Cinta Jeong Wibowo

Cinta Jeong Wibowo
** mantan rival **


__ADS_3

Pagi senin ini mentari bersinar cerah mengawali awal pekan. Kerasnya hidup di perkotaan di sebagian orang berlalu lalang mencari rezeki. Hari senin hari yang paling sibuk dalam tiap minggu nya. Hari senin bila di sebuah sekolah sibuk mengadakan upacara bendera. Hari senin di instansi pemerintah atau swasta biasanya rutin melaksanakan apel pagi.


Begitu pun dengan Jeong tepat jam tujuh pagi dia sudah siap menjemput Syakila. Hari ini Syakila mulai masuk kerja lagi, selama dua minggu Syakila tidak masuk kerja dr. Broto Suseno selaku dirut Teratai Medica merekrut dokter bedah baru. dr. Lira adalah dokter yang ditugaskan untuk membantu tim dokter dalam sebuah operasi di Teratai Medica. dia adalah keponakan dr. Broto yang kuliah di Australia. orangnya cantik tinggi putih namun tabiat nya sedikit sombong mungkin karena berlatarbelakang orang tua yang berada.


Jeong tiba di depan rumah sakit


"kakak langsung aja ya dek" ucap Jeong, Syakila mengangguk dan tersenyum


"adek turun dulu" Syakila pamit dan bersaliman dengan Jeong, dia membuka pintu mobil dan turun.


"Hati-hati, nanti kakak telpon ya" Jeong membuka kaca jendela mobilnya di sisi Syakila


"ya kakak juga hati-hati" pinta Syakila, Jeong melajukan mobilnya menuju perusahaan Reza tempat dia mengais rezeki.


Di sisi lain ketika Syakila tiba di rumah sakit sepasang mata memandang ke arah Syakila yang tadi sedang berpamitan dan turun dari mobil mewah Jeong.


"seperti Syakila? apa mungkin dia kerja di sini? keren dianter pake mobil mewah? bukannya dia horang kismin? lelaki mana yang mau dengannya?" banyak pertanyaan yang hinggap dalam benak seorang dr. Lira.


Syakila tiba di lobi rumah sakit.


"selamat pagi dokter Syakila" sapa seorang resepsionis rumah sakit tersebut.


"pagi mbak Rani" jawab Syakila ramah

__ADS_1


"gimana keadaannya? sudah siap perang nih?" tanya resepsionis itu yang bernama Rani


"alhamdulillah sehat, masa perang sih kayak kita ini prajurit aja" jawab Syakila lagi "udah ah, masuk dulu ya" pamit Syakila.


Syakila berjalan menuju ruangannya selama kaki melangkah dokter imut itu selalu menampakkan senyum manisnya jika berpapasan dengan siapapun. Sampai di depan ruangannya.


"Mira.. " panggil Syakila pada seorang wanita yang ada di depan ruangan hendak pergi menjauh. wanita itu berhenti dan berbalik.


"oo, maaf, saya salah orang saya kita anda suster saya" Syakila meminta maaf pada orang tersebut yang ternyata bukan susternya Mira. Syakila tersenyum namun lawan yang di ajak cerita diam saja tanpa ekspresi.


"Liraa,, iya kamu Lira kan?" tanya Syakila pada wanita tersebut ketika dia ingat dan mengenali wanita tersebut.


"Syakila, Syasa benerkan?" jawab wanita itu ternyata tidak lain adalah Lira dokter bedah baru. Sebenarnya Lira sudah tau jika itu adalah Syakila dia pura-pura lupa aja. Mereka pun saling berpelukan.


"udah hampir dua minggu deh" jawab Lira


"apa kamu dokter yang di rekomendasi kan oleh dr.Broto" tanya Syakila


Lira mengangguk "beliau paman aku, adiknya mami" jawab Lira


"oooo, gimana kabarnya?" tanya Syakila lagi


"baik, aku juga baru balik dari Australia langsung kerja di sini, belum sempat kemana mana juga belum jumpa dengan teman teman" jawab Lira.

