
Pagi hari Shinta terbangun dengan wajah sembab. Semalaman ia menangis karena di penuhi rasa bersalah terhadap.kedua orang tuanya.
Setelah membersihkan diri, akhirnya ia keluar kamar dan berniat ikut sarapan bersama Ayah dan Ibunya. Tapi sesampainya di meja makan, kedua orang tua yang merasa gagal itu tidak menegur Shinta sedikitpun, seolah-olah Shinta tidak ada di antara mereka.
Begitu sulit bagi Shinta menelan makanannya, tapi ia harus makan mengingat ada bayi yang butuh asupan makanan dalam tubuhnya.
"Bu, Ayah pergi dulu.. Assalamu alaikum " Ayah pamit pada istrinya begitu saja tanpa menoleh kepada putrinya. Padahal dalam keseharian mereka, Ayah adalah sosok yang sangat hangat dan sangat mencintai keluarganya. Ia selalu mencium pucuk kepala putrinya sebelum berangkat bekerja. Namun hari ini semua begitu berbeda..Shinta bagai orang asing di antara kedua oramg tuanya. Jangankan di sapa di lihat pun tidak dan itu juga terjadi pada sikap ibunya. Setelah suaminya pergi ia pun lalu beranjak meninggalkan meja makan dan menuju kamar lalu menguncinya dari dalam. Air mata Shinta luruh ia terisak, makanan yang ada di dalam mulutnya pun ia tumpahkan begitu saja karena rasa mual tiba-tiba begitu menderanya.
Hoek..!!
Hoek...!!
Ibu Maya menangis sedih mendengarkan putrinya sedang muntah-muntah, namun saat ini hatinya masih sulit untuk berdamai. Ia bisa memaafkan jika Shinta hamil di luar nikah jika hanya ada satu pria saja yang menidurinya. Namun kenyataan bahwa putrinya begitu gampangnya membiarkan diri di tiduri oleh pacar-pacar terdahulu membuat hatinya sakit. Namun Ibu berusaha menutupi kelakuan sang putri pada suaminya, karena jika tidak bisa-bisa Ayah mengalami serangan jantung.
Setelah drama morning sick nya selesai, Shinta lalu masuk kedalam kamar. Ia sudah merencanakan sesuatu yang hebat pada dirinya.
Yah...ia memutuskan untuk pergi meninggalkan orang tuanya. Ia tidak ingin orang tuanya merasa malu jika memiliki putri yang hamil tanpa suami. Karena lambat laun kandungannya akan membesar dan semakin tidak bisa di sembunyikan.
Ia memeriksa buku tabungan dan juga celengan kaleng yang sudah tersusun sekitar 5 kaleng. Selama ini ia rajin menabung sisa uang jajan kedua orang tuanya. Dan uang yang ada di rekeningnya adalah pemberian kekasihnya terdahulu.
__ADS_1
Isi celengan kalengnya mengahmpiri nilai 5 juta, dan isi tabungannya lumayan banyak karena ia memang hanya akan menjalin hubungan dengan pria kaya meskipun beristri. Uang pemberian mereka tidak ia gunakan hanya di simpan saja, dan jika untuk membeli baju ia akan meminta sang kekasih untuk membelikannya. Luar biasa emang matrenya.
"Ya Allah... Hamba sudah banyak dosa, ampuni yang telah membuat kedua orang tuaku malu dan hamba minta maaf jika harus menggunakan uang ini, jika ia haram maka halalkanlah Ya Allah.. " Shinta berdoa memohon ampun kepada sang pencipta
Ia bertekad akan hidup mandiri. Dengan beberapa uang yang di milikinya, ia yakin bisa memulai kehidupan yang baru bersama anak yang di kandungnya.
Setelah mandi, ia bersiap-siap untuk ke kampus dan menemui Cahaya. Namun sayang ternyata Cahaya ngga ada mata kuliah hari ini. Setelah mendapatkan alamat dari salah satu teman kelas Cahaya, dengan menggunakan transportasi online ia menuju kerumah Cahaya.
Dan betapa kagetnya ia ketika yang membuka pintu adalah Chandra.
Chandra baru saja selesai mandi setelah melakukan IYA..IYA.. Dengan istrinya, mendengar suara ketukan lalu bergegas membuka pintu. Dan betapa kagetnya ternyata tamu yang datang kali ini adalah orang yang paling tidak ingin ia temui.
"Siapa Bang??" tanya Cahaya yang tiba-tiba muncul dari dalam kamar hanya dengan menggunakan daster rumahan andalannya.
Belum hilang rasa kagetnya karena sepertinya Chandra dan Cahaya tinggal serumah, tiba-tiba ia di semprot oleh tuan rumah.
"panggil masuk dulu bang, barangkali ada hal penting yang ingin kak Shinta sampaikan. Masuk yuk kak..jangan berdiri di pintu saja ngga baik di liat tetangga" ucap Cahaya ramah.
Akhirnya Shinta masuk dan duduk di sofa yang masih tampak baru. Lalu pandanganya berhenti pada dua buah fhoto pernikahan. Satunya sudah tampak usang dan satunya lagi masih sangat baru. Namun tenggorokannya tiba-tiba tercekat begitu melihat bahwa dua orang itu adalah Chandra dan Cahaya.
__ADS_1
"jadi mereka berdua sudah menikah ?? Pantas saja tidak mudah memisahkan mereka berdua" bathin Shinta
"Ada apa kak Shinta kemari ? Apa ada perlu sama Bang Chandra ? Atau kalian mau ngobrol berdua, biar Aya pergi keluar sebentar kerumah Bunda" ucap Cahaya panjang lebar.
"oh..ngga kok Ya' aku kemari ingin mi-minta maaf pada kalian berdua, sekarang aku sudah menuai karma atas perbuatanku. Aku hamil anak Roni dan ia tidak mau bertanggung jawab. Ayah dan Ibu begitu membenciku karena perbuatanku di masa lalu termasuk niat jahatku terhadap kalian berdua, sekali lagi aku minta maaf...hik.." Shinta berbicara panjang lebar sambil menangis.
Cahaya dan Chandra sangat kaget akan penuturan Shinta, tidak menyangka bahwa kedua orang itu akhirnya harus menanggung rencana jahat mereka terhadap Cahaya.
" kak Shinta yang sabar yah, aku akan coba bicara sama kak Roni untuk bertanggung jawab,karena bagaimanapun anak ini anak kak Roni " ujar Cahaya
"Ngga perlu Ya' percuma, aku tau Roni tidak akan mau bertanggung jawab. Biarlah aku bawa beban ini sendirian. Semoga Allah SWT memberikan aku jalan keluar yang terbaik" ucap Shinta sambil terisak
tak lama kemudian, Shinta pamit pulang
Ke esokan harinya di rumah Shinta, kedua orang tuanya hanya bisa menyeseli sikapnya terhadap Shinta akhir-akhir ini. Ternyata mendiamkan putri mereka bukanlah solusi tapi malah membuat anak mereka semakin terpuruk lalu akhirnya pergi.
"Assalamu alaikum Ayah, Ibu...maafin Shinta sudah mempermalukan Ayah dan Ibu, Shinta pergi untuk kebaikan kita bersama. Shinta akan menyelesaikan masalah Shinta dengan cara Shinta sendiri. Aku mohon jangan putus mendoakan kebaikan untuk Shinta bu. Semoga di lain waktu kita bisa bertemu lagi..aku mencintai kalian "
Putrimu
__ADS_1
SHINTA RAHAYU
Supucuk surat Shinta tinggalkan untuk kedua orang tuanya sebelum pergi.