Cinta Jeong Wibowo

Cinta Jeong Wibowo
* adek kakak *


__ADS_3

**


Akhirnya aku menginjakkan kaki di rumah ini lagi. Setelah mengantar rombongan mama sampai pagar aku langsung melihat mawar mawarku sudah sangat kangen aku dengan mereka. Lalu aku langsung menuju ke belakang rumah melihat anggrek anggrek ku "maaf kan mimi sayang" ucapku lirih. Jeong mengikuti dari belakang dia terlihat tersenyum melihat aku bicara dengan anggrek bulan kesayanganku.


Jeong masuk ke dalam lewat pintu samping. Ku lihat dia membersihkan dapur, mencuci piring yang masih tertinggal walau pun bunda sudah membersihkannya.


"biar aku saja Jeong" kataku, aku tak enak hati masa cowok sih yang cuci piring emang dunia sudah terbalik.


"enggak pa pa, kamu duduk saja di sini" Jeong dengan pelan memapahku duduk di sofa. Dia menyalakan televisi bermaksud menyuruh ku duduk santai menonton televisi. Aku jadi nya tersanjung. Lama kelamaan mata ini menutup dan rasanya lelap sekali, rasanya emang kayaknya capek sekali, mungkin juga masih pengaruh obat yang ku minum.


Entah mengapa aku merasa ada orang di depanku. Dan aku membuka mata ku. Bener. Ada Jeong. Aku menarik napas dan tersenyum, dia mencium dahiku


"tidurlah kalau masih ngantuk, tapi pindah di kamar aja" pinta Jeong. dia lalu duduk di sebelah ku. aku pun duduk dan bersandar di bahu nya. entah ada keberanian dari mana aku berani merebahkan diri di bahu nya. Bahunya sangat besar dan kuat rasanya nyaman sekali bersandar.


"masih ngantuk" Jeong mengusap rambutku.


"pengen manja aja" jawabku sambil memeluk lengannya. aku diam, Jeong memainkan hape nya. aku diam dan lama lama tertidur lagi.


"La, ashar dulu baru nanti tidur lagi" pinta nya


"kamu sudah?" tanya ku. Jeong mengangguk. aku berdiri dan ke kamar ku untuk sholat ashar. setelah selesai aku keluar lagi. Betah sekali dia dengan hapenya, apa sih yang di sibukkan nya? pikirku. Aku duduk di sebelahnya dan langsung melihat ke arah handphonenya.


"apasih" Jeong menunjukkan apa yang dilihatnya di dalam hape tersebut "kepo banget" canda nya


"gak boleh?" tanya ku sedikit sewot ku lihat dia sibuk dengan kerjaannya.


Dia merangkul ku "jangan marah" kata nya pelan. aku diam saja dan mengerucutkan bibirku


Entah hari ini rasanya pengen manja duduk dekatnya terus. Rasanya nyaman, tidak perlu bicara cukup diam memeluk tangannya rasanya nyaman dan damai sampai tertidur.


"Laa" panggil Jeong lembut dan hanya di jawab deheman halus dari ku


"aku ingin kamu panggil aku KAKAK" aku terkejut apa yang diucapkannya, aku menatapnya, dia pun balik menatap "iya panggil nya kak Jeong aja" dia berkata dengan semangat dan tersenyum


"dalam rangka apa pengen dipanggil kakak?" tanyaku


"dalam rangka sayanglah" jawab Jeong dengan santainya


"nanti kakak panggil aku apa? ADEK?" tanya ku dengan manja yang sudah mengawali memanggilnya dengan sebutan kakak


"iya, Adek" jawab Jeong kembali menatap ku aku pun menatapnya lalu dia mencium dahi ku

__ADS_1


"kenapa pengen nya adek kakak? biar gak ketahuan kalau sudah ada pacar? eeeh apa kita ini pacaran?" tanya ku tiba-tiba tersadar


"ya iya lah dek kita pacaran, besok kalo kakak melamar kita tunangan, besoknya lagi menikah jadi suami istri" jelas Jeong


"jadi kenapa pengen nya di panggil kakak adek, enggak sayang, hani, bani, switi, my lov, atau yang lainnya" tanya ku lagi


"adek pengen nya di panggil apa?" eee dia malah tanya balik


"kalau adek sih, terserah kakak aja" jawab ku lagi "jadi kenapa mau nya adek kakak" tanya ku penasaran


"umur kakak sekarang 30 tahun, kakak pengen nya enggak lama lama pacarannya. sebulan atau dua bulan ke depan kita sudah menikah, itu pengennya kakak. kenapa panggilan kakak adek biar kita terlihat muda terus kayak anak anak abg, kakak pengennya nanti walaupun sudah menikah sudah nenek kakek kalau lagi berdua tetap kakak adek panggilannya" jelas Jeong.


