Cinta Jeong Wibowo

Cinta Jeong Wibowo
* tidur panjang *


__ADS_3

Melihat dia tidur terasa tenang sekali. Tapi aku juga merasa sedikit khawatir, ini sudah saatnya makan siang tapi Lala tetap saja terlelap. Apa dia cape sekali hingga tidurnya sangat nyenyak? Apa mimpinya indah sekali hingga dia malas untuk bangun? Apa dosis nya terlalu tinggi hingga tubuh mungilnya tak mampu menahannya.


Aku menggenggam tangannya sedikit kuat namun tak ada reaksi apa pun dia tetap diam. Aku perhatikan napas nya ternyata masih ada.


Jam kunjungan dokter "dok, kenapa Lala gak bangun bangun?" tanyaku mulai cemas


Dokter memeriksa dengan seksama "Dari semalam belum bangun-bangun?" tanya dokter yang memastikan keadaan Syakila. Dokter Hermawan yang menangani Syakila.


"Iya dok, ku pegang tangannya tidak ada reaksi sama sekali" ucapku


"Kami sudah memeriksa keadaan dokter Syakila semuanya normal, detak jantung, tes darah tidak ada masalah. Seharusnya beliau sudah sadar, sarapan, buang air kecil. Hari ini jika infus habis dia diperbolehkan pulang. Namun saya juga heran waktu mengecek pagi ini mengapa dokter Syakila belum bangun dan siang ini di cek kondisinya masih sama" jelas dokter


"Mungkin, ini masih kemungkinan menurut saya jiwa dokter Syakila mungkin masih terlalu cape, jadi dia masih enggan untuk kembali, mungkin dia masih betah berada di alam bawah sadarnya" sambung dokter memaparkan kemungkinan yang terjadi "Bisa juga dia ada masalah dan dia merasa sudah di penghujung tidak ada jalan keluar jadi mungkin dia merasa ini titik jenuhnya dan dia memutuskan untuk diam" dokter Hermawan menarik napas panjang


"Jadi bagaimana dok supaya Lala bisa kembali?" tanya ku


"Ajak dia berkomunikasi, cerita, rangsang dia dengan cerita yang indah-indah, atau sesuatu hal yang dia sukai?" dokter Hermawan diam sesaat "Dia mendengar apa yang kita ucapkan namun jiwanya tidak berdaya untuk menjawab" kata dokter Hermawan


" Atau dia masih trauma dok, semalam dia menjadi korban penculikan?" tanya ku


"bisa jadi, bisa jadi ada masalah lain yang lebih sensitif dan dia merasa jenuh atau ada masalah dengan mas Jeong? soal cinta misalnya?" dokter Hermawan balik bertanya pada ku. aku tersentak dan tersadar

__ADS_1


"apa bisa juga jadi penyebab?" tanya ku


"semua hal bisa jadi penyebab, hanya dia yang tahu. Berdoa mas Jeong, semoga dia cepat bangun, cepat sadar, bisa berkumpul di tengah-tengah kita" dokter Hermawan tersenyum "terutama di rumah sakit, kedatangannya, tenaganya, keahliannya, ilmunya sangat kami harapkan" dokter Hermawan ikut merasa prihatin.


"saya pamit dulu mas Jeong, temani dia ajak ngobrol, yah mungkin cerita-cerita manis saat pacaran" dokter Hermawan aku jadi merasa malu, dokter itu vulgar sekali cerita nya. Dia meninggalkan ruangan. Tinggallah kami berdua di kamar ini.


Aku diam duduk di samping Syakila ku raih tangan lembutnya, tangan yang selalu cepat menolong orang, tangan yang selalu tidak jijik, tangan yang selalu memasak masakan yang enak untukku kini tampak lemah tak berdaya.


"Laa, bangunlah, jangan marah, jangan seperti ini, bangunlah.., jangan tidur terus, temani aku, aku kangen" aku memeluk tubuh yang diam saja itu sambil menangis.


"La, maafkan aku, jangan percaya dengan foto-foto itu" wajah imut itu tetap tenang dalam tidurnya.


Pintu kamar di buka. Bunda datang ditemani Shanum membawa makan siang dan baju ganti. Bundaembuka bekal yang di bawanya


Bunda mendekat "ada apa?" tanya bunda


"Lala bun, dari semalam belum bangun-bangun" suaraku sudah tercekat di tenggorokan dengan berlinangan air mata.


