Cinta Jeong Wibowo

Cinta Jeong Wibowo
** mungkin sama seperti aku **


__ADS_3

*


Langit masih terang ketika kami sudah sampai di rumah Syakila. Rumah sederhana yang sangat asri. Di halaman depan ada pohon kelengkeng dan pohon rambutan, di bagian pinggir pagar terdapat bunga mawar beraneka warna, terlihat cantik bermekaran, dan tercium wangi aroma khas nya. Aku menuju sisi samping kiri halaman rumah itu ada sebuah kolam ukuran 3x6 meter, ku lihat tidak ada ikannya bearti kolam renang, mini sekali sesuai dengan pemiliknya. Di pojokan ada pohon mangga dan jambu, ohh ada sebuah ayunan, aku sebentar duduk di sana. Aku kembali menelusuri sisi belakang banyak sekali koleksi bunga anggrek yang sangat subur dan terawat "kakek pasti senang sekali melihat koleksi bunga anggrek nya".


Ketika kami sampai dia langsung masuk rumah sedang aku memilih mengelilingi halaman rumah tersebut. Aku masuk lewat pintu samping yang terhubung langsung dengan ruang keluarga dan dapur. Saat aku masuk bertepatan dengan Syakila keluar dari kamarnya, penampilannya sudah bersih dan segar.


"Eh, masih disini?" Dia terkejut melihat ku, mungkin dikiranya aku sudah pulang, aku tersenyum. Aku tidak pernah bermuka badak seperti ini, berkunjung ke rumah seseorang hanya didiamkan saja tapi aku tetap disini. Aku mengekor melihat dia menuju dapur.


"La, aku laper? kau masak apa?" keluh ku, dia diam saja malah pergi ke kamar mengambil sebuah handuk dan diberikan kepadaku.


"kita makan di luar? " tanyaku lagi


"Mandilah dulu" dengan datar, apa dia masih marah. Ku ambil handuknya dan aku membersihkan diri di kamar satunya. Selesai mandi aku keluar


"La, itu tadi kamar siapa? " tanyaku basa-basi


"Kamar siapapun yang datang bertamu" aku mengangguk-angguk mendengar jawabannya.


Dia sedang ada di dapur berkutat dengan kompor dan panci, aku duduk memperhatikan di meja makan


"Ada yang bisa aku bantu? " tanyaku mencairkan suasana, dia masih diam saja, lama juga ya ngambeknya.


Beberapa masakan sudah dia sajikan, ada rendang, ada tempe tahu goreng, ada sayuran yang direbus, ada timun yang dipotong-potong, ada sambal.


"Maaf, jika tidak sesuai dengan selera mu" hatiku langsung tercekat, dia masih marah, aku diam.


Syakila memberikan sebuah piring, aku mulai mengambil nasi dan lauk pauk, enak, masakannya sangat enak bahkan tahu tempe goreng terasa gurih sekali. Tanpa malu aku menambahkan nasi


"Tidak apa kan aku nambah? " lagi lagi tidak ada jawaban. Dia makannya sedikit sekali, dan senang sekali menghabiskan sayur dicocol sama sambal, apa dia diet, tapi badannya hanya seuprit apalagi yang akan didietkan.


Selesai makan ku letakkan piringku kebelakang


"Biar aku saja yang bereskan" katanya sedikit berteriak. Memang sebenarnya aku cuma mau meletakkan disana aja. Kikuk juga ya jika tuan rumah nya ngambek, tapi entah mengapa masih saja aku betah disini. Aku duduk di sofa ruang tengah dan memainkan hpku.


"makan kali ini 300ribu" dia masih dengan datarnya. Aku mengeluarkan uang di dompetku 5 lembar uang ratusan. Kusodorkan kepadanya


"cuma 300" Dia tidak mengambil yang 2 lembar


"tidak apa" kataku dengan lembut. Kami duduk bersebelahan tapi sama-sama diam memainkan HP masing-masing. aku chat dia


*La, maaf ya, jangan lama-lama dong ngambeknya?? "🙏🙏🙏


dia tidak membalas hanya terdengar tarikan napas panjang, apa aku sudah keterlaluan sekali?? Dia masuk kamar dan keluar dengan membawa sajadah, karena memang bersamaan terdengar adzan maghrib.


"ni, kalau mau sholat" terdengar suaranya sudah sedikit ramah,

__ADS_1


"kita berjama'ah lagi? " tanyaku


"boleh" dia berlalu menyiapkan tempat


Kami melaksanakan sholat maghrib berjama'ah. selesai sholat,


"maaf ya" aku mengulurkan tangan ku, di sambutnya dengan meletakkan punggung tanganku ke dahinya. AAAH AKU JADI BAPER


**


Kami tiba di istana ku. Aku langsung masuk kamar tanpa memperdulikan Jeong. Setelah selesai aku keluar, aku terkejut Jeong masih disini "kenapa dia belum pulang, males aekali, orang lagi ngambek kok malah melihat wajahnya disini" omel ku. Aku diam aja, dia mau apa aku diam aja, males ngomong, nanti ribut lagi. Dia bilang laper, terpaksa ku siapkan, karena memang dari siang tadi ku ingat-ingat dia cuma menghabiskan makana ringan aja.