__ADS_1


Ternyata kedua wanita cantik ini adalah teman satu sekolah di waktu SMA. keduanya sama sama pintar, mereka berdua selalu berebut peringkat kelas sewaktu masih sekolah. selalu berebut siapa yang akan di utus untuk mewakili olimpide dan selalu jadi idola juga dalam urusan cowok. Kalau masalah akademik memang Syakila yang selalu menang dari Lira. namun jika urusan cowok memang Syakila tidak memikirkannya, dengan otak yang encer dan muka yang imut banyak kaum cowok mengidolakan Syakila namun lagi lagi Syakila hanya fokus dengan belajar dia merasa semua hanya berteman biasa saja karena Syakila juga sudah menetapkan dalam hati belum mau berpacaran dia masih harus fokus dengan beasiswa yang di kejarnya. Karena Syakila juga tidak mau terlalu banyak membebani biaya sekolah atau kuliahnya pada sangat kakek. Namun beda dengan apa yang dirasakan Lira, dia selalu merasa menang jika dapat mengambil perhatian setiap cowok cowok yang ingin mendekati Syakila. Dan terakhir ketika mereka sama-sama ikut beasiswa ke perguruan tinggi negeri kedua nya memilih jurusan yang sama yaitu jurusan kedokteran universitas Indonesia dan hasilnya hanya Syakila yang di terima sedangkan Lira gagal, namun karena Lira anak orang kaya maka dia mengambil universitas yang ada di Australia.


"dimana ruangan mu?" tanya Syakila


"tuh.. di sebelah ruangan kamu!" jawab Lira


"bearti kita bertetangga dong, udah masuk dulu, mau mampir gak?" ajak Syakila


"entar aja deh" Lira pun masuk keruangan dia sendiri. Lira masih memikirkan penampilan Syakila yang tadi dia pakai dan memang hari ini dia hanya memakai pakaian yang biasa yang dia pakai yang biasa dia beli di toko pakaiannya sendiri. Syakila hanya memakai jam tangan yang di belikan Jeong kemarin saat liburan kemaren. Sewaktu hendak pulang Jeong memang mengajak Syakila mampir sebentar di salah satu mall terbesar yang ada di kota ini, sebenarnya sih karena kebetulan memang rute jalannya melewati mall tersebut jadi sekalian aja mampir. mereka membeli kebutuhan masak dan mengisi lemari esnya, Jeong berpikir selama seminggu ini akan makan malam di rumah Syakila karena memang jadwal Syakila minggu ini sip pagi, dan ketika mereka hendak pulang Jeong mengajak Syakila mampir sebentar ke toko jam tangan dan Jeong membelikan Syakila sebuah jam tangan mahal keluaran terbaru dari merk terkenal.


"penampilan masih biasa saja, tapi jam tangan itu jam tangan mewah dari merk terkenal, apa dia bosan hidup miskin dan jadi simpanan orang kaya ya?" pikir Lira dan semua pikiran Lira tidak ada yang positif nya semua pikirannya hanya menebak Syakila yang tidak tidak.


Siang ini jam istirahat Jeong menjemput Syakila untuk makan siang bareng di luar. Jeong menelusuri jalan rumah sakit. namun dari kejauhan Jeong sudah melihat Syakila berjalan menuju keluar. Mereka saling menuju dengan senyum simpul, yaah namanya lagi jatuh cinta semua serba indah selalu senyum senyum sendiri. Pegang hape senyum, makan senyum, mau tidur senyum, pokoknya kalau cinta sudah melekat pikiran sudah jadi kayak orang gila.


Ketika kedua nya sampai Jeong langsung mengulurkan tangannya "yukk" ajak Jeong. dan uluran tangan itu pun di sambut lembut oleh Syakila.Mereka keluar dengan Jeong menggenggam jemari Syakila. sebenarnya Syakila malu dan risih namun Jeong sama sekali tidak melepaskan genggaman tangan nya.


Dan dari kejauhan lagi lagi dr. Lira memperhatikan mereka dengan hati yang tidak suka.


"sok sok an" pikirnya. Lira sangat penasaran dengan kehidupan Syakila. entah kenapa mungkin karena terlalu sering dikalahkan Syakila jadi dia selalu merasa apa yang dilakukan Syakila itu merupakan urusannya.


"ada apa dr. Lira" tanya suster Mira. Mira lalu melihat kearah mana dr Lira memandang


"ooo, itu dr. Syasa dengan pacarnya" jelas suster Mira

__ADS_1


__ADS_2