"apa kata dokter?" kata bunda mendekat ke arah Syakila, posisi bunda berhadapan denganku


"Kata dokter mungkin tidur nya akan lama bisa satu hari, dua hari, bisa seminggu, atau dua minggu, atau.." aku tidak bisa meneruskan kata-kata ku, aku tidak bisa membayangkan hal-hal yang seterusnya. "Lala merasa cape bun, jadi dia masih betah tidur berlama-lama di bawah alam sadarnya" ucap ku menjelaskan pada Jeong, bunda memperhatikan Syakila, ku lihat matanya sudah berkaca-kaca.

__ADS_1


Shanum mendengar apa yang kami bicarakan dan dengan cepat dia mendekat, dia memeluk Syakila


"Syaaa... Syasa.. bangun sya. ini aku syaaa, kita sudah selamat syaaa, ayo bangun syaa... " Shanum menangis histeris mengguncang bahu Syakila.


"Num, sabar nak, inget kandungan mu dia akan sangat marah jika terjadi apa-apa dengan keponakannya" bunda menenangkan Shanum. Shanum menghapus air matanya "Syaa, ada Jeong yang selalu nungguin, kamu gak cerita kalau lagi jalan sama asisten Jeong, bangun Syaa.. " bujuk Shanum yang mulai agak tenang. Namun sayang yang di ajak ngobrol, yang dipanggil panggil tetap dia membisu tanpa gerakan sedikitpun.


Bunda dari tadi hanya diam, dia mencerna dan mengamati apa yang terjadi dengan sahabat anaknya itu yang sudah di anggap anaknya sendiri. Bunda mengamati betapa Syakila sangat menyayangi Shanum bahkan rela mengorbankan harta dan nyawanya.


"Kalian ada masalah? atau lagi bertengkar? tanya bunda tiba-tiba yang membuat jantungku terasa berhenti berdetak. aku menggeleng, tidak mungkin aku mengatakan pada bunda bahwa Syakila sedang ngambek karena aku jalan dengan Selly atau mungkin Shanum yang cerita pada bunda pasal nya kami bertemu di cafe ketika aku lagi makan dengan Selly. "Ajak dia bicara, rangsang dia dengan cerita cerita yang membuat dia semangat, yang membuat dia bahagia" bunda tersenyum tulus pada ku


"bunda sangat kenal dengan nya, meskipun dia sangat akrab dengan Shanum tapi dia tidak pernah cerita dengan Shanum kalau lagi ada masalah, selalu bunda yang jadi incarannya" bunda diam sesaat "Syasa dia orangnya tertutup kalau cerita hanya hal-hal yang umum saja, masalah pribadi selalu ditutup nya rapat-rapat di hatinya, tapi bunda tau kalau dia sedang gelisah nanti bunda dekati, bunda tanya, ada apa? bunda pancing untuk cerita akhirnya dia cerita. Dan dia pun tidak pernah mempermasalahkan hal-hal yang sepele, misal masalah uang, harta dia tidak pernah merasa itu sesuatu hal yang besar" bunda duduk di kursi dihadapanku. "biasanya hal-hal yang dia permasalah kan adalah hal-hal yang menyangkut harga dirinya, makanya bunda tadi tanya nak Jeong, apakah ada masalah dengan hubungan kalian? nak Jeong jangan tersinggung, sayang bunda pada Shanum sama dengan sayang bunda pada Syakila" bunda diam


"bunda berpikir mungkin dia memilih menghindari permasalahan kalian? " ucap bunda


"bun, keluarga Jeong sayang dengan Lala" kataku tiba-tiba


bunda tersenyum " syukurlah kalau begitu, nak Jeong sudah mengenalkan Syasa dengan keluarga nya?" tanya bunda, aku hanya menganggukkan kepala. bunda terlihat tersenyum gela.


"Sayang ini bunda,,, bangun nak... disini ada nak Jeong" bunda membisikkan ke telinga Syakila.


"bunda bawa makanan kesukaanmu, bunda bawa gurami panggang, ada sambal terasi, ada lalapannya juga, bangunlah nak kita makan" bunda diam

__ADS_1


"kalau kamu nggak bangun bagaimana bunda bisa makan" bunda menangis..


__ADS_2