CINTA INI SELALU ADA DAN TERUS TUMBUH

CINTA INI SELALU ADA DAN TERUS TUMBUH
BAB 57 : MENGSEDIH 1,,,,!!!


__ADS_3

Dengan langkah lunglai Chandra meninggalkan rumah kedua orang tuanya. Ia mengarahkan motornya ke rumah orang tua Cahaya yang kini di tempati oleh anak dan istrinya itu.


Setelah memarkir motor yang ia beli sebagai transportasinya kemana-mana saat ini karena ia tak mungkin menggunakan mobil perusahaan lagi serta mobil pemberian kedua orang tuanya pun ia simpan di rumah itu sejak mendapatkan mobil perusahaan.


Perlahan ia berjalan menuju pintu rumah dan berniat untuk mengetuknya. Namun ia mendengar obrolan kedua anaknya yang sepertinya sedang berada di ruang tamu.


"Mas Raka, Aku kasian sama mama deh, sepertinya tadi abis nangis sejak menerima amplop yang nimpukin kepala Ayu " ucap Ayudia pada kakaknya


"Mama itu nangis bukan cuma hari ini, mas sering mergokin mama nangis sendirian di kamar waktu kita tidur bahkan sambil memeluk kamu atau aku" jawab Raka


"Ayah kenapa ya Mas ? kok tega bikin mama nangis..hik..hik.." ucap Ayudia tiba-tiba menangis di pelukan kakaknya.


"sssttt....udah, kita ngga ngerti urusan orang dewasa, tapi kita harus hibur mama demi adek bayi dalam perut mama" ucap Raka menenangkan adiknya.


Sementara itu di luar pintu, Chandra yang mendengar obrolan kedua anaknya tak kuasa menahan air matanya, sungguh hatinya tercubit setelah mendengar penuturan anaknya tentang istrinya yang telah di buatnya terluka dan menangis.


Dengan langkah lunglai ia meninggalkan rumah itu dan mengarahkan motornya ke kost tempat ia bernaung selama ini, mungkin dia pengecut sekarang karena tak berani menemui anaknya tadi. Tapi keberanian itu hilang seketika, ia tak sanggup melihat raut kekecewaan kedua anaknya, makanya ia memutuskan untuk pulang saja menenangkan dirinya dan berpikir langkah apa yang akan ia ambil untuk mengatasi Siska yang sudah sangat kelewatan !!


Ke esokan harinya setelah mengantar ke dua anaknya kesekolah dengan menggunakan taxi online Cahaya menuju ke pemakaman kedua orang tuanya.


Ia memeluk nisan kedua orang tuanya satu persatu sambil menangis sesenggukan.

__ADS_1


Kini ia terduduk di antara kedua makam itu sambil terisak ia menceritakan semua apa yang ia alami.


"Mah,,,Bang Chandra beneran mendua,,,hik,,,bahkan Aya menerima foto mesra mereka berdua dan yang lebih nyakitin ternyata Siska hamil anak bang Chandra,,hik,,,hik,,,"


"Pak,Mah...Apa Aya bisa kuat ? Rasanya ujian ini begitu berat sama persis ketika kalian ninggalin aku dulu,,,hik"


"Rasanya Aya ingin ikut kalian kalau tidak ingat anak-anak, oh iyya sekarang Aya hamil, semoga aku kuat menghadapi ini sendirian tanpa kalian, Aya rindu,,,hik,,,hik,,," ucapnya panjang lebar sambil menangis.


setelah puas, ia lalu beranjak meninggalkan makam keduanya, namun begitu itu berbalik ia kaget karena di belakangnya telah ada Chandra yang juga akan ke makam mertuanya.


Wajah lelaki itu juga sembab karena sejak semalam ia tak bisa tidur dan juga menangisi nasib rumah tangganya yang sudah di ambang kehancuran.


"Abang,,," tegur Cahaya


"Ya'maafin Abang, kasi tau bagaimana caranya supaya Abang bisa mendapatkan maaf kamu dan anak-anak. Abang mencintai kalian, jiwa dan raga Abang adalah milik kalian. Abang mohon kita jangan berpisah, Abang janji akan menyelesaikan semuanya, tapi tolong maafin kekhilafan Abang sayang..please" Chandra memeluk erat lutut Cahaya lalu menangis memohon maaf.


"Lepasin Bang, ngga perlu meminta maaf. Semua sudah terjadi, sakit yang Abang beri sungguh dalam. Aya mencintai Abang, makanya hati ini sakit, dan karena cinta ini juga yang membuat Aya benci sebenci-bencinya sama Abang. Lalu bagaimana bisa Aya maafin Abang ? Bagaimana Bang ? Aya bingung...hik.." ucap Cahaya sambil menangis.


"Aya tidak bisa membohongi kata hati Aya kalau Abang tidak mendapatkan maafku tunggu saja hingga sakit hati ini sembuh bang"


"Selesaikan masalah Abang sama Siska, karena urusan kita sebentar lagi selesai" ucap Cahaya dan berlalu meninggalkan Chandra yang masih berlutut disana.

__ADS_1


"Ya Allah...aku harus bagaimana?" bathinnya


Ia lalu bangkit dan kemudian menghampiri makam kedua orang tuanya.


"Maafin Chandra Mah, Pak..maafin..hik..hik...Chandra gagal menjadi suami, Chandra khilaf,,,hik,,,hik " lelaki itu tak henti menangis, hingga ia meninggalkan tempat itu juga.


Tak lama Cahaya mendapatkan notifikasi dari seseorang.


"Hi, aku Siska boleh ketemu di kafe dekat sekolah anakmu ? Aku tunggu sekarang yah" seperti itu pesan yang ia terima.


Sebenarnya Cahaya malas bertemu dengan wanita itu, namun ia ingin tau Siska mau apa sebenarnya. Biarlah ia menemuinya karena ia sudah terlanjur menanggung sakit yang dalam.


Ketika di kafe, kedua wanita cantik ini duduk berhadapan.


"Kamu mau minum apa, biar aku pesankan" tawar Siska


"Ngga perlu to the point aja, kamu mau apa manggil aku kesini ?" tanya Cahaya tak sabar.


" Oke, seperti yang sedang kamu tau bahwa anak yang ada dalam kandungan aku adalah anak Chandra, dan semua sudah di buktikan dengan foto-foto yang aku kirim ke kamu, sedekat itulah kami selama ini" ucap Siska tanpa dosa.


"Hanya itu yang ingin kamu sampaikan Siska ? buang waktuku saja. Jika kamu sudah hamil dan sudah mengirimkan foto itu lalu untuk apa kamu panggil aku dan menjelaskan semuanya lagi, kamu kerja dua kali tau ngga ?" jawab Cahaya kemudian.

__ADS_1


Sekuat tenaga ia menahan bulir air mata agar tak jatuh karena sedang berhadapan dengan Siska.


__ADS_2