istrinya, akhirnya chandra pun menyetujuinya.
"Baiklah kalau itu mau kamu, ngga masalah...kita pelan-pelan saja memulainya" Jawab Chandra tersenyum sambil mengelus sayang rambut indah istrinya.
"Trima kasih bang " Jawab Cahaya merasa lega karena suamianya mengerti dan mengabulkan permintaannya.
Perlahan Cahaya beranjak merapikan tempat tidur, menyusun bantal lalu ia mulai berbaring dan tidak lupa ia meletakkan sebuah bantal guling di antara mereka.
Setengah jam berlalu, Dari tadi Cahaya gelisah bolak-balik ngga bisa tidur. Sampai-sampai Chandra pun di buat terganggu oleh nya.
"Ada apa sih Ya'? Ngga bisa tidur yah" tanya Chandra
Ditanya seperti itu Cahaya pun kaget, rupanya ia tidak menyadari kalau pergerakan tubuhnya membuat Chandra terganggu.
"Ma,,,Maaf Bang" ia menjadi tidak enak hati
Tiba-tiba saja Chandra memindahkan bantal guling yang tadinya ada di antara mereka, ia letakkan di lantai dan menarik Cahaya ke dalam pelukannya.
Cahaya kaget setengah mati karena suaminya tiba-tiba menariknya dan memeluknya dengan erat.
Cahaya mencoba melepaskan tapi tidak bisa karena Chandra memeluknya dengan sangat erat.
"Ssstttt...tidur Ya' udah malam, abang ngantuk " Chandra berbicara dengan mata terpejam dan pelukan yang semakin erat.
Akhirnya Cahaya berusaha menetralkan perasaannya dan menarik nafas panjang. Ia berusaha menuruti keinginan suaminya lagipula bukankah ini bisa menjadi awal dari kedekatan mereka. Bagaimanapun mereka sudah menikah, kalau jaga jarak terus hubungan ini ngga akan ada perkembangan.
__ADS_1
Akhirnya Cahaya memejamkan mata dan entah kenapa dengan di peluk Chandra hatinya serasa damai. Duka cita yang di rasakan akhir-akhir ini seperti meluap begitu saja, Cahaya lalu membalas pelukan suaminya dan kepalanya di sandarkan ke dada suaminya.
Merasakan Cahaya yang ikut memeluknya, Chandra lalu membuka matanya dan tersenyum bahagia, ia mencium.puncak kepala istrinya.
Merasakan ada yang mencium pucuk kepalanya, perlahan Cahaya membuka matanya dan mendongak melihat suaminya. Jarak mereke begitu dekat....sangat dekat !!!
Chandra yang sebenarnya sudah berhari-hari menahan diri untuk tidak menyentuh istrinya itu tiba-tiba membalikkan tubuhnya menindih Cahaya.
Sekarang Cahaya berada dalam kungkungannya. Seketika Ia mendekatkan bibirnya menyentuh bibir merah istrinya, perlahan menyesapnya, bergantian bibir atas, lalu bawah...merasakan Cahaya diam saja tanpa pergerakan akhirya menggigit kecil bibir istrinya agar terbuka dan ia berhasil. Bibir mungil itu pun terbuka... Chandra melanjutkan aksinya, hasrat kelakiannya sudah tak terbendung, ciuman itu semakin ganas saja. Sedangkan Cahaya ia hanya memegang erat baju kaos yang di gunakan suaminya tanpa melakukan apapun. Ini adalah ciuman pertama baginya, jangkan ciuman pacaran saja Cahaya tidak pernah.
Lalu Chandra, sejak kelas 1 SMu ia sudah mengenal yang namanya ciuman dengan mantan pacarnya yang akhirnya mereka putus karena sang mantan di bawa pergi oleh kedua orang tuanya keluar negri akibat ketahuan hamil oleh sepupunya sendiri.
Tanpa sadar tangan Chandra sudah berada di paha mulus istrinya, tangan liarnya sudah mulai meraba sementara itu ia mulai mencipatakan beberapa tanda ungu kemerahan di leher istrinya.
