
Sementara itu Tom yang membawa pulang Mira dibuat panas dingin oleh kelakukan Mira. karena pengaruh obat, Mira merasa panas luar biasa, dia merasa gerah dan ingin membuka pakaiannya, padahal mereka masih berada di dalam mobil.
"Mir, hentikan jangan begini!! ucap nya lembut
" pak, ke hotel terdekat saja!" perintah Tom pada sang sopir.
Tom bingung mau di gimanain di Mira ini, Mira terus menempel dan membuka pakaiannya.
Sreaaak.. gaun cantik itu sobek di bagian depannya, terpampang lah bagian dada Mira. Buah ranum itu belum sempat keluar namun posisinya masih mengintil cantik dalam bungkusnya.
Glleekk.. Tom menelan air ludah nya, dia segera melepas jas nya dan di berikan pada Mira.
Sesampainya di hotel Tom dengan buru buru menuju kamar mandi dengan niat merendam Mira supaya merasa sejuk.
Tom merebahkan Mira dan menceburkan ke bathtub. Mira kaget namun tetap pegangan pada leher Tom tak mau lepas.
Tom kewalahan dengan tubuh basah keduanya baik Mira ataupun juga Tom. Mira tetap memeluk Tom bahkan sekarang mencium dan melukis wajah dan telinga Tom dengan lidah nakalnya.
"Mira,, hentikan.. aku mohon" Tom memohon pada orang yang sudah dikuasai khayalan tinggi
"tuan.. tolong saya, tolong saya ini sangat menyakitkan.. " ucap Mira lembut berbisik di telinga Tom.
"tuan tubuh mu sangat dingin,, nyaman sekali" Mira mengeratkan pelukan nya.
Tom dengan sadar membuka pakaian Mira kacamata dan segitiga pengaman dengan maksud masih ingin merendam Mira supaya hati yang terasa panas akan mendingin di guyur air shower.
Namun lagi lagi perkiraan nya salah, setelah gaun cantik itu di buka maka terpampang lah pemandangan indah. Mira dengan cepat memeluk Tom dan membelai dada bidang Tom yang basah namun masih terbungkus oleh kemeja putihnya. Dengan terburu-buru Mira membuka kancing demi kancing Tom.
Tom dengan reflek mencekram kedua tangan Mira dan mendorongkan Mira tersudut di dinding. Keadaan Mira yang sudah tidak tahan lagi dengan lancang menyerobot bibir sexy Tom.
Ooh tidak Mira, itu hal yang paling sensitif bagi Tom.
Tom langsung ketularan Mira, Tom membalas pangutan Mira dengan lihai nya. Mira yang merasa di layani langsung dengan rakus melahap Tom. jadi keduanya sekarang sama-sama kesetanan.
__ADS_1
Keduanya sudah tanpa benang sehelaipun, entah bagaimana itu bisa terjadi dan sekarang Tom membawa ke tempat tidur.
Mira tersenyum penuh kemenangan akhirnya keinginannya terwujud. sebenarnya bukan keinginan Mira.
Mira seorang gadis baik. perkataannya santun, pakaian dan tingkah lakunya sangat sopan. dia mengambil ilmu keperawatan dengan susah payah, pasalnya kedua orang tuanya tidak menyetujui keinginan Mira.
Kedua orangtuanya menginginkan Mira kuliah mengambil ekonomi atau keuangan dengan maksud bisa bekerja di perusahaan perusahaan besar dengan gaji yang lumayan untuk kipasan.
Mereka pikir jadi perawat hanya menjadi pembantu pasien dan pembantu dokter, membersihkan darah atau pun luka pasien.
Karena berlainan paham itu maka Mira memutuskan untuk ngekos dan menguliahkan diri sendiri tanpa bantuan kedua orang tuanya meskipun mereka tinggal di kota yang sama.
"tuan... " panggil Mira sedang suara yang lembut dan halus sehingga seperti berbisik, Mira sudah tidak kuat lagi menahan gejolak yang ada di pangkal paha nya.
Tom menuntun permainan yang diciptakan Mira. Dia menggiring Mira naik turun. Mira menjerit saat Tom menerobosnya.
"aahhkk... tuan pelan sedikit.. sakit" Mira berbisik di telinga Tom sehingga bukan membuat Tom melembutkan perbuatannya namun membuat Tom semakin cepat naik turun dan menekan kuat ke dalam.
