
Siang itu saat Cahaya masih bekerja di warteg ibu Sari. Ibu Khadijah memaksakan diri untuk ke rumah H. Abdullah dan Ibu Aminah orang tua Chandra.
Entah apa yang ibu Khadijah rasakan akhir-akhir ini sepertinya hidupnya tak akan lama lagi
Olehnya itu tanpa sepengetahuan Cahaya, ibu Khadijah kerumah orang tua Chandra dan menyampaikan hal yang ingin di utarakan selama ini mengingat hanya keluarga itulah teman mereka.
“,,,Saya minta maaf, jika kali ini saya menganggu istirahat kalian tapi saya harus menyampaikan ini” Ibu Khadijah memulai pembicaraan oleh kedua sahabatnya.
“ Saya rasa hidup saya sudah tidak lama lagi, penyakit saya semakin dalam menggerogoti tubuh ini , saya mohon jika saya sudah tiada, tolong angkatlah Cahaya sebagai anak kalian, dia hanya punya saya dan kalian…hik…” Ibu Khadijah berbicara sambil meneteskan air mata membayangkan hari-hari yang akan di lewati anak semata wayangnya tanpanya
“ Jangan berbicara begitu Dijah, kita tidak boleh mendahului
takdir Tuhan, kita ngga pernah tau siapa yang akan duluan menghadapnya, kamu
ngga boleh putus asa begitu, ada kami di dekat kalian dan akan selalu membantu, kamu harus tetap kuat demi anakmu. Setidaknya hingga dia memiliki pendamping hidup agar ada yang melindunginya dan tempatnya bersandar”
__ADS_1
“ Rasanya aku semakin tidak sanggup saja. tubuhku semakin lemah.rasa sakit yang kurasakan selalu ku sembunyikan pada cahaya , aku tidak mau jika dia bersedih karena keadaanku. Kasihan dia,,,masih kecil tapi hidupnya sudah begitu berat “
Mereka bertiga akhirnya menangis di ruangan itu mengingat perjuangan Khadijah yang begitu berat sepeninggal suaminya dan keadaan Cahaya yang tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini selain dirinya
Di dalam sebuah kamar, tanpa sengaja Chandra yang mendengar ibu Khadijah bercerita juga turut meneteskan air mata
Cahaya adalah gadis yang sangat baik dan lembut, perangainya begitu baik bukan hanya wajahnya saja yang cantik tapi sungguh semua yang ada pada diri gadis itu membuatnya kagum.
'Kasihan kamu Ya’…” Chandra menangis mengingat nasib Cahaya sahabatnya
Bagaimanapun dia seorang laki-laki rasanya jika seorang lelaki sudah meneteskan air mata berarti itu adalah hal yang sangat menyedihkan.
"Kamu tidak usah khawatir Khadijah, Cahaya sudah ku anggap sebagai anakku jika terjadi sesuatu padamu akan aku jaga dan pelihara dia sebagaimana kamu menjaganya selama ini, kasih sayangku terhadapnya tidak akan kubedakan dengan Chandra anakku percayalah kami adalah saudaramu sedih mu adalah kesedihan kami, kebahagiaanmu adalah bahagia kami juga.Bukankah kita sudah bersahabat sejak masih sekolah dulu kamu dan suamimu , aku dan istriku kita adalah sahabat bahkan layaknya saudara, sudah sepatutnya kita saling melindugi dan saling membantu " ujar H, Abdullah panjang lebar
" Apa yang di katakan Bang Dullah betul Dijah, kami adalaha keluargamu kamu bisa percayakan Cahaya kepada kami, tapi aku percaya Cahaya adalah gadis yang kuat dia tidak akan selemah yang kamu pikirkan " sambung Ibu Aminah
__ADS_1
"Aku lega sekarang, setidaknya jika memang waktuku sudah tiba anakku Cahaya tidak akan sendiri, terima kasih untuk keluarga kalian yang begitu baik, semoga Allah SWT melimpahkan rahmatnya kepada kalian, " ucap ibu Khadijah dengan mata berkaca-kaca
"Percayalah dan yakinkan dirimu bahwa kamu akan sembuh, kamu harus tetap kuat demi anakmu " ujar H. Abdullah
"Terima kasih, kalau begitu saya pulang dulu, terima kasih atas waktunya mohon maaf jika saya menganggu kalian " pamit Khadijah
sesampainya di rumah, Ibu Khadijah masuk kamar dan membuka lemarin pakaiannya, di ambilnya sebuah kotak kemudian di bukanya, didalamnya berisi kebaya pengantin warna putih juga sarung batik. Kebaya tersebut adalah baju pengantinya dulu bersama Alm, Sulaiman. ada juga foto pengantin mereka berdua.
" Pak, sebentar lagi kita akan berkumpul, Aku kangen kamu pak rasanya sudah lama sekali tidak berbincang denganmu sejak kamu meninggalkan aku dan Cahaya disini" Ibu Khadijah berbicara sendiri sambil memandang foto pernikahannya yang telah usang di makan usia namun masih jelas wajah nya dan suaminya ketika menikah dulu mereka adalah sepasang pengantin yang cantik dan tampan
" Rasanya sebelum aku pergi, aku ingin melihat Cahaya menikah dengan menggunakan baju pengantin ini, tapi Allah mengijinkan ya pak ? mama bingung " sekali lagi ibu Khadijah berucap sambil meneteskan air mata
melihat anaknya menikah dan memiliki anak adalah impian terbesarnya, meskipun ia tidak tau apakah itu akan terwujud atau tidak mengingat penyakitnya yang semakin hari semakin parah.
" Ya Allah, mohon wujudkan keiginanku..hik " Ibu Khadijah memeluk kebaya pengantin itu sambil menangis sesenggukan.
__ADS_1
setelahnya dia menghapus air mata lalu menuju dapur untuk merendam baju kebaya tersebut, ia akan mencucinya dan menunjukkannya kepada Cahaya.
jika ia tidak dapat menyaksikan sendiri Cahaya menikah, setidaknya ia sudah berwasiat untuk menggunakan kebaya itu dihari pernikahannya kelak.