Cinta Jeong Wibowo

Cinta Jeong Wibowo
** mimpi **


__ADS_3

Hari ini hari ke lima Syakila tidur panjang. Keluarga besar Shanum datang menjenguk. Ada ayah, bunda, bang Jack dan Shanum. Rencananya Reza datang agak siangan langsung dari kantor. Bunda membawa buah mangga kesukaan Syakila.


"Assalamu'alaikum" sapa bunda pada Syakila, yang di sapa tetap diam.


"Waalaikumsalam" jawab Jeong.


Bunda mendekati Syakila "anak gadis bunda ih.. kok jadi males gini ya? gak mandi-mandi, gak gosok gigi, gak malu apa sama nak Jeong" ledek bunda, Jeong hanya tersenyum.


"tetep cantik kok bun, kan dibersihin terus sama mbak suster" jawab Jeong lembut. Jeong duduk menemani ayah Bara sedangkan bunda dan Shanum mengupas mangga yang mereka bawa.


Bang Jack tetap diam duduk di samping Syakila. Dia terdiam tak menyangka gadis seperiang Syakila bisa jadi begini "Sya, ini bang Jack" bang Jack meraih tangan Syakila "Abang sengaja pulang untuk nengok Syasa, kenapa jadi begini Syaa bangunlah" kata bang Jack. Syakila tetap diam, tidur dengan tenangnya. Mereka berdua memang sangat akrab, dulu bunda sempat mau menjodohkan mereka berdua, namun Syakila menolak karena dia udah sangat berterima kasih dapat abang, dapet adek, dapet bunda dan ayah di rumah Shanum. Bang Jack duduk di sebelah Jeong.


Berganti Shanum yang mendekati Syakila "Hai ante Syasa.. apa kabarnya hari ini, masih gak mau bangun?" ucap Shanum sambil tersenyum sedih.


"Num, katanya mau sekalian periksa kehamilan?" tanya bunda dari sofa


"Iya nanti tunggu mas Reza dulu bun, katanya dia ingin ikut" jawab Shanum.


"Syaa, kok betah banget sih bobonya..?" Shanum diam sejenak "Kalau tau jadi begini mending kita berdua aja yang diculik kita bisa terjun ke sungai bareng bareng, berenang bareng, bobo disini pun bersebelahan jadi kamu gak sendirian" Shanum menarik napas panjang.


"Syaa.. kamu tau gak yang nyulik kita siapa? Dia adalah mantannya mas Reza, mas Reza udah lapor sama polisi, tapi status Mayang sekarang masih buron, dia pergi keluar negeri, polisi belum bisa melacaknya" Shanum kembali diam "Sya kamu tau gak sebenarnya aku takut banget, takut dia masih berada di sekeliling kita... " Shanum mendesah menghilangkan kecemasan nya.

__ADS_1


"kamu sya suruh aku jagain keponakanmu tapi kamu gak ikut menjaga... kamu asik tidur aja, sungguh sya aku sangat takut... takut" tiba tiba Shanum memegang perut nya "aduh bun,, perut Shanum sakit bun.. " Shanum meringis menahan sakit. "Bun... bun... bun.. " Shanum memanggil bunda.


Bunda dengan cepat mendekat "Shanum ada apa?" teriak bunda. Shanum terus meringis, Jeong dan bang Jack mendekat. Mereka heboh "yah ambilkan kursi roda di depan kamar, ayo kita ke bagian poli kandungan" ucap bunda, dengan cepat shanum di dudukan ke kursi roda dan di dorong keluar


"SHANUM... " teriak Syakila, dia membuka matanya dengan napas terenggah seperti orang yang habis berlari. Jeong cepat mendekat, bang Jack lapor dokter jaga, Shanum dan bunda terhenti berjalan "Syasa sadar bun,, " Shanum menangis, hilang sudah rasa nyeri itu, shanum mendekat di dorong bunda,


"Syaa" Shanum menggenggam tangan Syakila


"Num,,, kenapa kamu pake kursi roda??" tanya Syakila dan di balas shanum dengan senyuman. Dokter Hermawan pun datang dan memeriksa keadaan Syakila.


