
*
Namaku Jeong Wibowo lelaki berdarah campuran ibu berasal dari Korea sedangkan ayah dari Jawa-Belanda.
Aku seorang asisten CEO yang jomblo berumur 30 tahun. Wajar sih jomblo dengan status seorang asisten terlalu banyak yang harus diurusi baik masalah di dalam ataupun di luar perusahaan. Terkadang juga urusan pribadi masuk juga dalam jatah pekerjaanku.
Reza nama bos ku, kalo di kantor dia atasan ku tapi kalau di luar jam kantor kami bersahabat. Reza Maulana Jaya itu nama lengkapnya kami pertama kali bertemu ketika kami kuliah di Amerika. Bertemu dengan orang yang satu negara di tanah rantau rasanya sangat senang sekali. Kami memutuskan untuk satu apartemen untuk meringankan biaya hidup. Setelah lulus kuliah kami pulang bersama dan memutuskan untuk membantu nya mengelola perusahaan milik keluarga Reza.
" Jung, nanti selesai meeting kita ketemuan dengan Shanum sebentar " kata Reza menjelaskan.
" Shanum? Siapa? " tanyaku heran.
" Cewek yang dijodohkan papa " jawabnya.
" Emang tuan setuju? " tanyaku lagi.
" Yaah, mau gimana lagi, daripada jadi gembel, kau tau kalau kali ini aku gak menuruti mereka, maka aku harus angkat kaki dari rumah dan perusahaan ini" jelas Reza penuh kepasrahan.
Dan disinilah kami sekarang, tuan Reza masuk ke dalam restoran mewah untuk menemui wanita yang akan jadi istrinya nanti. Sedangkan aku, aku memilih duduk diluar karena ki lihat tanpa sejuk dan asri serta lebih santai. Dan lagi aku masih bisa mengecek beberapa pekerjaan yang belum selesai.
Aku memilih cofee latte dan sebuah cake coklat bertabur coklat dan keju yang menemani.
Tanpa sadar ku edarkan pandangan ku, ada cewek di pojokan
" gilaa, bule Jepang " pikirku tapi enggak segitu juga kali disini negara tropis dia enggak gerah?
" Aneh, tapi lucu juga, kecil, imut, yah cantik juga sih " kata ku lirih tanpa sadar keluar dari mulut ku.
Aku kembali menatap handphone ku, ku lirik dia lagi, masih asik sekali membaca buku hingga minum dan makanannya belum tersenyum sama sekali.
**
Namaku Syakila, dokter bedah disalah satu rumah sakit terbesar di ibukota.
Aku cucu pungut dari seorang kakek. Katanya beliau menemukan aku di pinggir jalan sedang menangis.
Kehidupan kakek sangat sederhana sekali, jadi aku harus bekerja keras mengejar cita-citaku.
Hari-hari ku isi dengan belajar, membaca, dan terus membaca. Awalnya terpaksa namun lama kelamaan menjadi hobi.
__ADS_1
Yaah, terpaksa mau tidak mau aku harus mendapatkan beasiswa. Dan alhamdulillah dengan doa kakek dan kerja keras dari SD sampai S2 aku mendapatkan beasiswa.
Aku jadi cewek simpel simpel aja, rambut pendek biar gak terlalu banyak ngabisi shampo, tinggi badan kira-kira 155 cm. Kalau cewek-cewek normal yang lain lebih takut dengan timbangan kalau aku lebih segan melihat pengukur tinggi badan, rasanya, gimana gitu.
Aku sahabatnya Shanum, hari ini kita janji ketemu jam satu.
" Shanum, kalau tau nunggu lama begini aku kan bisa ganti baju dulu, tadi di telpon bilang nya cepet, cepet, sekarang udah sampai gak ada orang nya." Syakila menggerutu sendiri. di liriknya lagi jam di tangan mungilnya.
" aku ganti baju aja dulu kali ya " Syakila bicara sendiri.
ku tutup buku yang sejak tadi jadi teman diam ku, lalu ku ambil perlengkapan ganti ku, sendal kayu aku bungkus, dan ku keluarkan sendal jepit dari kantong ajaib ku. Aku menuju toilet. Setelah ganti.
