
Sepulang dari kafe, Cahaya ngga langsung pulang ke rumahnya, ia langsung ke rumah mertuanya, hanya ada satu hal yang ingin dia lakukan sekarang memeluk anak-anaknya.
Apa yang di katakan Rani tadi menambah daftar sakit yang di torehkan oleh suaminya.
Chandra satu-satunya orang yang di anggap bisa menjadi pelindungnya, mengasihi nya dengan sepenuh hati sepeninggal Mamanya.
Nyatanya sekarang adalah orang yang paling menyakitinya.
Di perjalanan menuju rumah mertuanya, air matanya tak berhenti menetes. Membayangkan Siska dan suaminya bercumbu di apartement mereka. Bahkan ia nyaris di senggol oleh sebuah pengendara motor matic juga, dan akhirnya ia menerima umpatan "tolol" oleh si empunya motor.
Meski kaget, ia tak perduli, rasa sakit akibat perbuatan Chandra terhadapnya jauh lebih sakit.
Sesampai di rumah mertuanya, ia melihat kedua anaknya sedang bermain di teras, senyum indah mengembang di bibir mungil itu. Hatinya menghangat melihat kedua anaknya, permata hatinya.
Dal hati ia bertekad, jika memang rumah tangganya dan Chandra dalam masalah maka ia yang akan merawat dan membesarkan anaknya seorang diri.
"Assalamu alaikum,,,," ucapnya memberi salam
"Wa alaikum salam...mamaaaaa" jawab mereka berdua dan berlari ingin memeluk ibunya
Cahaya kemudian berjongkok untuk menyambut kedua putra-putrinya.
" Mah...Ayu kangen deh,,," ucap Ayudia kemudian
"ihh...baru juga setengah hari ngga ketemu mama, udah kangen ajjah.." ia terkekeh sambil mencubit pipi gembul Ayudia
"Mata mama kenapa ? Kok merah kayak abis nangis" kali ini Raka yang bertanya.
"eh..mama ngga papa sayang, mata mama kelilipan kemasukan debu waktu naik motor" ucapnya terpaksa berbohong.
Ibu Aminah yang mendengar bahwa menantunya datang akhirnya memutuskan untuk menemuinya, dan ia mendengar jawaban atas pertanyaan Raka barusan.
__ADS_1
"Cahaya,,,," sapa ibu Aminah
"Bunda,,," Cahaya lalu menghampiri mertuanya dan menciumnya dengan taksim
" Masuk dulu, kamu sudah makan nak ?" tanya Bunda basa basi karena ia tau anak menantunya sedang tidak baik-baik saja.
"Belum Bunda,,,"jawab Cahaya jujur
"Kalau gitu kamu makan dulu yah..nangis juga butuh tenaga" ucap Bunda tersenyum sambil mengelus lengan menantunya.
Mata Cahaya kembali berkaca-kaca melihat perlakuan mertuanya. Sungguh kedua orang tua Chandra begitu baik,,,betul-betul menggantikan peran kedua orang tuanya.
Kedua mertuanya menyayanginya bagaikan anak kandung sendiri.
Lalu bagaimana dengan anak mereka Chandra ?
Ia lalu menunduk menetralisir perasaannya lalu berbalik menuju meja makan dengan terburu-buru , ia tak ingin mertuanya melihat air matanya.
Ia pun lalu kembali ke warung menggantikan H. Abdullah untuk berjualan.
Setelah makan dan membereskan meja makan tak lupa ia mencuci piring bekas makan kemudian ke kamar Chandra, tampak kedua anaknya sedang terlelap disana.
"Sayang,,,,kalian harus jadi anak yang kuat yah,,,Mama sayaaang banget sama kalian. Kita akan selalu bersama apapun yang terjadi...hik..." kembali ia menangis di sisi tempat tidur anaknya dan itu semua tak lepas dari pandangan Ibu Khadijah yang kembaliak bertukar sift dengan suaminya.
"Ya'boleh Bunda bicara ??" tanya Bunda tiba-tiba dan mengagetkan Cahaya...
Buru-buru Cahaya menghapus air matanya lalu berbalik menatap ibu mertuanya dengan senyumnya yang begitu manis
" Tentu saja boleh Bunda " ucap Cahaya kemudian
Saat mereka berdua ada di ruang tamu, Bunda kemudian memulai pembicaraan.
__ADS_1
"Kalau kamu ada masalah jangan di simpan sendiri nak, bicarakan sama Ayah atau Bunda. Ingatlah kami ini bukan hanya mertua kamu tapi juga yang akan mengga tikan posisi kedua orang tuamu. Jadi ceritakan saja apa yang kamu rasakan, meskipun Chandra adalah anak kami, tapi posisi kalian berdua sama di hati kami " ucap ibu Aminah
" Cahaya hanya masih bisa menahan semua Bunda. Harapan Cahaya Ayah dan Bunda mendoakan agar keluarga kecil kami tetap di limpahkan rahmat oleh Allah SWT " ucap Cahaya yang masih menolak menceritakan semua kepada mertuanya.
Baginya, ini masih bisa ia hadapi. Karena belum ada bukti kuat yang menyatakan bahwa mereka berselingkuh, meski ke arah sana semakin mendekati.
"Amin Ya Allah.." ucap Bunda kemudian. Ia mencoba memahami keputusan menantunya untuk masih menutupi semuanya.
" Mungkin ia menunggu saat yang tepat untuk bercerita, sebaiknya aku diamkan dulu agar ia tenang " bathin Bunda
Sudah tiga hari Chandra tak ke kantor. Namun ia tetap seperti sehari-harinya. Yang seolah-olah sedang berangkat kerja. Namun ia memilih untuk pulang lebih awal, agar bisa kembali seperti Ayah yang dulu.
Hubungannya dengan Cahaya pun biasa-biasa saja. Cahaya hanya menegur suaminya jika perlu. Berbeda halnya dengan anak-anak karena sudah tiga hari ini mereka kembali bisa bermain bersama Ayahnya.
Hati Chandra menghangat melihat keceriaan anak-anak nya hampir setahun moment ini hilang.
Lain Chandra lain pula Siska ia uring-uringan karena sudah tiga hari tidak melihat Chandra. Laki-laki itu menghilang tanpa kabar.
Akhirnya ia mengirim pesan ancaman kepada lelaki itu.
"Sudah tiga hari kamu ngga ngantor,,,,besok kamu harus kembali berakrifitas seperti semula atau semua aku bongkar sama istri kamu" ancam Siska melalui pesan singkatnya
Chandra yang membaca nya seketiga menjadi tegang, ia tau Siska sedang tidak main- main akan ancamanya.
"aaerghkkkk...ssiallan !!!" umpatnya
"Besok aku tunggu kamu jemput aku seperti biasa, kita ada meeting penting" Siska mengirim lagi pesan singkat.
Chandra hanya membacanya tak berniat untuk membalas meski sekedar kata "OK"
"
__ADS_1