
*
Supir sudah menjemput ku di depan, aku ingin pamit namun Syakila belum keluar dari kamarnya, biasanya dia cepat, kok lama ya. Akhirnya aku izin dengan chat saja, aku memberikan dia uang bukan untuk membayar jasanya, aku tahu dia tulus, dia wanita baik. Aku hanya mencari alasan biar bisa ke sini tiap hari, masakannya enak juga sehat, aku ingin makan di sana aja, karena bisa ditemani dia.
Pagi ini diawali dengan senyum semoga hari ini menyenangkan. Tidak lama aku tiba di kantor, Reza pun datang setelah perjalanan bisnisnya. Perjalanan bisnis kali ini Shanum ikut, katanya sekalian bulan madu. Semenjak Reza mulai bucin dengan Shanum pekerjaan ku jadi semakin ringan, yaaah kerjaku hanya mengurusi masalah kantor dan perusahaan saja.
"Tuan, tidak biasanya datang terlambat 2 menit, biasanya selalu lebih awal" tanyaku
"Jeong, menikahlah, maka kau akan merasa selalu kekurangan waktu untuk selalu berdua dengan nya" Reza sambil senyum-senyum
"alah, dulu aja gayanya gak mau! ogah! sekarang..?" Aku menggoda Reza
"Aku pulang aja, jadwal yang sudah di buat yang bisa kau urus, uruslah, Shanum masih cuti hari ini, sudah yaaa" Reza melambaikan tangannya.
"woii, maksud nya apa ini?? ahh dasar BUCIIINNN" teriakku pada Reza
"hahahahha" Reza hanya tertawa terbahak
"Dasar jomblo, kau tidak akan mengerti" Reza meninggalkan ruangan
Hilda dan Rara senyum senyum mendengar pembicaraan kami, mereka berdua tim sekretaris di perusahaan ini.
"mbak Hilda, rapat jam 8 nanti mbak yang mendampingi saya ya, dan untuk meeting dengan Mutiara Grup sama mbak Rara" mereka berdua mengangguk cepat. Para wanita-wanita hijabers ini sekretaris yang handal mereka berdua udah pada menikah.
"Pak, serasa playboy sekali ya?" ledek mbak Hilda, kalau enggak salah dia bersuamikan seorang Tentara.
"iya jam 8 di temani mbak Hilda, nanti jam 10 ditemani mbak Rara" hubunganku dengan kedua sekretaris ini memang akrab aku menganggap mereka berdua mbak ku, karena banyak pekerjaan ku yang dibantu dari mereka berdua. Yah, memang itu tugas mereka sebagai sekretaris tapi mereka manusia biasa jika kita perlakukan dengan baik maka akan dibalas dengan baik juga.
Rapat ini, rapat bulanan yang beragenda evaluasi kerja perdivisi, pemeriksaan keuangan, perhitungan keuntungan, dan lain lain. Selesai rapat aku langsung menemui mbak Rara
"ayo mbak" seru ku, "sudah siap semua? " mbak Rara mengangkat jempolnya. "Tidak ada yang ketinggalan?" tanyaku memastikan
"siap pak" jawab mbak Rara semangat. kami pun berangkat
" mbak, ketemu sama mas Toni dimana?" tanyaku kepo
"teman sekampus, beda fakultas aja" aku mengangguk
"mas Toni dokter apa mbak?" tanyaku lagi
"spesialis anak di Teratai" jawab mbak Rara
"eh kok gak pernah ketemu ya? " aku heran aja selama antar jemput Lala enggak pernah ketemu suaminya mbak Rara.
"ngapain pak Jeong ke rumah sakit?" sakit?" tanyanya kembali
"ihh kepo kali, dasar emak emak" ledek ku
"ada pacar disana? " tanya mbak menebak
__ADS_1
" belum jadi pacar" jawabku spontan, mbak Rara malah tertawa.
"apa yang kurang? " tanya mbak Rara "dokter siapa nih, siapa ya yang masih singgel, banyak sih, dokter anak yang baru itu juga masih jomblo
" dokter Lala bagian bedah" jawab Jeong pelan dia malu.
"ooo, si Syasa, Syakila kan? dokter bedah cuma dia yang masih belum nikah" Jeong tersenyum
"dia orangnya baik, mbak sih setuju, mbak sering ketemu, hampir tiap bulan malah" jelas mbak Rara
"Dia pengurus panti asuhan Kita Bersama, jadi tiap awal bulan mas Toni di suruh memeriksa kesehatan anak-anak disana, mbak sering ikut sama keponakanmu, jalan jalan sambil ngajari mereka berbagi" jelas mbak Rara panjang lebar
"iya pantas dia suka kali dengan anak-anak".
Sampai di lokasi tujuan meeting, setelah menjelaskan bentuk kerjasama, setuju, deal, tanda tangan.
Aku mengajak mbak Rara ke rumah sakit. Biar dia kencan sama mas Toni, aku bisa menemui Lala. Kami masuk keruangan Syakila.
