Cinta Jeong Wibowo

Cinta Jeong Wibowo
* maafkan aku *


__ADS_3

Pagi ini hanya Jeong yang menemani Syakila. Jeong menunggu di luar ruangan karena para perawat sedang membersihkan tubuh Syakila lalu mengganti pakaiannya. Pintu kamar terbuka para perawat itu meninggalkan ruangan karena telah selesai melaksanakan tugasnya. Mereka sedikit membungkukkan badannya ketika bertemu dengan Jeong yang sedang duduk di kursi depan. Jeong segera masuk dan menuju tempat Syakila tidur dengan nyenyaknya.


"Laa, masih belum mau bangun?? masih betah menghukumku?? La, ku mohon bangunlah.. maaf aku Laa. " Jeong tertunduk sambil menggenggam tangan Syakila. "tidak kah kamu laper La, dari kemaren gak bangun bangun, kasian bunda setiap hari masak kesukaanmu berharap kamu bangun dan memakan masakannya" Jeong diam terpaku melihat wajah yang begitu tenang nya terlelap.


"Laa, denger ya aku mendekati Selly hanya untuk mencari informasi tentang kematian paman, tentang penggelapan dana di perusahaan kakekkakek yang mereka lakukan" Jeong membisikkan ke telinga Syakila "La, mereka juga yang mencoba meracuni kakek, masa aku menyukai cewek seperti itu yang tega melukai keluarga ku" Jeong masih dengan sabar mengajak Syakila bercerita, curhat apa yang di rasakannya.


"La, denger ya aku mencintaimu, tidakkah kamu peduli padaku La, kau menyiksaku La, kamu membuatku takut, aku takut kehilangan mu... " Jeong memeluk kepala Syakila lalu mencium dahinya.


"Laa, apa kamu tidak mencintaiku??" Jeong menangis di sisi Syakila namun yang ditangisi hanya diam dan dari sudut mata Syakila mengeluarkan air mata. Syakila mendengar apa yang dikatakan Jeong namun dia tidak berdaya untuk menjawab bahkan untuk membuka matanya saja dia tidak bisa.


Jeong yang melihat air mata Syakila dengan cepat memencet tombol layanan dokter sambil terus memanggil - manggil nama Syakila.


Dokter Hermawan pun datang "ada apa mas?" tanya dokter yang melihat Jeong menangis


"Dok, lihat lah dok Lala ada reaksi dia menangis" ucap Jeong sedikit histeris.

__ADS_1


Dokter Hermawan pun memeriksa keadaan Syakila "mas Jeong dokter Syakila sudah kami perikaa, alhamdulillah memang keadaannya sehat, namun untuk kesadarannya masih sama, reaksi dokter Syakila menangjs adalah respon yang sangat positif, kemajuan yang sangat bagus" ucap dokter Hermawan sambil membenarkan posisi kaca matanya " tetap sama, beri terus rangsangan kepada Syakila, ajak cerita dan berkomunikasi" ucap dokter Hermawan


"iya dok" jawab Jeong singkat, lalu dokter Hermawan pamit meninggalkan ruangan tersebut "Terima kasih dok" ucap Jeong kembali sembari mengantarkan dokter Hermawan ke pintu


"harus sabar mas Jeong, mungkin ini adalah bukti perjuangan cinta mas Jeong, supaya sabar dan tetap setia pada dokter Syakila" ucap dokter Hermawan sambil menepuk pundak Jeong.


Jeong kembali duduk di samping Syakila, mereka sama sama saling diam.


Tak berapa lama dalam keheningan suara handle pintu diputar, masuklah kakek-kakek dengan seorang asisten nya. Jeong memutar kepalanya kearah pintu, dia langsung memeluk sosok itu dan menangis "kakeekkk" Jeong melepaskan kesedihan nya, tangisnya pecah melihat sosok tua yang sangat disayanginya itu "Keek.. Syakila gak mau bangun bangun!!" Jeong merengek menangis pada kakek Ronald seperti anak kecil yang kehilangan permennya. "sabar Jeong, cucu kakek yang hebat ini masa nangis, nanti kalau dilihat Lala dia pasti akan tertawa terbahak-bahak" canda kakek Ronald menghibur cucunya. Sebenarnya dia sangat prihatin melihat cucunya yang terlihat sedikit lelah dan berantakan itu, namun dia harap maklum karena Jeong sedang menemani calon cucu mantu kesayangannya itu.


kakek Ronald menatap Syakila dengan lembut "sudah berapa lama dia begini?" tanya kakek Ronald


"tidak ingin membawa Lala ke luar negeri?" tanya kakek Ronald menawarkan Jeong untuk membawa Syakila berobat atau pindah rumah sakit ke luar negeri.


