Cinta Jeong Wibowo

Cinta Jeong Wibowo
** tamu dini hari **


__ADS_3

**


Malam ini aku tak bisa tidur entahlah sangat gelisah, aku duduk di tepi tempat tidur Shafa dan Marwah. Ku pandangi kedua gadis ini mereka tertidur dengan lelap, mungkin terasa cape dengan kejadian hari ini. Aku ke dapur mengambil segelas air lalu duduk di meja makan.


Pelan terdengar suara mobil berhenti di depan rumahku. Aku mengintip dari balik tirai. Ternyata mobil Jeong. Mungkin ada yang ketinggalan, itu dugaan ku. Aku membukakan pintu, Jeong masuk, nampak lusuh penuh peluh dan debu, jas itu kotor, terlihat luka di pelipis matanya, dan lagi jas di bahu kanan bagian atas sobek terlihat darah dari sobekan tersebut. Bau darah sangat menyengat.


"Jeong.... " aku tidak percaya, tadi dia baik-baik saja, air mata mengalir sendiri " ada apa... " suara ku tercekat. Jeong menarik tangan ku mengajak masuk ke ruang tengah.


"Kita ke rumah sakit" ajak ku


"Tidak, tidak bisa, aku ingin disini aja, bisakah kau merawat ku.. " air mata ku tambah mengalir deras.


"Ku mohon jangan menangis, aku tidak Apa-apa" Jeong memohon.


Ku ajak Jeong masuk ke kamar ku, aku menyuruh Jeong membuka jas nya. Kami duduk di pinggiran tempat tidur ku. Aku menggunting baju dalamnya. Ku bersihkan luka nya, cukup dalam dan lebar, aku mulai mengobati, dan menjahit luka itu, lalu ku tutup dengan perban. Aku membersihkan darah yang masih ketinggalan di badan nya, debu yang ada di wajahnya pun aku bersihkan, aku menyuruhnya merebahkan tubuhnya di tempat tidur ini supaya aku bisa dengan mudah membersihkan wajahnya dan mengobati luka kecil yang ada di pelipis matanya.


*


Sudah beberapa hari ini mobil hitam itu selalu mengikuti ku, mungkin malam ini malam naas bagi ku. Kami terlibat perkelahian, dan aku terluka, aku tidak tahu apa motif para preman bayaran itu, setelah melihat aku terluka, mereka pergi meninggalkan aku. Tidak ada tujuan lain selain ke rumah Syakila. Dia membukakan pintu sebelum aku mengetuknya. Apakah dia belum tidur? Dia sangat terkejut melihat keadaan ku, Syakila menangis, dia mengkhawatirkan ku, sebenarnya aku senang sekali melihat dia mengkhawatirkan ku. Tapi, aku diam saja, dia membersihkan dan menjahit luka ku


"Mau kemana?" Syakila beranjak mau pergi


"Aku ingin mengambilkan mu makan, nanti setelah itu minum obat" perintahnya dengan lembut. Terasa sangat lelah aku memejamkan mataku. Syakila kembali dengan membawa nampan berisi sepiring nasi dan segelas air. Shafa mengekor di belakangnya, ternyata anak itu terbangun. Syakila meninggikan bantal di kepalaku.


"Aku duduk saja, boleh? " tanyaku, Syakila tersenyum


"makan sendiri bisa? " tanya Syakila, aku menggeleng


"Mana ada orang sakit makan sendiri" jawabku, Shafa tertawa


"Om Jeong manja ya ante" anak itu meledekku, aku hanya tersenyum


"Om Jeong sedang sakit sayang" bela Syakila.