**
"mbak.. " Aku memanggil mbak Rara " nyariin mas Toni? tuh ada di dalam" ucap ku
"nyariin kamu" mbak Rara senyum "tuh yang nyariin kamu!! " tunjuk mbak Rara pada Jeong yang sedang ngobrol sama pak Robi. aku tersenyum Jeong pun tersenyum
"ciieee, gak bilang-bilang sama mbak, kan bisa tanya-tanya orangnya gimana, mbak ni sekretaris nya pak Jeong" aku tersenyum terpaksa
"Ma, kok disini? " tanya mas Toni yang sudah selesai memeriksa Shafa dan Marwah.
"ngapelin siapa? dokter Syakila?" mas Toni bingung.
"aku masuk ah, mau lihat Shafa dan Marwah" aku masuk, malu, diledekin kayak anak kecil aja.
*
"Rob, gimana masalah Shafa dan Marwah? " tanya ku tiba di depan ruangan Syakila ku lihat Robi
"Shafa syok, dia pingsan, tuh lagi diperiksa sama dokter Toni" jelas Robi
"gimana soal jenazah, maksud ku soal pemakaman?" tanya ku
"kita tanya Shafa dulu, karena mau dianter kemana juga tidak tahu, dia tidak tahu jalan pulang" jelas Robi
"iya maksud ku nanti berapa kira-kira biaya pemakaman atau kalau mau dikirim kemana biar aku yang tanggung" Jeon memberikan kartu nama nya
"oke boosss" jawab Robi.
Robi pergi menemui anggota nya yang lain. Aku menemui Syakila di ruangan nya
"kita makan dulu yuk, Dah laper banget" ajak ku. Kami makan di resto yang ada di rumah sakit ini
__ADS_1
"gimana keadaan nya? " tanyaku pada Syakila
"dia syok dan pingsan, kasian dia Jeong, masih kecil tapi tanggungjawab pada adek nya besar sekali" Syakila menjelaskan
"jadi gimana selanjutnya? " maksud ku, tinggal dimana mereka? " sambung ku lagi
"untuk sementara akan ku titipkan di panti asuhan" jawabnya lirih
"kalau mengadopsinya bagaimana?" tanyaku
" pertama kamu belum menikah, kedua kamu belum berpengalaman mengasuh anak, ketiga bisa kamu luangkan waktu untuk menemani, memperhatikan mereka, mereka benda hidup bukan patung tidak hanya perlu materi tapi juga perhatian dan kasih sayang " jelas Syakila
"tapi banyak artis-artis yang masih belum menikah yang mengadopsi anak? " tanyaku sengit
"bisa, kamu minta surat rekomendasi dari menteri sosial bahwa kamu mau mengadopsi nya pasti akan di kabulkan mengingat kau tidak kekurangan materi, tapi mereka anak anak yang perlu perhatian dan kasih sayang bukan masalah uang saja" jelas nya sewot
"iya ya," aku mengacak-acak rambutnya " kenapa tidak kamu yang mengadopsinya? " tanya ku kembali, dia menarik napas panjang "waktu untuk diriku sendiri saja tidak cukup apalagi harus memperhatikan mereka, aku tidak mau egois biar dibilang orang baik menelantarkan kebahagiaan mereka, mereka perlu perhatian dan kasih sayang" jelas nya lagi
"nanti kalau sudah punya anak enggak usah jadi dokter lagi ya, cukup di rumah aja" Jeong menggoda tapi serius
"kenapa? " dia sewot
"aku enggak ingin anak-anak kita terlantar" goda ku sambil senyum.
"kita??? taukk ah, ngaco kamu!!" yee, dia mengerucutkan bibir nya.
***
Sesuai kesepakatan kemaren, sore ini mereka mengantarkan Shafa dan Marwah ke panti asuhan. Syakila sudah memberi pengertian kepada sang kakak.
"Fa, di panti kalian akan ada yang menjaga sepanjang hari, akan banyak teman, kalian tidak akan kesepian. banyak anak asuh ante yang ada di sana, nanti kita kenalan ya, nanti ante bilang kalau kalian anak ante juga, mereka anak baik-baik kok, kalau kalian sama ante, ante gak bisa jagain kalian, kalau kalian ikut ke rumah sakit itu gak baik sayang, rumah sakit tempatnya orang sakit banyak kuman.. " Syakila membujuk Shafa.
"nanti, setiap hari minggu ante dateng kesini.. " ucap Syakila
"sama om Jeong? " tanya Shafa
"iya sama om Jeong" Jeong mengusap rambut Shafa,
"ante boleh panggil ante BUNDA? " tanya Shafa menangis
"boleh, panggil aja mana yang Shafa suka" syakila pun sudah mellow, Syakila memeluk Shafa
"Bunda janji akan sayang sama Shafa dan Marwah?"
"janji" mereka saling mengaitkan jari kelingking.
Lama juga mereka berada di panti, Syakila ikut memasak dan menyiapkan makan malam. Malam ini suasana baru di rasakan Jeong, dia merasa tak sendiri banyak anak-anak yang menemani, terutama bersama Syakila.
Kesempatan ini digunakan anak-anak panti yang bekerja di toko pakaian untuk memberikan laporan keuangan begitu juga dengan pondok makan nya.
__ADS_1
Jika kita bisa berbagi hari, jangan menunggu esok. Karena tidak semua orang merasakan keberuntungan yang kita rasakan. ☺☺☺