
Mobil berhenti tepat di depan pintu rumah sakit. Jeong keluar dari mobil dengan menggendong Syakila. Setelah memarkirkan mobil ayah Bara dengan cepat mendaftarkan pasien atas nama Syakila, sedangkan Jeong dan bunda Maya menemani pemeriksaan Syakila.
Mama Rita mamanya Reza datang bersama papa Harun. Mungkin Reza yang telah memberi kabar dengan mereka. Mereka berdua menghampiriku, aku berdiri memberi salam dan mencium kedua tangan mereka.
Papa memelukku "yang sabar, harus kuat" papa Harun menyemangati. Mama juga memelukku "Anak mama sudah dewasa sekarang, harus sabar, ini semua ujian, harus sabar, harus tetap saling satu, harus saling percaya" mama Rita menasehati ku. "Mama senang, Syasa anak nya lucu,, mama suka" mama dalam keadaan ini masih aja ngomong kayak gini, kadang bikin malu. Aku memang sudah dianggap kedua orang tua Reza sebagai anaknya sendiri mereka menganggap aku ini adik nya Reza. Kadang juga para kolega mereka beranggapan seperti itu karena memang wajah ku yang oriental mirip dengan mama Rita yang berketurunan Tionghoa. Sedangkan Reza lebih dominan ke papa Harun yang keturunan Turki.
Setelah itu mama dan papa menghampiri kedua besannya ayah dan bunda Shanum. Mereka saling memberi salam. Papa memeluk ayah Bara "Terimakasih Bar" ucap papa kepada ayah Bara
"Sama-sama, mereka semua anak-anak kita" jawab ayah Bara.
Kemudian mama Rita memeluk Syakila "Kasian Syasa mbak, demi Shanum dia sampai begini" ucap mama merasa sedih melihat keadaan Syakila "Dia tidur mbak? " tanya mama
"iya, mungkin pengaruh obat, tapi badan nya gak sedingin tadi Jeng" ucap bunda "Syasa tau kalau baru dengan Syasa Shanum cerita bahwa dia sedang hamil" cerita bunda
"iya mbak jadi ada cerita senang karena mau dapet cucu, ada sedih juga calon mantu jadi begini" mama merasa prihatin. "Shanum jangan banyak pikiran, maslah sudah lewat, sekarang jaga calon dedek bayi nya! " ucap mama Rita sambil memeluk Shanum.
"iya ma" jawab Shanum lembut.
Sekitar satu jam mama papa berkunjung, cerita ini cerita itu yang jelas dari cerita mereka banyak yang mengolok-olok aku yang lagi dekat dengan Syakila, aku tidak bisa menjawab apa apa, Syakila dapat selamat saja aku sungguh merasa bersyukur. Mereka mohon pamit hendak pulang.
"Jeong papa pulang dulu" ucap papa menyentuh bahu ku, aku mengangguk "makasih pa" jawab ku
"Mau pesen apa besok siang mama mampir kesini? " mama menawarkan sesuatu.
"Tidak usah repot-repot ma" jawab ku
__ADS_1
"Kalian udah mau pulang" tanya bunda Maya.
"Iya mbak, dari kantor tadi langsung kesini" jawab mama.
"Kita serempak aja keluarnya" ajak bunda "kasian Shanum dari tadi belum istirahat, biar dua pria itu aja yang nunggu disini" sambung bunda lagi sambil menatap ke arah ku dan Reza.
"ya sudah, Za, Jeong kami pulang dulu kalau ada apa-apa kabari mama atau bunda ya " pamit mama Rita, kami berdua mengangguk.
***
Di kamar ini tinggallah mereka berdua yang menjaga Syakila. Jeong dan Reza duduk di sofa yang ada di kamar itu.
"Malam ini kita berdua yang jaga" Reza mengawali pembicaraan
"Dia tidur di rumah bunda, kau mengusirku?? " canda Reza "kau ingin berdua an sama Syasa? inget bro belum kawin belum sah!! " ditambahi lagi sama Reza meledek Jeong
"pikiran mu!! aku bukan dirimu penjahat kelamin!!" Jeong memukul pundak Reza
"ya siapa tau aja, kami kan tidak tau apa-apa? kalau gak ada tragedi ini kamu pun pasti enggak akan cerita" kata Reza sewot pasalnya dia kayak sahabat yang terbuang.
