
Akhir-akhir ini tidak tau mengapa aku sangat bergantung pada Syakila. Sudah seminggu ini makan saja aku selalu di rumahnya. Aku merasa nyaman berada di rumah mungil itu. Syakila benar lebih enak tinggal di perumahan dari pada di apartemen mewah.Sebenarnya aku hanya mengelak. Rumah mungil itu terasa nyaman karena ada Syakila, makanan sederhana itu terasa nikmat sekali karena dia yang masak, antar jemput dia terasa ringan karena bisa melihat dia tersenyum, bicara, ngambek bahkan dia marah sekalipun aku terima dengan sabar karena ada dia.
Siang ini aku masih ada di kantor. Reza sedang melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri jadi selama kepergian Reza segala tanggung jawab dilimpahkan kepadaku, namun masih dengan koordinasi dengan Reza via telpon.
Masalah Shafa dan Marwah telah diurus, mereka terlihat betah di sana, dengan banyak teman dapat menghibur dan sedikit menghilangkan trauma dihati Shafa. Dan aku juga baru tahu kalau rupanya panti asuhan itu punya usaha yang di buat Syakila. Ya, dia membuka toko pakaian dan pondok makan, yang berisikan karyawan dari anak anak panti yang sudah remaja. Syakila membuat usaha itu supaya panti jadi mandiri, supaya kebutuhan panti sehari-hari dapat di penuhi dan tidak mengandalkan dana dari donatur. Keuntungan usaha itu dibagi tiga oleh Syakila, yang pertama untuk karyawan, untuk panti dan terakhir untuknya sendiri sebagai pemilik usaha.
drrtt.. drrtt.. drrtt...
Handphone ku bergetar, ku harap Syakila yang menghubungi, namun itu memang cuma harapan Syakila tidak pernah menghubungi aku terlebih dahulu katanya sebelum dia mau telpon aku udah telpon duluan, apa aku terlalu agresif ya?
"ya.. "
"tidak kah kau senang aku menelpon? "
"ada apa? "
"dasar cucu durhaka!! "
"katakan!! "
"aku ingin kenalan dengan dokter itu!!! "
"jangan ganggu dia!! "
"Hahahhhhaaa.... "
"ku katakan jangan sentuh DIA!!!! "
"besok aku tunggu jam 7 malam"
Jeong melempar majalah yang ada di depannya. Kesal, rupanya selama ini kakeknya selalu mengawasinya. " awas kalau mereka macam-macam dengan Syakila.. " Jeong menggenggam tangan nya dengan kuat. Banyak pertanyaan yang Menari-nari di kepalanya kenapa kakeknya itu ingin menemui Syakila. Jeong melirik jam tangannya "sudah pukul 5 sore" gumamnya "Syakila udah mau pulang" Jeong menekan tombol di handphone nya
"dimana? "
"assalamualaikum"
"waalaikumsalam, dimana? "
"masih di rumah sakit.. "
"udah mau pulang? "
"bentar lagi"
"aku tunggu di luar ya.. "
Handphone ku matikan. Setelah mendengar suara nya marah ku sedikit mereda. Sudah waktunya pulang, aku langsung keluar kantor dan menjemputnya.
***
Syakila menunggu di depan halte bus, setelah Jeong menelpon dia langsung bergegas keluar rumah sakit menemui Jeong, dia tidak mau di bilang LELET, LAMBAT, SIPUT DARAT. yah, Jeong sering Meledeknya seperti itu. Lama Syakila menunggu hampir setengah jam untung ada Mira yang menemaninya.
Klakson mobil Jeong pun berhenti. Syakila menuju mobil, lalu masuk
__ADS_1
"udah lama nunggu? " Jeong mengawali pembicaraan
"maaf ya udah buat nunggu.. " Syakila masih tetap diam. dia males untuk berdebat, nanti ujung-ujungnya sakit hati, nangis.
"maaf ya.. " Jeong bukan tipe orang pembujuk, dia bingung "tadi abis telpon kamu aku langsung kesini kok gak mampir kemana-mana" jelas Jeong.