" eehm enak juga, terasa ringan dan sejuk " sambil ku minuman yang aku pesan tadi.
Aku lihat lagi jam di tangan sudah hampir jam 2. setelah ku susun barang barang ku ke dalam kantong ajaib ( tas selempang berkantung besar) aku lanjut baca lagi.
*
" itu cewek Jepang tadi, udah berubah dia" Jeong menatap heran saat Syakila melewati nya saat kembali dari toilet.
" pake sendal jepit aja, cewek jaman sekarang tidak ketinggalan sepatu tinggi dia hanya pake sendal jepit? " Jeong heran, heran sekali.
***
Syakila kembali duduk dan melirik lagi jam di tangannya.
drrtt drtt drrtt
suara getar dari handphone Jeong
" ya tuan" jawab Jeong
" masuk aja kami udah selesai " tawar Reza
" tanggung bos, lagi PW nih " tolak Jeong.
" ya sudah, tunggu di sana aja kami keluar " perintah Reza.
Tak lama kemudian keluarlah Reza dan Shanum.
" nona Shanum " Jeong menyapa dan membungkukkan badan memberi hormat
__ADS_1
Shanum hanya membalas dengan senyuman. Sudah ketiga kali mereka bertemu akhirnya pertemuan kali ini membawa hasil bahwa mereka bersedia melaksanakan perjodohan Ini dengan syarat syarat tertentu. Dan kedua belah pihak pun saling menyetujui.
" Terima kasih pak Reza, saya mau menemui teman saya dulu " pamit Shanum
" kami juga nona Shanum undur dulu, maaf tidak mengantar masih ada beberapa kesibukan perusahaan. " Reza dan Jeong meninggalkan Shanum.
Shanum menuju tempat Syakila duduk membaca.
" Shasa, is kamu ini kalo udah ketemu buku dunia serasa milik sendiri " Shanum mencium pipi Syakila.
" dateng dateng main cium, gimana? lancar? tanya Syakila.
Shanum hanya menarik napas panjang
" ya jadi nikah nya, tapi hanya satu tahun aja, katanya dia masih menanti pacar nya yang ada di luar negeri " Shanum menaikkan kedua alisnya.
" terus? tanya Syakila penasaran
" terus apa? " Shanum balik tanya
" kamu ngajuin syarat juga? " Syakila makin penasaran
" ada tiga, satu tidak ada kontak fisik tanpa persetujuan pihak kedua, dua tetap boleh bekerja, tiga tidak menggangu urusan pribadi masing masing" jelas Shanum
"jadi kapan nikahnya? " Syakila nanya melulu
"sebulan lagi" jawab Shanum malas
mereka berdua sama sama tersiam sesaat.
" udah makan? " tanya Shanum
Syakila hanya menggeleng kepala.
" Aku pesen ya, aku masih lapar td makan cuma sedikit" Syakila hanya tersenyum dicermatinya sahabatnya itu, dia merasa kasian.
" Num, kalo menurut aku sih ya, berusaha lah menikah cuma satu kali aja, jangan nanti taon depan cerai" tiba tiba Syakila berkata dengan nada lembut.
" Aku mau nya gitu Sya, tapi mau bagaimana lagi, kami tidak saling mencintai,,, " air mata Shanum sudah hendak keluar
" ya sudah, kalian jalani aja dulu kedepannya bagaimana, kita tidak tau suratan takdir, dan kita serahkan kepada Dia yang mengendalikan hati manusia, aku berdoanya ini pernikahan pertama dan terakhir mu Num" mereka saling menggenggam tangan. Syakila paham saat ini sahabat nya sedang sangat membutuhkannya.
__ADS_1
" sabar dan tetap berdoa minta yang terbaik" Syakila masih mencoba menenangkan dan memberi semangat kepada Shanum sahabatnya yang sudah dia anggap sebagai saudaranya sendiri.