"hemmm so sweet banget" ucapku tersenyum pura pura terpaksa sambil memejamkan mata


cup... ehhh satu kecupan mendarat di bibir ku


"kakaaaakkk" aku berteriak aku pukul pukul lengan nya


"Laa kan adek yang minta cium, tuh pake acara tutup mata" Jeong menjelaskan


"maksud adek tadi bukan kayak gitu... " aku masih mukul mukul lengan nya


"yaa maaf, maaf ya, kakak salah paham" ucap Jeong mengalah kayak nya dia sekarang sangat hati-hati takut sekali kalau aku ngambek.


"jadi itu di buat untuk apa" ucap Jeong sambil menunjuk ke arah kolam renang mini


"ya untuk berenang lah, tapi berenangnya jalan" aku sambil menyengir


"kapan kapan kakak ajari beneran ya? tuh dalam segimana?" tanya Jeong


"seee ketek" aku sambil menunjukkan garis tangan se dada.


"ok kapan kapan kita belajar" katanya dengan pasti


"emang adek mau?" ucapku sambil memeluk lengannya


"kakak takut terjadi apa apa lagi kayak kemaren" Jeong menatap mataku dengan tajam


"kalau tangan nya di ikat masih bisa berenang?" tanya ku juga dengan tajam


"setidaknya adek bisa menimbulkan badan ke permukaan dengan bantuan ayunan kaki" tatapan Jeong mulai meneduh. Lalu dia memelukku "aku takut tidak dapat menemukanmu jika di dalam air" Jeong memelukku dengan erat "belajarlah dengan kakak atau guru renang, tapi cari guru renangnya cewek aja" Jeong melepaskan pelukannya.

__ADS_1


"iya" jawab ku, aku tersenyum dan memeluknya kembali.


"kak,, " panggil ku


"hmm" dia hanya menjawab dengan deheman aja


"kenapa hari ini adek seneng kali peluk kakak?" tanya ku


"enggak tau, mungkin karena baru sadar kakak keren?" jawab Jeong


"iya mungkin" jawab ku


"kenapa kemaren kemaren gak mau peluk?" tanya Jeong


"takut, takut cuma adek saja yang suka, takut apalagi melihat foto foto itu, setiap hari ganti tempat ganti suasana ganti gaya, pengennya menjauh aja" jawab ku sedih aku kembali memeluknya. dan entah mengapa air mata ini mengalir saja, entah mengapa hari ini melow banget


"hei, kenapa? dek, kenapa? jangan nangis" Jeong membalas pelukanku dengan lembut


"sudah ah.... jelek ah.... kakak cuma sayang sama adek, kan sudah kakak bilang, kakak dekati Selly karena ada misi selain itu gak ada maksud lain" Jeong menenangkan aku


"kakak cuek sekali waktu ketemu di cafe, untung adek belum cerita apa apa sama Shanum" aku masih menangis entah rasanya memang belum lega sebelum menceritakan semua


"maaf ya" Jeong mengusap punggung ku dengan lembut.


"tau gak kak, bahkan radio pun ngejek adek" aku mengadukan semua kepada Jeong


"ngejek gimana?" Jeong nampak bingung


"hiihiihii" aku malu untuk menyanyikan nya jadi nangis aja


"dek ngejek gimana? radio frekuensi berapa nanti kakak kesana?!!" aku penasaran siapa yang berani berani ganggu Syakila.


"nanti kakak buat perhitungan sekalian sama penyiar nya juga" tambah Jeong lagi.


Aku kembali duduk disebelahnya dan memeluk lengannya


"kak kata radio nya 'salahkah bila diriku terlalu mencintaimu, jangan tanyakan mengapa karena ku tak tau' sampe situ langsung adek matiin tuh radio" aku mulai cerita lagi setelah diam dan mulai tenang. Jeong mencium kepala ku


"maaf ya dek, maaf, kakak senang adek cerita besok besok kalau adek ada yang mengganjal di hati ceritakan aja sama kakak, kakak juga kalau ada masalah ataupun ketemu siapa akan cerita sama adek biar adek gak salah paham lagi" Jeong menatapku dan mencium mata yang masih ada airnya.


"dah ah peluk nya, adek mau mandi dulu bentar lagi magrib, kakak mau sholat ke masjid aja ya, biar adek sholat di rumah aja" kataku sambil berdiri

__ADS_1


"sudah nih ngambek nya, yaaah gak dipeluk lagi dong"


__ADS_2