Cairan kental milik Tom itu masuk ke dalam rahim Mira. Tom menjerit puas. ku kira selesai aksinya ternyata itu baru permulaan, Tom memacu terus tunggangan nya. Mira dan Tom merasa nikmat bersama. Tom berkali-kali memuntahkan laharnya.
"tuan asisten... " keluh kesah Mira nikmat
"kau mengenal ku?" tanya Tom yang masih di atas tubuh Mira lalu melempar tubuhnya kesamping Mira. Tom masih memeluk Mira, begitu pun Mira dia menatap dengan tatapan teduh ingin minta kembali, rasanya masih kurang.
"tuan asisten yang galak, ketus, tukang marah, es batu, tapi tampan.. " jawab Mira manja dengan tangan bergerilya kemana-mana. Tom yang juga masih kurang, terbakar emosi juga. sekarang mereka saling gempur hingga kelelahan dan tertidur.
Sementara itu, kakek Ronald, Jeong dan Syakila sudah sampai di rumah utama. Ketiga nya sampai di rumah pukul sebelas malam.
Jeong dan Syakila langsung mengantar kakek ke kamarnya untuk istirahat.
Setelah mengantar kakek Syakila masuk kamarnya yang telah di siapkan pelayan atas perintah tuan Ronald. Syakila mengganti gaunnya dengan pakaian tidur yang membuat nya sedikit lebih rileks.
"Kak, bagaimana kabar Mira ya adek telpon tapi hapenya enggak di angkat?" tanya Syakila yang duduk di sebelah Jeong yang sedang santai menonton televisi.
__ADS_1
"dia akan baik-baik saja, mungkin sedang istirahat, tenang.. ada om Tom yang menjaga nya" jawab Jeong mencoba menenangkan Syakila.
"iya.. adek juga sedikit lega karena ada om Tom" ucap Syakila lembut.
"kak, adek lebih suka adek yang dulu seorang dokter bedah tanpa embel-embel di belakangnya" Syakila menarik napas panjang
"hidup tenang, kemana saja bebas tanpa takut dengan apapun.. " ucap Syakila lirih sambil merebahkan kepalanya ke bahu kekar Jeong.
"sabarlah.. mungkin kakek ada rencana untuk semua ini" Jeong mengusap lembut rambut pendek Syakila.
"kakak juga baru tau tadi pagi ketika hendak mengizinkan adek dengan dokter Broto, kebetulan beliau tidak ada di tempat jadi kakak telpon kakek, kata kakek tidak apa dia sudah izin pada pak Broto untuk mempersiapkan CEO yang baru" jelas Jeong.
"kenapa kakek melakukan semua ini?" Syakila menatap Jeong, pandangan mereka saling bertemu
"adek sungguh iklas menyelamatkan kakek kemaren, tidak ada terbesit sedikitpun untuk pamrih yang adek harapkan" Syakila sedih tatapan sedikit teduh dia merasa serba salah atas keputusan kakek Ronald.
"kakek tau adek iklas, kalau tidak pasti sudah dari dulu beliau melemparkan sekoper duit pada adek" bujuk Jeong dan membela kakek nya.
"sama aja kak,, entah adek merasa sangat rendah sekali di mata kakek seolah-olah adek menginginkan semua ini?" biasa Syakila mulai melow
"tidak sama sayang.. kakek juga bingung ingin menjelaskan pada adek.. dia takut melukai perasaan adek, kakak sangat paham dengan kakek" jelas Jeong sambil menguatkan hati Syakila.
"ehhmm kayaknya bener kata kakek kita harus melakukan investigasi pada asisten Tom, dia pasti tau semuanya, dan apa rencana kakek ke depan" usul Jeong sambil sedikit menambah gurauan di sana.
"iya.. adek setuju!" jawab Syakila semangat
"udah ah adek mau tidur" Syakila berdiri dan hendak melangkah
"ciumnya mana?" tanya Jeong manja menggoda Syakila.
"good night" Tanpa sadar Syakila mencium pipi Jeong. Syakila menanggapi dengan serius candaan Jeong. mungkin memang benar suasana hatinya malam ini sedang eror pasal menjadi CEO.
Jeong menarik tangan Syakila kuat dan jatuhlah Syakila dalam pelukan Jeong
__ADS_1
"bukan pipi! sekali sekali bibir kenapa??" bujuk Jeong
"bibirnya nanti kalau sudah sah" dengan wajah semerah tomat Syakila pergi meninggalkan Jeong masuk ke kamarnya.