Cahaya semakin tegang, menahan nafas dan menggigit bibir bawahnya, ia merasakan desiran aneh atas sentuhan Chandra.
Tiba-tiba Cahaya menahan laju tangan suaminya yang mulai meraba kemana-mana.
Tapi Chandra tidak peduli, hasratnya semakin memuncak, nafas yang memburu dan baju daster yang di gunakan oleh istrinya telah tersingkap ke atas hingga memperlihatkan segitiga pengaman dan bra renda putih yang di pakai Cahaya. Jangan lupakan kulit putih mulusnya yang semakin membuat nafsunya memuncak.
Dengan nafas yang masih memburu dan hasrat yang semakin naik. Chandra tiba-tiba menghentikan pergerakannya karena terdengar isak tangis Cahaya.
Ia menatap Cahaya yang terisak
"Maafin Abang Ya'.. Abang Khilaf "
Akhirnya Chandra turun dari atas istrinya dan berbaring di sampaing Cahaya, lalu di tarik nya Cahaya kedalam pelukannya
"Maafin Abang Ya'..." dengan sangat menyesal Chandra terus meminta maaf, ia telah melanggar janjinya untuk tidak melewati batas, tapi bagaimanapun ia tetap lelaki normal, melihat pemandangan indah di sampingnya ia melupakan semua.
Dalam pelukan suaminya, Cahaya sesenggukan.
__ADS_1
"A..Aya' yang harusnya minta maaf bang, karena belum bisa menjadi istri sesungguhnya. Tolong beri Cahaya waktu bang.." Cahaya berbicara sambil terus terisak dalam dekapan sang suami.
"Ngga papa Ya'.. Abang ngga akan memaksa kalau kamu belum siap,
Sekarang kita tidur lagi yah. Besok katanya mau ke makam mama " Ujar Chandra menenangkan istrinya.
Meskipun dengan hati yang berat, kali ini Chandra harus mengalah terhadap istrinya
Hanya persoalan waktu..
Yah persoalan waktu, maka ia akan memiliki Cahaya seutuhnya.
Setelah Cahaya terlelap dan ia pun sudah sedikit tenang, perlahan Chandra melepaskan dekapannya dan bangun kemudian menuju kamar mandi untuk mencuci muka menyegarkan sedikit pikirannya. Hasrat yang tadinya hampir tersalurkan akhirnya harus berakhir tragis karena isak tangis sang istri.
Keesokan harinya, mereka berdua pergi ke makam kedua orang tua Cahaya.
"Bapak, mamah.. Liat deh Cahaya bawa apaan. Cahaya bawaain piala kemenangan Cahaya sesuai dengan harapan Bapak sama Mamah , Aya jadi juara umum di sekolah dan Bang Chandra juara dua nya. Kami berdua hebat khan ?" Cahaya begitu bangga atas penghargaan yang di terimanya sampai-sampai ia membawa piala yang di dapatkanya dari sekolah untuk di perlihatkan kepada kedua orang tuanya.
Chandra yang berada di samping Cahaya pun tersenyum sambil mengelus rambut panjang istrinya dengan penuh kasih sayang.
"Anak mama bener, kami berdua memang hebat dan berjanji akan memberikan kalian berdua cucu-cucu yang hebat pula" Ujar Chandra
Mendengar itu Cahaya tertunduk malu dan seketika mengingat kejadian semalam yang pasti sangat membuat suaminya kecewa.
Dalam hati ia berjanji, kelak jika suaminya kembali menginginkannya ia tidak akan menolak.
Kemudian mereka beranjak dari makam tersebut, rencanya sepulangnya dari makam kedua orang tuanya mereka akan kerumah orang tua Chandra untuk mengembaljkan mobil yang semalam ia pinjam ke acara perpisahan sekolah.
"Kalian berdua makan aja dulu baru pulang, Bunda baru selesai masak " Ujar Bunda
lalu mereka berdua pun makan siang, setelah selesai membersihkan bekas makan dan mengobrol sebentar, akhirnya kedua pasangan muda-mudi itupun beranjak pulang.
__ADS_1