Aku ingin sakit terus aja biar dia selalu di dekat ku dan merawat ku. Syakila memberikan obat dan segelas air


"Obat apa itu ante? " tanya Shafa


"Ini paracetamol sayang, biasanya om Jeong akan demam, nah ini untuk menurunkan demamnya" dia memberi obat lagi "ini antibiotik, untuk membunuh kuman yang sudah masuk ke dalam luka om Jeong, biar lukanya cepat sembuh" jelas Syakila, aku tidak tahu kalau dia pecinta anak-anak juga, Shafa memperhatikan penjelasan Syakila "dan yang ini suplemen penambah darah, karena om Jeong tadi banyak mengeluarkan darah" dia menatapku


"makasih ya sayang" kataku menggodanya, dia menaikkan alisnya "sayang..??? " tanyanya bingung

__ADS_1


"tadi panggil shafa sayang, masa aku gak boleh panggil kamu sayang? " ekspresi nya bingung


"iih om Jeong genit, panggil-panggil ante sayang" Shafa sewot.


"Shafa temeni om Jeong tidur disini ya" dia membenarkan posisi selimut mu, aku menarik tangannya " temeni aku" pinta ku, aku senang menggodanya


"aku akan menemani Marwah" elaknya


"Marwah bawa sini aja, om akan tenang kalau ada dokter disini iya kan Fa? " aku mencari dukungan


"iya biar rame" shafa kegirangan


"tempatnya gak muat, udah ah kamu kayak anak kecil aja, sudah, tidur, besok kita mau ke rumah sakit" Syakila seperti emak-emak yang menyuruh anaknya tidur


"biasanya cium dulu ya Fa?" aku memprovokasi Shafa


"Tidak ada cium-cium!! sudah ah" Syakila meninggalkan kami, kami berdua tertawa.


"Ayo tidur" perintah ku


**


Jeong sudah bangun, sudah mandi, dia kesulitan mengenakan kemeja putih nya.


"Jangan banyak gerak dulu, tadi kena air gak? " tanya ku cerewet.


"tidak bu dokter.. " kata Jeong meledek ku


"jangan dipaksa kan kalau masih sakit" aku membantu Jeong memakai baju, memakai dasi dan memakaikannya jas.


"ayo sarapan" ajak ku, dia mulai mengacak-acak rambut ku, heran suka sekali dia begitu.


Kami sarapan. Ku sajikan semangkuk bubur ayam di hadapannya


"beli? " tanyanya, sambil memasukkan sesendok bubur


"tidak, buat sendiri kok, gak enak ya? " tanya ku


"enak, kayak yang jual jual itu" puji nya


"masa sih?? tuh kasir di pinggir pintu depan" ledek ku

__ADS_1


"Tidak ada hal yang ingin kamu ceritakan tentang semalam" sambung ku


"Tentang apa? sayang? apa cium? " dia menggodaku, aku sudah memerah kayak udang rebus


"Anteee... " untunglah dua bocah itu datang


" ehh baju baru lagi, banyak betul baju baru nya? " tanyaku mengalihkan pembicaraan kami tadi


"ante gak marah, om Jeong yang belikan kami baju" cemas Shafa.


"kenapa harus marah? " aku bingung


"nanti duit om Jeong abis" anak-anak memang tidak bisa ditebak pikirannya


"duit om Jeong banyak Shafa, enggak akan habis" jawabku


"karena itu ante sayang sama om Jeong" celetuk Shafa


"heee, itu, ante mau ganti baju dulu, nanti kita mau ke rumah sakit" aku pergi melarikan diri dengan muka memerah. "SHAFA.. KAMU BIKIN MALU AJA" itu kalimat yang ku teriakkan dalam hati. Aku ganti baju bersiap ke rumah sakit, terdengar suara chat di hpku


*La, aku berangkat, supir sudah jemput,


*Terima kasih ya, pertolongannya, perhatian nya, masakannya


*huuh pagi ini tidak bisa mengacak-acak rambutmu


*ada yang bersembunyi di dalam kamar


*aku meninggalkan uang untuk belanja di meja makan, kalau tidak cukup nanti ditambah lagi, uang cas ku habis


Aku tersenyum membaca chat dari Jeong


**tidak usah membayar, aku tulus membantu


**jangan banyak gerak, jangan di paksakan, Reza juga pasti mengerti


Dia memang pekerja keras


*jangan cerita sama Shanum atau Reza, aku gak mau mereka cemas.


Kami pergi bertiga ke rumah sakit

__ADS_1


__ADS_2