**


Aku tidak bisa apa apa dengan posisi ini, hanya pasrah turun ke bawah, dan tenggelam.


Aku tersadar namun tak kuasa untuk bergerak keadaanku sangat lemah dan dingin. Setelah Mayang datang marah marah dia mendorongku sampai terjatuh berserta kursi yang terikat di tubuh ku, kemudian mereka menyiramku dengan dua ember air.


"Jeong" panggil ku lemah


"ada apa" jawab Jeong


"dingin" ucap ku pelan, Jeong memelukku dan mengusapkan minyak kayu putih.

__ADS_1


Sampai di rumah sakit aku tak tau apa apa lagi, aku merasa lemah dan dingin sekali hingga aku tak sadarkan diri.


Dalam tidur ku aku merasa berada di suatu lorong yang sangat panjang, panjang sekali hingga aku berjalan tak sampai sampai.


"Sya,, Syakila.. " aku mendengar ada yang memanggilku, suaranya tak asing bagiku. Aku lihat itu kakekku, dia mengenaknan pakaian yang sama dengan ku pakaian serba putih.


"kakekkk...." aku memanggilnya, namun semakin aku mendekat semakin kakek menjauh, lalu berhenti "Keekkk" jerit ku


"Sya, ngapain kamu disini nak? ini bukan tempatmu, pulanglah... " kakek menyuruhku pulang


"tapi Syasa ingin bersama kakek" tangisku seperti anak kecil yang ingin sesuatu.


"tidak nak, pulanglah!!! kakek bahagia disini, Syasa pulanglah dulu.... kamu ikuti saja jalan ini" ucap kakek menunjukkan jalan sambil tersenyum. Lalu kakek menghilang, semua terasa gelap yang terang hanya jalan panjang di depan. Aku mengikuti saran kakekku untuk mengikuti jalan ini.


Aku melihat di sisi jalan terlihat seorang laki-laki duduk disamping orang yang tidur seperti bangsal rumah sakit. aku berhenti berjalan dan menghampiri pria itu, setelah aku sadar pria itu adalah Jeong. Iya dia Jeong, dia sedang menangisi orang yang sedang tidur di sampingnya itu, heehmm pasti Jeong sedang menangisi perempuan itu, wanita yang Akhir-akhir ini mènemaninya, ya dia pasti Selly. aku tak kuasa mendekat hatiku terasa sangat sakit. aku menjauh pergi.


"La lala maafkan aku" aku mendengar tangisan Jeong, dia menyebut namaku, aku tak percaya aku menggelengkan kepala ku, aku gak mau melihat siapa wanita itu aku terus berlari dan terus berlari menjauh, sepanjang perjalanan ku, aku melihat kakek Ronald, dia tersenyum kepada ku. Lalu aku melihat bunda, bunda tersenyum tapi senyuman nya mengandung kesedihan yang mendalam "bunndaaa" aku memanggil bunda namun entah mengapa suara ku tidak keluar dari mulut ini. aku menangis dan berlari lagi.


Aku berjalan cepat ku lihat ada Jeong lagi dengan keadaan yang sama menangisi seorang wanita yang tidur di bangsal rumah sakit, kali ini aku melihat dari sisi yang berbeda "tidak mungkin" ucapku tidak percaya, wanita yang sedang tidur itu aku, tidak mungkin... ku lihat Jeong menangis, tidak mungkin itu bukan aku... aku berlari lagi.


Sampai di sisi jalan itu lagi ku lihat Shanum sedang berlari tak beraturan, dia berlari kesana dan kemari seperti orang kebingungan. wajahnya terlihat cemas. apa yang terjadi, dia menangis. Yah ku lihat Shanum menangis dia menangis sampai tersedu-sedu. ku lihat dia meremas perutnya, kenapa perutnya, Shanum sakit!! tidak aku ingat dia sedang hamil. Oh ya Allah tolong dia ya Allah lindungi keduanya aku berlari dan mendekat. Shanum meringis menahan sakit. "SHANUM" aku berteriak sekuat tenaga ku

__ADS_1


__ADS_2