"aku selalu menjaga nya Za, aku sayang sama dia, cuma kalau lagi gemes aku acak-acak aja rambutnya" Jeong dalam kenangan
"jadi sejak kapan? " tanya Reza mati penasaran dengan kisah mereka, pasalnya Jeong itu sibuk kapan mereka ketemu, dia tidak tau aja ketemunya pas jam makan, kadang ada tugas keluar Jeong mampir sebentar ke rumah Syakila atau ke rumah sakit.
"awalnya hanya penasaran, waktu kita janjian sama Shanum mau tanda tangan kontrak nikah ternyata mereka janji ketemu juga, yang membuat aku penasaran aku lihat di meja pojok di luar Syakila menggunakan kimono Jepang mirip gadis Jepang, kecil, imut, lucu tapi aneh." Jeong mengenang pertama kali bertemu Syakila.
__ADS_1
"iya dia memang aneh! " kata Reza "oooo pantas waktu aku tawari masuk kedalam gak mau, alasannya apa!! PW posisi wenak, yahh rupanya emang enak ketemu cewek...!! " Reza mengangguk-angguk sambil mengingat kejadian waktu itu
"Heeee iya, dia sangat marah Za sama kamu gara-gara kontrak nikah itu, dua hari dia marah-marah melulu sama aku" kata Jeong penuh semangat
"iya, dia badan aja yang kecil tapi kalau ngomong bikin orang merinding" Reza menggidikkan badannya "dia ngancem mau nyuntik mati ke aku Jeong!! gila gak!! seorang Reza, berani beraninya dia ngancem aku!! Setelah itu kalian ketemu terus? " tanya Reza bener-bener penasaran
"ya enggaklah,kadang ketemunya gak sengaja" Bela Jeong.
"Alah alasan aja gak sengaja emang sebenarnya kamu cari-cari biar ketemu pantes gak pernah makan berdua lagi kita" Reza sewot
"Lah bukannya kamu yang ngusir kalau Shanum sudah datang bawa bekal!!! " Jeong membela diri gak mau disalahkan. "inget gak pas lagi bucin bucinnya, untung aku ada Syakila, kalau enggak udah jadi kambing congek" Jeong membalikkan keadaan untuk mengimbangi serangan.
"udah ah, aku mau beli kopi!! Reza gak mau kalah jadi biarlah kedudukan seri satu sama.
" mengelak..!! " ejek Jeong
"bukan mengelak, tapi memberikan kesempatan bagi orang yang dari tadi deg degan pandangi si LALA" tetep dengan gaya mengejek "awas ya!! memang di kasih kesempatan, tapi lihat juga kondisi lawan" Reza menepuk bahu Jeong berdiri ingin kabur membeli kopi.
Sepeninggal Reza, Jeong duduk di samping Syakila. Dipandangi wajah yang terlihat sangat letih itu. Diraihnya tangan Syakila, masih terasa dingin namun tak sedingin tadi, di usap usap nya telapak tangan Syakila biar terasa hangat. Jeong melihat kearah meja samping tergeletak handphone nya Syakila. Diambil oleh Jeong dan dibukanya. Dan Jeong merasa kaget semalam dia tidak bertemu Syakila selama itu juga dr.Affan selalu chat mengirimi foto-foto dirinya bersama selly.
"Pantas dia enggak mau ketemu" Jeong bergumam dalam hati. Dibukanya foto dirinya dalam handphone Syakila satu persatu "niat betul dr. Affan mengirimi foto ini, apa maksudnya, apa dr. Affan menyukai Syakila? ada dia orang nya yang mengirimi Lala bunga itu ya" Jeong mengingat-ingat kejadian dulu waktu dia menguntit Syakila sampai ke dalam rumah sakit. Digenggamnya tangan Syakila " Maaf La, nanti aku jelasin semua kalau kamu bangun. Kenapa enggak tanya sama aku? kenapa menyimpulkan sendiri, ngambek, marah, menghindar gak mau ketemu" Jeong berkata lirih kepada Syakila "aku cuma sayang sama kamu, kok kamu gak merasakan rasa itu dari sikap aku" Jeong bicara dengan orang yang lagi tidur.
Dibuka buka lagi foto di galeri ada satu foto yang dikirimkan Jeong ke handphone nya " CANTIK " gumamnya
__ADS_1