CINTA INI SELALU ADA DAN TERUS TUMBUH

CINTA INI SELALU ADA DAN TERUS TUMBUH
BAB 32 SHINTA HAMIL


__ADS_3

Pagi itu di dalam sebuah rumah sederhana namun tetap asri. Karena ibu Maya adalah ibu Shinta yang sangat menyukai bunga. Berbagai macam tanaman terdapat di halaman rumah tersebut.


...hoek...hoek...!!


Suara seseorang sedang menahan gejolak dalam perutnya.


Wajah gadis itu tampak pucat, tubuhnya serasa lemas sekali, sudah dua hari ia tidak ke kampus karena kondisinya yang kurang fit.


"Jangan-jangan aku hamil, tapi kan waktu itu aku minum obat pencegah kehamilan" Bathin Shinta


Ia sudah mulai ketakutan sekarang, jangan sampai ia hamil anak Roni karena terakhir kali ia berhubungan dengan cowok itu.


Kendati ia telah meminum obat pencegah kehamilan akan tetapi jangan lupakan kehendak yang di atas. Sekuat apapun ia mencoba untuk menahan kehamilannya tetap saja janin akan tumbuh di rahim nya.


Tok


Tok


Tok


"Shinta, kamu kenapa sayang ?? Kamu ngga papa kan ? Buka pintunya nak"


Ibu Maya terus menggedor-gedor pintu kamar mandi setelah mendengar suara anaknya muntah-muntah.


Shinta semakin ketakutan, perasaannya campur aduk, bagaimana menjelaskan sama ibunya jika sampai ia hamil tanpa suami.


Setelah mencuci muka dan merapikan rambutnya yang berantakan.


Ceklek... Terdengar suara handle pintu di putar dan kemudian muncullah Shinta dengan senyum di paksakan.

__ADS_1


Namun seorang ibu tetaplah seorang ibu yang tentu peka akan apa yang terjadi pada darah dagingnya sendiri


"Kamu kenapa Shin wajah kamu pucat ?" selidik sang ibu sudah mulai curiga


"Eng...enggak kok bu, Shinta kayaknya masuk angin dehl" ucap Shinta mengelak


"Kamu ganti baju, kita ke Dokter sekarang !!" perintah sang ibu tidak mau di bantah


"Ta..tapi bu " Shinta semakin ketakutan


"Sekarang Shinta!!!" ibu semakin memaksa


sesungguhnya Ibu dan Anak ini meraskan perasaan yang sama...TAKUT !!!


Malam hari di rumah Shinta ...


PLAK !!!


Ayah Shinta terduduk lesu sembari menangis bak anak kecil. Hatinya begitu hancur mendapatkan kenyataan anak satu-satunya yang ia besarkan dengan penuh kasih sayang dan cinta kasih kini sedang mengandung janin dari seorang lelaki sebelum menikah.


Air mata sang ibu sudah kering karena sejak masih di dalam ruangan dokter air matanya sudah luluh.


Kecewa...itu yang kedua orang tua ini rasakan sekarang.


"Yah,,,,tenangkan dirimu, kita cari jalan keluarnya sama-sama " ucap Ibu menenangkan suaminya.


Shinta yang sedari tadi menangis dan terus menunduk hanya mampu terdiam dengan perasaan bercampur aduk.


Ia pun sangat hancur atas keadaan ini, mengapa kali ini obat pencegah kehamilannya tak berfungsi dengan baik.

__ADS_1


Ia sedih karena sudah mengahcurkan harapan kedua orang tuanya. Tapi apa daya nasi sudah jadi bubur.


"Shinta..kamu tau rumah laki-laki itu ? Ia harus bertanggung jawab. Kalian berdua harus segera menikah sebelum kandungan kamu bertambah besar" ucap Ibu masih dengan kelembutan tanpa meninggalkan sisi tegasnya.


Shinta menggeleng, karena ia memang tidak mengetahui rumah Roni.


"Apa ia teman kampus kamu ?" tanya Ibu


"Ia bu..namanya Roni, tapi ia anak orang kaya bu, Shinta takut ia tidak mau bertanggung jawab" ucap Shinta mulai ragu ada Roni.


Mana mau ia menikah dengan Shinta, ayahnya hanya seorang pegawai pabrik yang kebetulan di mutasi dari Kalimantan ke Jakarta.


" Setidaknya kita sudah berusaha. Urusan di terima atau tidak biarkan saja kita serahkan sama yang di atas. Tapi walau bagaimanapun mereka harus tahu akan memiliki keturunan dari kita" ucap Ibu lembut


Ayah dari tadi hanya terdiam, karena masih shock dengan keadaan yang di alami oleh putrinya.


Masih dalam keadaan terdiam, ia beranjak ke kamar meninggalkan anak dan istrinya, ia benar-benar kalut sekarang. apalagi Shinta ia semakin merasa bersalah kepada kedua orang tuanya.


"Istirahatlah, jangan lupa minum vitaminnya" ucap Ibu sambil mengelus rambu putrinya.


Pintu kamar di tutup Shinta duduk di lantai sambil bersandar di pintu. Ia memeluk kedua lututnya, ia menangis sesenggukan.


"Ini adalah karma dari dosa-dosa ku di masa lalu, aku yang ingin menghancurkan Cahaya malah sekarang aku yang hancur. Maafkan aku Ayah,,,ibu,,,hik,,,hik" Shinta terus menangis, air matanya kini telah beranak sungai.


Ayah Hasan yang masih sedih akan musibah yang di alaminya sekarang sedang di tenangkan oleh istrinya.


" Bu, Ayah benar-benar bingung sekarang harus bagaimana? Kita sudah gagal mendidik Shinta. Susah payah Ayah menjaga putri kita agar tidak terjebak dalam pergaulan bebas namun sekarang apa yang terjadi. Ayah benar-benar malu bu. Sangat malu "


" Yah...ini adalah cobaan dari yang di atas untuk keluarga kita. Meratap bukanlah jalan keluar yang terbaik. Bagaimanapun anak yang di kandung Shinta adalah cucu kita" ucap Ibu menenagkan

__ADS_1


"Besok ibu akan ikut Shinta ke kampus dan bertemu lelaki itu, Ayah ke kantor saja biar ibu yang urus semuanya" lanjut Ibu Maya


Ibu Maya memang sudah berusaha berdamai dengan keadaan, tapi Ayah Hasan masih sangat terpukul sekali saat ini. Namun yang di katakan istrinya benar, tidak seharusnya ia meratap seperti ini.


__ADS_2