" abis ditelpon kamu juga aku langsung keluar, males diledek siput darat melulu" Jeong mengacak-acak rambut Syakila "maaf ya" Syakila diam aja menengok kesamping.
Sampailah mereka di salah satu mall terbesar di kota ini.
"Ayo turun" Jeong membukakan pintu Syakila. Syakila bingung "sok manis kali? " pikir Syakila.
Jeong menarik dan menggenggam tangan Syakila dengan lembut. Syakila hanya diam saja
"temeni aku ya, ada yang ingin aku beli" Syakila diam saja, dia hanya menikmati genggaman tangan Jeong. Entah apa yang dirasakan Syakila, dia merasa hangat dan nyaman, merasa terlindungi. dan marah nya terlupakan.
Mereka menuju ke sebuah butik.
"ada yang bisa saya bantu, tuan, nona? " sapa pelayan
"mbak, tolong cari gaun yang cantik untuk nona ini, tapi yang sopan aja mbak, jangan terlalu terbuka" Jeong melepaskan genggaman nya "La, pilihlah, aku menunggu di sini" pinta Jeong.
Syakila mengekori pelayan tersebut, dia melihat-lihat gaun gaun yang ada di situ, cantik cantik, bagus, namun harganya mahal-mahal sekali paling murah 4 jutaan.
Syakila menghampiri Jeong "sudah dapat? " tanya Jeong.
Syakila menggeleng "enggak jadi, mahal mahal Jeong" ucap Syakila berbisik pada Jeong.
Jeong tersenyum "tidak apa, pilih lah" ucap Jeong
"di coba dulu aja nona, siapa tahu ada yang cocok? "
ajak pelayan tersebut, Jeong mengangguk tanda setuju. Syakila mencoba satu per satu gaun tersebut, terlihat cantik dan pas dengan ukuran badan Syakila.
"ambil semua aja mbak" jawab Jeong sambil menyodorkan sebuah kartu pada pelayan teraebut.
"Jeong, satu aja? " bujuk Syakila lembut
"tidak apa, biar kamu enggak ngambek lagi" ucap Jeong lembut dan tersenyum pada Syakila.
"aku gak ngambek lagi" Syakila memamerkan senyuman termanis nya "tapi satu aja" pintanya lagi
" ayo ahh " Jeong berdiri. mengulurkan tangannya, dengar malu Syakila menyambut dan langsung digenggam Jeong. Mereka menuju toko sepatu, beli sendal dan sepatu, beli dompet, beli satu set perhiasan. banyak yang dibeli Jeong dan semua ini membuat Syakila tidak nyaman dan Jeong tahu soal itu. Mereka mampir ke sebuah cafe, makan dengan diam.
**
Jeong, dia selalu memaksa apa yang dia ingin. Ingin ini ingin itu, mau minum kopi, sarapan bubur ayam, ingin jemput, ditemani kesini kesitu, seakan dunia ku ini cepat sekali berputar. hari ini dia ingin menjemput ku, biasanya kalau dia telpon berarti dia sudah ada di depan, cepat-cepat aku keluar ternyata aku sampai menunggu setengah jam, untung ada Mira, jadi tidak seperti orang ilang aku di halte bus.
Kami ke mall, aku ikuti, ke butik membeli banyak baju yang aku tidak suka harganya masih tetap ku turuti, beli sepatu, beli sendal, dompet, perhiasan. Aku diam, diam kesal, untuk apa dia hamburkan uangnya untuk urusan yang enggak penting. enggak penting karena aku tidak butuh dengan semua ini.
Kami makan di cafe yang ada di mall ini juga. Aku diam tidak berselera makan.
Dia menyentuh tanganku "Ada apa? " tanya nya lembut entah dia makan apa hari ini terlihat mellow sekali apa karena dia makan mashmello ya.
__ADS_1
aku menarik tangan ku dan menggelengkan kepala.