Jeong menggeleng "disini saja dulu kek" jawab Jeong

__ADS_1


"apa kata dokter?" tanya kakek Ronald menanyakan keadaan Syakila


"kata dokter Hermawan semua sudah normal, hanya Lala masih malas untuk bangun, dokter menganjurkan untuk meresponnya dengan berinteraksi mengajaknya bicara, ngobrol apa saja yang membuat dia semangat" jelas Jeong.


Kakek mendekat kearah telinga Syakila "Laa, ini kakek, kakek datang, Lala gak suka kakek datang?" ucap kakek Ronald sejenak "Bangun sayang, sudah tidurnya banyak yang mengharapkan kehadiranmu, rumah sakit, anak - anak panti asuhan, banyak yang memerlukan mu nak" ucap kakek agak dengan suara agak bergetar "apa yang kamu risaukan sayang, bilang sama kakek kalau ada masalah, bilang sama Jeong, banyak yang mencintaimu, kakek harap jangan Lama-lama Lala tidur nya, kalau Lala masih merasa cape tidurlah, tapi kakek mohon besok bangunlah... kasian pasien mu nak.. " ucap kakek. Syakila kembali meneteskan air matanya mendengar kakek menyuruhnya bangun. Kakek tahu kalau Syakila pasti mendengar apa yang kakek bicarakan. Kakek merasa sedih dia tidak bisa berbuat apa-apa selain mengajaknya berkomunikasi. kakek Ronald teringat bagaimana semangatnya Syakila dalam merawat kakek dia tidak merasa jijik membersihkan muntahan darah kakek. itu yang tidak pernah kakek lupakan. tanpa sadar kakek juga menitikkan air matanya.


"InsyaAllah lusa kakek jemput Lala, besok sadarlah ya nak.. kasian Jeong... , kakek pulang dulu, kami semua sayang sama Lala" kakek mencium kepala Syakila.


"Jaga Lala baik-baik, kakek pulang dulu, kalau perlu apa, atau ada kabar apa kabari kakek" ucap kakek pada Jeong. "udah jangan nangis, jangan cengeng, Laki-laki harus kuat, yaahh" kakek menyemangati Jeong dan menepuk-nepuk pundak Jeong. Kakek Ronald pun pergi meninggalkan ruangan itu. dan kembali hanya mereka berdua Jeong dan Syakila.


Sore ini banyak yang menjenguk dari rombongan anak anak panti, karyawan pondok makannya dan ibu asuh panti. mereka sedih melihat keadaan Syakila, apalagi Shafa, dia yang paling histeris. memanggil Bunda Lala.


"Bunda,, jangan begini kalau bunda tidur terus siapa lagi tempat Shafa mengadu, Shafa tidak ada lagi siapa-siapa selain bunda dan Marwah. Bunda bangun.. Bunda... " Shafa langsung memeluk Jeong "ayah Jeong, suruh bunda bangun.. " Shafa tak henti-hentinya menangis baju Jeong sampai basah terkena air matanya.


"Bunda dengar kok yang Shafa dibicarakan, bentar lagi bunda Lala bangun, sudah jangan nangis lagi, jelek ah" Jeong menenangkan Shafa padahal hatinya pun terasa teriris melihat Shafa menangis tersedu.

__ADS_1


"Nak Syasa, ini ibu nak, ibu pulang dulu, cepatlah sadar, kasian anak anak panti selalu nanyain kamu" ucap Ibu ida kepala pengasuh panti asuhan. bu Ida pun mencium dahi Syakila. Semua anak anak yang ikut membesuk satu persatu mencium Syakila. Jeong menggendong Marwah yang dari tadi diam saja tidak mengerti apa yang ditangisi orang-orang di dalam ruangan ini. Marwah sibuk makan cemilan yang ada di meja. Yah namanya anak anak.


Ruangan itu sepi lagi tinggallah mereka berdua lagi. Jeong kembali duduk di sebelah Syakila "maafkan aku La, maafkan, bangunlah... kasian anak anak mereka merindukan mu" Jeong mencium pipi Syakila. "kalau marah, marah sama aku, jangan diam saja begini La"


__ADS_2