Aku meminta bayaran atas masakanku dengan jutek. Dia memberikan lebih tapi ku ambil yang ku minta aja. Tapi sisanya tidak juga dimasukkan di dompetnya tetap terletak diatas meja "Dia kira aku akan luluh karena duit, anda salah"


Terdengar suara adzab dengan ragu aku menawarkan sholat, dia mengusulkan sholat berjamaah. ini kedua kalinya kami melaksanakan shalat berjamaah bersama. Selesai sholat dia langsung menghadap ke belakang, menghadap ku


"maaf ya" katanya, SUER berani disamber geledek dia keren sekali saat tiba-tiba berbalik dan bilang maaf. Dengan reflek aku tersenyum dan meletakkan punggung tangannya ke dahiku. Dia menyentuh kepalaku. ahh aku jadi melooowww.


***


"Jam berapa ke rumah sakit" tanya Jeong ketika Syakila melipat mukenah dan sajadah


"Sekarang, abis ini kita langsung aja" jawab Syakila.


mobil meluncur meninggalkan komplek perumahan dan menuju ke rumah sakit Teratai Medica.


"tidak, aku akan membelikan mereka yang di Teratai mungkin ada yang belum sempat makan, tidak apa kan aku beli dengan duit mu tadi" Syakila menunjukkan 5 lembar duit Jeong tadi. Jeong tersenyum. Setelah ada Rumah makan mereka mampir dan membeli 15 atau 20 nasi kotak. Mereka melanjutkan lagi perjalanan.


Setibanya di Teratai Medica, aku langsung menyuruh Mira membagikan nasi kotak yang kami bawa kepada para korban atau keluarga korban yang masih duduk di sekitaran ruang operasi


"banyak banget dok?" tanya Mira


"Tuh ada bos yang traktir" kata Syakila, Jeong menyenggol lengan Syakila


"bukan Sus, bukan saya, ini Lala kok yang beli" Jeong tidak mau diatas namakan "La, boleh aku temeni kamu disini? " tanya Jeong


"operasinya lama, ada 3 pasien lagi, enggak pa pa nunggu disini nanti kamu bosen? " tanya Syakila ragu pasalnya operasi itu lama.


" enggak pa pa, aku tunggu disana aja" Jeong menunjuk kursi tunggu di sebelah 2 gadis kecil. Syakila tersenyum dan masuk ruang operasi.


Pintu ruang operasi terbuka, ku lihat Jeong sibuk maen Hape


"Jeong, kalau mau istirahat di ruangan ku aja? " kata Syakila.


"enggak pa pa" Jeong menatap lembut pada Syakila, Syakila duduk di sebelah Jeong.

__ADS_1


"cape..? " Syakila menggelengkan kepada dan tersenyum.


"aku masuk lagi ya" pamit Syakila. Jeong kembali sibuk dengan handphonenya dia mengecek pekerjaannya untuk esok pagi.


Selang tiga jam pintu ruang operasi kembali terbuka, Syakila kembali menghampiri Jeong, dia kembali melihat 2gadis kecil itu tak sengaja tertidur. Syakila duduk di sebelah Jeong, Jeong menepuk bahunya menyuruh Syakila menyandarkan kepalanya, namun Syakila menggelengkan kepala dan bangkit


" masih ada satu lagi. Jeong, aku minta kau tolong tanyakan apa yang terjadi dengan kedua anak ini, dari tadi ku lihat mereka cuma berdua tidak didampingi keluarganya. " Jeong pun mengangguk tanda mengerti.


Sekitar jam dua belasan Syakila keluar dari ruang operasi dia melihat Jeong dan kedua gadis kecil itu, di samping mereka banyak sekali cemilan, roti, susu, coklat.


"Hai, cantik, kakak namanya siapa?" sapa Syakila sambil kenalan


"Shafa, dok" senyum si kakak yang kira-kira berumur enam tahun


"Lalu, adek yang cantik ini namanya siapa? " tanya


Syakila pada satunya yang berumur dua tahunan.


"Mawaah.." jawab si adek


Syakila duduk di sebelah Jeong


"bagaimana? " tanya Syakila menatap Jeong


"Keduanya anak dari korban yang meninggal di tempat kejadian" Jeong sedikit berbisik di telinga Syakila.


**


Aku diam tak berkata hanya terus menatap Jeong, tanpa sadar air mata ini mengalir jatuh ke pipi.


"ada apa? " tanya Jeong


Aku teringat diriku yang dulu, 23 tahun yang lalu mungkin seperti inilah kondisiku. Air mata terus tak bisa ku bendung, dengan reflek ku peluk Jeong


"Ada apa? kau tak boleh begini, kau harus kuat, jaga emosi mu, banyak orang bergantung pada mu, jika kau lemah bagaimana kau membantu mereka" Jeong mengusap rambut ku, dia berusaha menenangkan ku. Aku melepas pelukanku


"Jeong, 23 tahun yang lalu mungkin seperti inilah yang ku alami, aku tidak tau, apa aku tersesat, diculik orang, hilang, atau seperti mereka... Jeong.... " aku kembali memeluknya.


"Sudah, jangan menangis di depan mereka" Lagi-lagi Jeong menenangkan ku.


"jadi bagaimana? " tanya Jeong lagi ketika melihat ku sudah mulai tenang.


"kita bawa ke rumah dulu, nanti aku hubungi pak Robi, laporan bahwa mereka bersama kita" jelas ku


Setelah membujuk kedua gadis kecil ini kami pulang ke rumah ku

__ADS_1


"aku langsung pamit, tidak apa kan? " aku mengangguk, dia tidak turun lagi, dan Jeong langsung memutar mobilnya pulang.


__ADS_2