"kenapa? aku salah lagi? katakan? " ucap Jeong
aku menarik napas, "untuk apa semua ini? " tanyaku
dia tersenyum "kakek ingin kenalan denganmu besok" harusnya aku senang dengan apa yang kudengar, aku akan dikenalkan dengan keluarganya. Namun yang dipikiranku saat ini bukan itu
"kenapa? kamu malu dengan apa yang kupakai? kamu dengan yang kupunya? ucapku lembut juga, aku harus mengontrol emosi ku ini di tempat umum.
"bukan itu La" dia kembali menggenggam tangan ku
"dengar, aku ingin yang terbaik untuk mu" ucapnya
"kamu ingin aku jadi Cinderella? " aku udah menahan sesak, aku tidak bisa marah sebenarnya, jika aku marah aku diam, kalau udah kelewat marah aku nangis.
"bukan, bukan itu, dengar.. " sebelum dia melanjutkan perkataannya
"Jeong... " dua wanita cantik bak model datang menghampiri Jeong dan mencium pipi kanan dan kirinya. aku diam. entah apa yang mereka bicarakan aku tidak peduli. aku berfikir inilah dunia dia, eksekutif muda yang dikelilingi wanita-wanita cantik dan seksi. setelah say hello nya selesai kedua wanita itu menatapku dengan sinis. lalu mereka pergi meninggalkan kami.
"La, mereka hanya patner kerja, biasanya kami bekerjasama untuk membuat produk iklan" jelas Jeong.
"Jeong, harusnya kamu membawa mereka bertemu kakek, bukan aku? " aku diam "ajaklah mereka, besok aku sibuk" tolak ku
"La, aku mohon kali ini aja, kakek hanya ingin bertemu dengan mu? " mohonnnya
"aku tidak bisa, bawalah barang-barang itu! " aku harus tegas aku gak mau diperdaya. dia diam
"ayo kita pulang? " ajaknya lembut. aku langsung berdiri.
kami diam, dia tetap menggenggam tangan ku, rasa sesak, aku menghapus air mata yang belum sempat jatuh, rasanya diri ini rendah sekali.
*
Dia bukan wanita kebanyakan yang silau dengan harta, dia juga wanita yang punya harga diri yang tinggi. Bagaimana aku menjelaskan padanya soal kakek. Aku tidak pernah memandang rendah dirinya, bahkan aku sangat kagum padanya, aku hanya tidak ingin dia direndahkan orang lain di depan mataku.
Aku menghentikan mobilku di sebuah taman.
"aku ingin pulang" tidak pernah dia sekeras kepala ini, biasanya dia selalu menuruti keinginan ku.
"baik" tegas ku. kami kembali diam.
Sesampainya di rumah dia langsung masuk, aku mengikutkan dari belakang. aku duduk di sofa ku tarik tangan nya supaya dia duduk juga, namun tenaga kuat juga "ku mohon duduklah dulu" Syakila pun duduk
"apa salah jika kakek ingin berkenalan denganmu, aku tidak pernah dekat dengan siapapun" aku diam
"apa salah jika aku ingin kamu nampak lebih cantik di depan keluarga ku" aku memandangi dia yang menundukkan kepalanya ku lihat dia sudah menangis.
"maaf kan aku" aku memeluknya, tangis nya malah semakin pecah dengan bergetarnya bahu nya.
"maafkan aku" aku mengulangi permohonan ku"aku hanya tidak kami ingin di rendahkan di hadapanku" nampaknya tangisnya sudah mulai reda "ayo kita makan lagi, tadi makan ku sedikit sekali, kamu masak apa?" aku mencoba mencairkan suasana. Dia tetap diam
"masih marah? " tanyaku, dia menggeleng kan kepala mungkin amarahnya sudah keluar dengan tangis nya.
__ADS_1
"kali ini aku yang masak, kamu diam saja di sini sebagai juri penilai saja oke" aku mengacungkan jempol, ku lihat dia sudah tersenyum. aku mengacak-acak rambutnya.